TribunKaltim/
Home »

News

» Salam

SALAM TRIBUN

Sungai Cheonggyecheon

Di tengah kota Soeul, Korea Selatan, mengalir sebuah sungai kecil, Cheonggyecheon. Sama seperti sungai Karang Mumus yang mengalir di kota Samarinda

Sungai Cheonggyecheon
DOK TRIBUNKALTIM

Salam Tribun

Sungai Cheongyecheon
Oleh ACHMAD BINTORO

Di tengah kota Seoul, Korea Selatan, mengalir sebuah sungai kecil, Cheonggyecheon. Sama seperti sungai Karang Mumus yang mengalir di kota Samarinda dan bermuara di Mahakam. Cheongyecheon mengalir sejauh 8,14 kilometer, dan bermuara di sungai Hanggang.

Pekan lalu saya berkesempatan ke sana. Sungainya bersih. Satu jam menyusuri sungai itu, saya tak menemukan seonggok pun sampah. Airnya jernih. Saya dapat melihat bebatuan dan pasir di dasar sungai. Ikan-ikan berenang dengan gesitnya. Awalnya, saya mengira ini adalah kolam atau sungai buatan. Dugaan saya ternyata keliru.

Dulu, Cheonggyecheon tak ubahnya Karang Mumus. Bahkan jauh lebih parah. Sungai itu, setelah perang saudara (1950-1953), menjadi lokasi pemukiman kumuh kaum migran yang ingin mengadu nasib di ibukota. Foto-foto lama yang terpampang di Museum Seoul menunjukkan betapa kumuh dan kotornya sungai itu. Nyaris sama keadaannya kalau kita melihat SKM di belakang pasar induk Segiri.

Ribuan gubuk warga berdinding kayu, triplek, dan beratap plastik atau seng berhimpit di sepanjang bantaran. Lengkap dengan tajak-tajak kayu jamban yang kakinya menancap di dasar sungai. Selama berpuluh-puluh tahun, sungai itu dipaksa menjadi tong sampah raksasa bagi segala macam sampah penduduk yang tinggal di tepiannya.

Pada 1978, seiring dengan modernisasi yang melanda Korsel, kekumuhan Cheonggyecheon tak lagi terlihat. Bukan digusur. Rupanya, pemerintah sengaja membangun jembatan layang (Chenggye overpass) tepat di atas sungai. Mengurai kemacetan lalu lintas, sekaligus untuk menutupi kekumuhan di dalamnya.

Trik ini, dalam skala kecil, juga dilakukan Pemkot Samarinda. Baliho besar dipasang di sebelah jembatan gang Nibung, jalan Dr Sutomo untuk menutupi sisi kumuh bantaran SKM. Kadang terpampang wajah-wajah kandidat walikota atau gubernrur. Entah apa yang terpikirkan di benak para kandidat itu saat mereka memasang baliho-baliho itu.

Selama 25 tahun, sungai Cheongyecheon seolah menghilang dari kehidupan warga Seoul. Tertutup rapi oleh dua lapis jalan beton yang kokoh membentang di atasnya. Kenyataannya, air hitam masih mengalir di sepanjang Cheongyecheon menuju sungai Han.

Barulah pada 2003, walikota Seoul saat itu, Lee Myung-bak melakukan perubahan revolusioner. Lee lahir dari keluarga urban yang miskin. Seperti ia tulis dalam buku biografinya, untuk membiayai kuliahnya di Universitas Korsel, ia harus menjadi penyapu jalanan paruh waktu. Setahun setelah dilantik, Lee melakukan restorasi pada sungai Cheonggyecheon. Ia ingin mengembalikan Cheonggyecheon kembali pada statusnya semula, sebagai anak sungai kecil yang mengalir jernih di jantung ibukota.

Halaman
12
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help