Seni Budaya

Wow. . . Rumah Adat Suku Korowai Ini Dibangun di Atas Pohon Setinggi 50 Meter

Dalam postingan tersebut terlihat seorang bocah Suku Korowai sembari menggendong seekor anjing sedang memanjat tangga menuju rumah.

Wow. . . Rumah Adat Suku Korowai Ini Dibangun di Atas Pohon Setinggi 50 Meter
Facebook
Rumah adat Suku Korowai di pedalaman Papua. 

TRIBUNKALTIM.CO -- Bhineka Tunggal Ika, semboyan Indonesia ini secara harfiah berarti berbeda-beda tetapi pada tetap satu sangat jelas menggambarkan keberagaman yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta.

Indonesia terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan yang tersebar dari Sabang-Marauke.

Seperti suku Korowai yang hidup terasing di pedalaman Papua. Suku yang bisa dibilang baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu ini menuai kekaguman dari para netizen, setelah akun Facebook Suara Papua mengunggah potret kehidupan Suku Korowai.

Dalam postingan tersebut terlihat seorang bocah Suku Korowai sembari menggendong seekor anjing sedang memanjat tangga menuju Rumah Adat.

Baca: Semakin Panjang Leher Wanita Ini Semakin Dibilang Cantik, Inilah Keunikan Suku Karen

Tidak seperti rumah panggung suku Dayak di Kalimantan, rumah suku ini dibangun di atas pohon yang mencapai pada ketinggian 50 meter di atas permukaan tanah.

"Suku Korowai adalah suku yang baru ditemukan keberadaannya sekitar tahun 1980, di pedalaman Papua, dengan populasi sekitar 3000 orang. Suku terasing ini hidup di rumah yangg dibangun di atas pohon, biasa disebut "Rumah Tinggi", yg bisa mencapai ketinggian 50 m dari permukaan tanah," tulis keterangan foto pada unggahan tersebut yang dilansir Tribunkaltim.co melalui laman Facebook Suara Papua-Saya Indonesia, Jumat (7/10/2016).

Bukan tanpa alasan, Suku Korowai mendirikan rumah di ketinggian hingga mencapai 50 meter tersebut yakni untuk melindungi mereka dari bencana alam seperti banjir, kebakaran ataupun menghindari serangan hewan buas.

Dilansir dari laman Smithsomianmag.com, hasil laporan seorang jurnalis bernama Paul Raffaele asal Sydney, Australia yang pernah berkunjung langsung dan menetap bersama Suku Korowai.

Paul menjelaskan meskipun hanya tinggal selama empat hari namun ia berhasil menjabarkan perjalanannya sangat detail.

Halaman
12
Penulis: Ayuk Fitri
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help