TribunKaltim/

Berita Pemkab Kutai Timur

Serunya Nonton Bareng Film Diary of Sara, Sosialisasikan Informasi dan Bahaya HIV/AIDS

Namun kenyataannya, stigma yang terjadi, pengidap HIV AIDS selalu dikucilkan akibat kurangnya informasi yang didapat masyarakat.

Serunya Nonton Bareng Film Diary of Sara, Sosialisasikan Informasi dan Bahaya HIV/AIDS
HO_HUMAS SETKAB KUTIM
Suasana nonton bareng film Diary of Sara yang berisi tentang informasi seputar HIV/AIDS di GSG. 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Upaya pencegahan penyebaran dan penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) sebagai penyebab Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) perlu dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui sosialisasi verbal atau media cinematografi sebuah film.

Sehubungan hal itu, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) melalui Dinas Kesehatan bekerja sama dengan PT Borneo Etam Sukses Tangguh (BEST) menggelar acara nonton bersama film “Diary of Sara” di Ruang Akasia Gedung Serbaguna Bukit Pelangi, Senin (19/12).

Sekretaris Kabupaten Irawansyah yang hadir membuka acara dimaksud berharap melalui pemutaran film “Diary of Sara” menjadi semangat dan motivasi masyarakat, terutama bagi generasi muda di Kutim untuk menyampaikan bahaya dan pencegahan HIV AIDS.

(Baca juga: Wabup Ajak Bela Negara dengan Memberantas Narkoba)

“Dapat memotivasi bagaimana cara menghindari HIV AIDS. Karena di Kutim sendiri menurut informasi dari Dinas Kesehatan cukup banyak (penderita HIV AIDS). Jangan sampai terjadi lagi. Dan tentunya kita semua menjadi faktor penggerak untuk memberikan penyuluhan serta pencegahan pada masyarakat kita,” jelas mantan Sekretaris DPRD Kutim ini.

Kepala Dinas Kesehatan dr Aisyah menjelaskan, penyakit AIDS bersifat menular dan ada di sekitar. Di Kutim, sambungnya, kasus HIV AIDS dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Tentunya hal tersebut memprihatinkan. Keadaan itu sangat dipengaruhi oleh era globalisasi dan modernisasi.

“(Pemutaran) Film Diary of Sara ini bertujuan untuk menyampaikan (informasi) bahwa HIV AIDS itu merupakan penyakit yang perlu diwaspadai. Masyarakat perlu waspada dan penting untuk mendapat informasi yang benar,” katanya.

Dijelaskan olehnya penyakit HIV AIDS merupakan penyakit yang menular tapi dapat dikendalikan. Namun kenyataannya, stigma yang terjadi, pengidap HIV AIDS selalu dikucilkan akibat kurangnya informasi yang didapat masyarakat.

Sebagai bentuk penanggulangan, Dinas Kesehatan Kutim bekerjasama dengan KPA, rumah sakit, puskesmas, dan klinik yang ada membangun sarana, program fasilitasi dan solusi. Lebih dari separuh Puskesmas di Kutim telah mempunyai sarana klinik Voluntary Counseling Test (VCT), yakni klinik sukarela yang bersifat confidential dan secara lebih dini membantu orang untuk mengetahui status HIV.

Untuk diketahui, penularan HIV bisa terjadi melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap HIV/AIDS. Berhubungan seks dengan pasangan yang berganti-ganti dan tidak menggunakan alat pelindung (kondom).

Kontak darah/luka dan transfusi darah yang sudah tercemar virus HIV, penggunaan jarum suntik atau jarum tindik secara bersama dan bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV. Bisa juga dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya. HIV tidak menular melalui gigitan nyamuk, orang bersalaman, berciuman, orang berpelukan, makan bersama, dan tinggal serumah.

Pemutaran film “Diary of Sara” kali ini merupakan rangkaian peringatan Hari AIDS se-dunia 2016, 1 Desember lalu. Film ini diproduksi dan diperankan oleh putra-putri Kutim. Tergabung dalam Best Production serta didukung oleh rumah produksi nasional, Dawai Cinema Production, dan disutradarai oleh Hendra Wijaya. (advertorial/hms11)

Editor: Kholish Chered
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help