Berita Pemkab Kutai Timur

Jumlah Santri TK dan TPA Berkembang Pesat, Langkah Awal Bentuk Karakter Anak

“Kita mempunyai tantangan yang besar. Ada tiga sistem pendidikan, pertama pengetahuan, kedua keterampilan, dan ketiga sikap serta perilaku"

Jumlah Santri TK dan TPA Berkembang Pesat, Langkah Awal Bentuk Karakter Anak
HO_HUMAS SETKAB KUTIM
Wisuda santri cilik sebagai cikal bakal generasi berkarakter Islami yang berkarakter kuat berbasis iman dan ketaqwaan. 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Dunia pendidikan bagi anak-anak sangatlah penting. Selain berguna dalam menentukan bakat, minat, serta karakter juga sebagai pendukung tumbuh kembang beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Memasukkan anak mengikuti kelompok belajar seperti TK/TPA bisa menjadi langkah awal untuk pembentukan karakter, keimanan, dan ketaqwaan. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) memberi perhatian besar terkait pengembangan karakter keagamaan bagi anak sejak dini.

“Untuk TK/TPA ini kemajuan jumlah santrinya sangat pesat. Untuk seluruh Kutim kurang lebih (mencapai) 24.000. Alhasil pemberantasan buta huruf, terutama membaca Al-Quran boleh dikatakan berjalan dengan sangat baik. Tercatat guru yang mengajar di TK/TPA lebih dari 2.000. Kita punya ketentuan untuk setiap 12 murid itu disediakan satu guru yang akan mendapatkan insentif dari Pemkab Kutim melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” tutur Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Iman Hidayat.

Karena dampak positifnya sangat luar biasa, Iman berharap kebijakan anggaran di sektor ini tidak ikut terpangkas. Selain itu pada acara pelantikan Dewan Pimpinan Kecamatan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPK BKPRMI) di Gedung Serba Guna, Bukit Pelangi, Iman mengingatkan pihak organisasi tentang tantangan besar meningkatkan tingkat pendidikan agama yang baik kepada generasi muda sejak dini.

“Kita mempunyai tantangan yang besar. Ada tiga sistem pendidikan, pertama pengetahuan, kedua keterampilan, dan ketiga sikap serta perilaku. Berdasarkan evaluasi kami, TK/TPA dilihat dari sisi keterampilan atau skill sudah oke dan merata. (Namun) dalam sikap yang belum. Contoh berdasarkan hasil pantauan dilapangan, pada saat tiba kumandang adzan terdengar, (anak) belum bersikap sempurna, masih bermain. Padahal seharusnya menjawab bunyi azan dengan doa dan sikap sempurna,” jelasnya.

Berikutnya, saat dilaksanakan shalat berjamaah setelah takbir, ternyata anak-anak juga masih bermain. Saat pembacaan surah Al-Fatihah dan aamiin barulah sedikit tertib.

Menurut Iman, hal tersebut memang bagian dari proses pembelajaran. Maka dari itu, dia mengajak semua pihak untuk bekerja sama meningkatkan kualitas akhlak generasi muda dengan saling berkontribusi. (advertorial/hms7)

Editor: Kholish Chered
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help