TribunKaltim/

Defisit APBD

Pasrah Bisa Kembali Jadi Honorer, Pria Ini Buka Usaha Laundry

Agus pesimis bisa kembali bekerja lantaran tidak punya ijazah termasuk akta kelahiran.

Pasrah Bisa Kembali Jadi Honorer, Pria Ini Buka Usaha Laundry
Net
Ilustrasi 

TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG - Agus Slamet (35), pegawai honorer di Kelurahan Bontang Baru yang dirumahkan per 1 Januari 2017 hanya bisa pasrah.

Kebijakan pemerintah mensyaratkan setiap honorer mengajukan lamaran kerja baru dengan tambahan syarat surat keterangan bebas narkoba dan SKCK membuat Agus patah arang.

Syarat ini dirasa berat bagi Agus yang tak sempat menyelesaikan bangku Sekolah Dasar.

Ditemui Tribun di rumah kontrakannya, Jl Awang Long, Bontang Baru, Agus pesimis bisa kembali bekerja lantaran tidak punya ijazah termasuk akta kelahiran.

"Syarat buat SKCK ada yang baru, harus ada akta kelahiran, sedangkan saya tidak punya akta," katanya.

Sejak kecil, ia mengaku tak memiliki akta kelahiran, disebabkan ia diangkat orangtua asuh.

Baca: Demi Perpanjangan Kontrak, Honorer Antre Tes Kesehatan

Baca: Batal Rumahkan 747 Pegawai Non-PNS, Walikota Neni Pilih Potong Gaji Honorer

Tak pernah membuat akta kelahiran, dikarenakan kedua orangtua angkat Slamet tergolong ekonomi lemah.

Pun begitu, ia tak lantas pasrah begitu saja. Dalam waktu dekat, ia berencana akan meminta bantuan ke kantor tempatnya bekerja untuk memberikan kebijakan soal itu.

"Akan saya usahakan. Kalau dipertahankan saya syukur, kalau enggak dipertahankan juga mau apalagi. Tapi Pak Lurah sempat bilang akan mempertahankan saya. Semoga saja," harapnya.

Agus sendiri mengaku sudah sepekan tak masuk kerja. Untuk membiayai hidup bersama istri Susiani (33), pria asal Malang itu tak kehabisan akal.

Di rumah berukuran 7x4, Agus dan istrinya membuka usaha laundry rumahan. Untuk 1 kilogram pakaian, ia bandrol seharga Rp 4 ribu. Jika ingin disetrika, ia patok Rp 5 ribu.

Meski tak sebanyak upah yang dia dapatkan sebagai honorer, dari hasil jasa laundry itu ia pakai untuk belanja sehari-hari dan jajan anaknya Jefri Febri Wahyudi yang masih berusia 9 tahun.

Dalam sehari, pengguna jasa laundry miliknya tak menentu, terkadang pelanggan kosong.

"Ya, paling banyak mungkin Rp 40 ribu. Ya buat makan dicukup-cukupi aja, yang penting kita bersyukur dan tidak minta-minta kan," ucap Susiani. (*)

Penulis: Udin Dohang
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help