TribunKaltim/

Jauh dari Kota, Orangtua Murid PAUD di Mentarang Bayar Iuran Sekolah Pakai Ayam dan Beras

Namun, bagi guru PAUD dan TK di Lidung Keminci, Kecamatan Mentarang upah guru bukan masalah yang diutamakan.

Jauh dari Kota, Orangtua Murid PAUD di Mentarang Bayar Iuran Sekolah Pakai Ayam dan Beras
TRIBUN KALTIM/PURNOMO SUSANTO
Dua guru, Afiana dan Thiana saat mengajar murid PAUD di Desa Lidung Keminci, Mentarang, Kabupaten Malinau, menyanyi sebelum masuk ke kelas. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Tidak semua orangtua bisa membiayai sekolah anaknya menggunakan uang.

Seperti halnya murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Lidung Keminci, Kecamatan Mentarang, Malinau. Ada orangtua murid terpaksa membayar iuran bulanan dengan ayam sebagai pengganti uang.

Peralihan kewenangan pengurusan PAUD dan Taman Kanak‑kanak (TK) kepada Pemkab Malinau membawa angin segar bagi pengelola PAUD dan TK. Paling tidak, upah guru PAUD dan TK sama rata tidak berbeda.

Namun, bagi guru PAUD dan TK di Lidung Keminci, Kecamatan Mentarang upah guru bukan masalah yang diutamakan.

Pembayaran uang tidak selalu diterima setiap bulan oleh sekolah.

Kepala PAUD Lidung Keminci, Afiana mengungkapkan, sejak 2006 hingga sekarang ia bersama beberapa guru menerima pembayaran iuran bulanan dari orangtua murid berupa barang, seperti hasil pertanian dan peternakan.

"Sejak PAUD ini berdiri, kami tidak membatasi orangtua murid membayar menggunakan apa pun. Kami menetapkan iuran bulanan Rp 5 ribu. Baru‑baru ini, kami menaikkan iuran bulanan Rp 10 ribu. Tapi, kami tidak memaksa semua orangtua murid kalau tidak bisa membayar iuran bulanan," ujarnya.

Terkadang, ada pula orangtua murid yang kesulitan ekonomi membayar iuran dengan hasil panen di ladang atau sawah, seperti beras. Bukan hanya itu, hasil peternakan berupa ayam dan bebek kerap kita terima.

Menjalin kebersamaan dan keakraban, hasil pertanian dan peternakan yang diberikan kepada guru bukan semata‑mata dinikmati sendiri.

Afiana mengungkapkan, ia bersama guru lainnya terkadang masak bersama di sekolah. Bahan masakan itu berasal dari hasil iuran dari orangtua murid. Kemudian, bersama murid dan orangtua makan bersama.

"Iuran kan bisa berupa beras, binatang ternak. Nah, setelah terkumpul, kita bersama‑sama guru‑guru lain masak. Setelah selesai masakannya, kita makan bersama dengan orangtua dan murid. Ini sering kita lakukan. Paling penting menurut kami itu, kebersamaan dan keakraban selalu terjalin," tutur Afiana lagi.

Seorang guru PAUD Lidung Keminci, Thiana juga mengatakan, kepuasan batin saat keakraban dan kebersamaan itu terjadi sangat besar.

Terlebih, PAUD ini berada di daerah pedesaan. Tentu, di desa selalu identik dengan keakraban dan kebersamaan, sehingga, nilai keakraban dan kebersamaan tersebut dapat mengalahkan nilai uang.

"Memang berbeda kalau di kota sama desa. Kalau di kota itu, pasti memerlukan uang banyak. Kalau di desa yang penting bisa makan sehari‑hari sudah cukup. Tapi kalau beberapa tahun ini, kita juga bisa mendapatkan hasil bulanan mencapai Rp 1 juta. Selain pembagian upah hasil iuran, kita juga dapat upah dari desa," imbuhnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help