TribunKaltim/

Polisi Tanggung Biaya Pemakaman Pemulung yang Bawa Uang Puluhan Juta Rupiah

Polsek Nunukan juga akan menanggung biaya penguburan Mustamin di pemakaman umum Kampung Jawa.

Polisi Tanggung Biaya Pemakaman Pemulung yang Bawa Uang Puluhan Juta Rupiah
Kontributor Nunukan, Sukoco
Gubuk tempat tinggal Mustamin. Dari tas pinggang yang disimpan di perut mantan deportan TKI dari Malaysia yang meninggal saat memulung ini warg amenamukan uang puluhan juta rupiah. 

TRIBUNKALTIM.CO - Polsek Nunukan Kota, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, akan menanggung biaya pemakaman seorang pemulung yang meninggal dunia saat memulung, Selasa (7/2/2017) malam.

Kapolsek Nunukan Kota AKP M Sholeh Wahidi mengatakan, uang puluhan juta rupiah dalam tas pinggang milik Mustamin bin Manuhung (65) tersebut tidak akan digunakan sedikit pun.

Ia enggan menyebutkan jumlah pasti uang tersebut untuk menghindari adanya pihak-pihak tertentu yang menyaru sebagai keluarga korban.

"Sebut saja puluhan (juta). Uangnya kita amankan dan nanti akan kita serahkan kepada keluarganya," kata Sholeh, Rabu (8/2/2017).

Kini uang milik korban itu diamankan di Polsek Nunukan Kota. Sholeh menyatakan bahwa uang tersebut tidak akan digunakan untuk biaya perawatannya di puskesmas maupun RSUD Nunukan.

Polsek Nunukan juga akan menanggung biaya penguburan Mustamin di pemakaman umum Kampung Jawa.

(Baca juga: Sudah Setor Rp 280 Jutaan Pada Oknum Tentara, Mimpi Fajar Jadi Anggota Satpol PP Pupus )

"Kapolres instruksikan uangnya jangan disentuh. Untuk penguburan, Polres membantu," kata Sholeh.

Mustamin ditemukan warga tergeletak di sekitar Jalan Yos Sudarso, Nunukan, Selasa sore kemarin, setelah mengambil barang bekas di tong sampah milik salah satu toko.

Karena korban tak sadarkan diri, warga kemudian memberikan pertolongan.

Saat itulah warga menemukan uang dalam jumlah banyak di dalam tas pinggang yang disembunyikan di balik baju Mustamin. Uang tersebut diduga hasil memulung Mustamin selama bertahun tahun.

Dari pengakuan Samsudin, pemilik warung dekat gubuk korban, Mustamin telah hampir 10 tahun tinggal di gubuk yang dibangunnya di tanah kosong samping Pelabuhan Lintas Batas Laut PLBL Liem Hie Djung.

Saat ini polisi masih mencari keluaga Mustamin. Dari paspor yang didapatkan polisi di bawah tempat tidur Mustamin, mantan tenaga kerja Indonesia itu tercatat sebagai warga Kecamatan Tellu Siatinge, Kota Bone, Sulawesi Selatan.

"Kita mencoba menginformasikan kepada kerukunan di sini dan juga menghubungi Polsek Tellu Siatinge. Semoga keberadaan keluarganya segera ditemukan," kata Sholeh. (Kompas.com)

Editor: Kholish Chered
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help