TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Mendidik Generasi Entrepreneur

Memupuk generasi entrepreneur tak semudah membalikkan telapak tangan. Harus dididik sedari usia dini, dan bukan hanya dari sekolah

Mendidik Generasi Entrepreneur
tribunkaltim.co/muhammad alidona
Ilustrasi 

Oleh: Ahmad Rifandi, SE
Guru MTs Nurul Hikmah Sangatta
rifandi_88@yahoo.com

Saat beberapa daerah Indonesia menyemarakkan pesta demokrasi, maka saat itulah kita tersadar akan sebuah wacana klasik yang dijanjikan, yakni: Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. Wacana ini selalu hadir sebagai "jargon" menarik di setiap kampanye pasangan calon. Dan ketika menduduki jabatan, upaya untuk arah tersebut tak semudah lidah berucap.
Dengan keterbatasan daya, pemerintah daerah nyatanya tak bisa mengendalikan maraknya angka pengangguran mencapai 136.653 jiwa di Kaltim (data BPS, Agustus 2016), polemik kemiskinan, dan deretan masalah kesejahteraan lainnya. Tak ada jalan lain selain menumbuhkan kemandirian masyarakat itu sendiri. Penggodokan ini mestinya dimulai dari akarnya. Dengan menumbuhkan generasi berjiwa entrepreneur.
Apa pentingnya entrepreneur? Istilah entrepreneur diartikan dengan kewirausahaan. Masyarakat berjiwa entrepreneur meliputi : keberanian mengelola risiko, punya daya kreativitas, kecenderungan untuk senantiasa berinovasi, bertanggung jawab pada lingkungan, jujur, pekerja keras, mandiri, mampu membuat sesuatu menjadi bernilai dan melakukan segalanya sesuai prinsip manajemen. Maslahatnya sangat besar bagi kemajuan daerah.
Memupuk generasi entrepreneur tak semudah membalikkan telapak tangan. Harus dididik sedari usia dini, dan bukan hanya dari sekolah, namun dibutuhkan peran vital keluarga untuk menyemai karakter tersebut.
Penanaman jiwa entrepreneur dari orang tua terhadap anak dibentuk melalui tahapan strategis. Sebab orang tua tak melulu langsung menerjunkan anaknya ke dunia bisnis di usia yang tidak lazim. Namun lebih mengarahkan kematangan jiwa entrepreneur-nya yang dipupuk hingga dia dewasa nanti.
Adapun cara strategis orang tua memupuk jiwa entrepreneurship pada anak sebagai berikut:
Pertama, ajari anak akan pentingnya manajemen. Manajemen bisa diartikan seni mengelola sesuatu secara efektif untuk mencapai tujuan. Dari sinilah anak diajari untuk menghargai waktu, sadar akan pembagian tugas rumah, dan mencatat agenda hariannya dari bangun tidur sampai ke tidur lagi. Bimbingan orang tua membuat anak mampu mengelola pola hidupnya dengan baik.
Kedua, rangsang kemampuan berpikir anak. Biasakan untuk menuntun anak bersahabat dengan alam. Itu akan memancing anak menyaksikan hal baru. Siapkan jawaban terbaik untuk deretan pertanyaannya. Keaktifan orang tua dan anak dalam bertanya jawab, akan mendorong daya berpikir si anak. Nantinya, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan kreatif.
Ketiga, didik anak agar untuk mendapatkan sesuatu, perlu pengorbanan. Ini untuk memacu agar anak tidak berperilaku manja. Orang tua mestinya tidak menuruti permintaannya dengan mudah. Misalnya saja, ketika anak menagih sepeda baru, maka orang tua akan membelikannya kalau dia mencapai peringkat 1 di raport kelas. Sehingga anak akan berusaha belajar segiat mungkin mencapai keinginannya tersebut.
Keempat, latih anak untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Sikap protektif orang tua akan membahayakan mental anak. Anak akan cenderung tidak percaya diri. Bukan berarti kebebasan si anak di luar pengawasan orang tua. Namun jika orang tua membiarkan anak melakukanya sendiri, maka hal itu akan memupuk sikap kemandiriannya. Kemandirian anak bisa dilatih sepanjang dalam koridor yang tidak membahayakan.
Kelima, tuntun anak mengembangkan potensi diri. Tidak ada manusia yang bodoh. Karena setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Bukan hanya semata kecerdasan akademik. Namun, Bisa saja kecerdasan bermusik atau pun olahraga. Orang tua mestinya memahami hal itu. Maka seyogyanya pengarahan pendidikan kudu disesuaikan dengan penggalian potensi si anak.
Keenam, libatkan anak dalam bisnis keluarga. Hal ini berlaku jika orang tua memang mengelola suatu usaha atau toko. Ajarkan dari hal kecil. Seperti merapikan barang dagangan, menempel kode harga, atau sekadar mengajak anak berkunjung ke toko supplier, hingga mencatat laporan keuangan sederhana.
Bila pemahaman bisnisnya mulai matang, anak juga bisa dipercaya menjaga toko di waktu lengang. Hingga akhirnya dia bisa merintis dan mengembangkan usahanya sendiri.
Bila sekolah dalam kurikulum 2013 mendorong anak menghasilkan karya atau produk dalam mata pelajaran prakarya, maka keluarga adalah alas pembangun jiwa entrepreneur itu sendiri. Ke depan diharapkan kemajuan daerah tidak lagi dimanjakan kekayaan tambang, namun karena disokong oleh para entrepreneur sukses, yang didominasi pada industri padat karya. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help