TribunKaltim/

Parenting

Nilai Ujian Nasional Tinggi Belum Tentu Cerdas, Ini Alasannya

Seharusnya, kata dia, lembaga sekolah mesti melakukan terobosan pendidikan pada usia di Sekolah Dasar dengan menggali kecerdasan yang lain.

Nilai Ujian Nasional Tinggi Belum Tentu Cerdas, Ini Alasannya
TRIBUN KALTIM/BUDI SUSILO
Siswa Internasional Islamic School Balikpapan berunjuk gigi pentas seni menyanyi dan menari di sekolahnya Jalan Sepinggan Pratama, Kota Balikpapan, Sabtu (18/2/2017) pagi. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Selama ini, sebagian besar orang menganggap kecerdasan anak siswa di sekolah itu hanya berpatokan pada mata pelajaran tertentu saja. Tidak melihat ada kecerdasan sisi lainnya.

Demikian diungkapkan Yeni Nuryani, Konsultan Pendidikan Balikpapan, dalam kegiatan seminar parenting di Internasional Islamic School (Intis), Jalan Sepinggan Pratama Kota Balikpapan, Sabtu (18/2/2017).

Seharusnya, kata dia, lembaga sekolah mesti melakukan terobosan pendidikan pada usia di Sekolah Dasar dengan menggali kecerdasan yang lain.

"Orang menganggap anak yang jago matematika. Pelajaran pengetahuan alamnya bagus. Atau Ujian Nasionalnya tinggi dianggap anak cerdas," ujarnya.

Padahal di sisi lain ada kecerdasan lain yang mesti dikembangkan bagi anak didik.

Baca: Hujan Gerimis Puluhan Orangtua Tetap Semangat Ikut Seminar Kecerdasan Majemuk

Kecerdasan yang dimaksud ialah kecerdasan berpikir serta kecerdasan finansial, moral, dan sosial

"Kita tidak boleh kembangkan satu kecerdasan saja. Harus ada banyak aspek," katanya.

Misal, ada kisah musisi ternama yang cerdas dalam bermusik yakni Ludwig van Beethoven. Kecerdasan musiknya dianggap berkualitas dan berpengaruh.

Namun, cerita Yeni, saat mendapat penyakit tuli, musisi ini depresi berkepanjangan, tidak pandai bersosialisasi, menghindari pergaulan selama dua tahun.

Penekanan pendidikan sejak usia dini seharusnya memuat banyak aspek supaya anak didik bisa menghadapi situasi yang kadang berbeda, yang tidak bisa diperkirakan.

"Si anak bisa mengatasi permasalahan segala hal," tutur Yeni.

Dia menambahkan, contoh belakangan ini, para pemimpin eksekutif sebuah perusahaan tidak sekadar cerdas pengetahuan ilmu namun juga cerdas secara emosional.

"Punya moral tinggi. Mampu kendalikan emosi," kata Yeni yang menggunakan busana cadar muslimah ini. (*)

Penulis: Budi Susilo
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help