Home »

Opini

Opini

Anak Hebat di Ranahnya Masing - Masing

Berbicara mengenai anak bodoh, apakah benar ada? Pernah mendengar nama Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Charles Darwin, Aristotles Onassis

Anak Hebat di Ranahnya Masing - Masing
net
Ilustrasi 

Oleh Fransiska, S.Si
(Pegiat Pendidikan dan Literasi)
siskasugiarso@yahoo.co.id

DI antara sekian banyak murid dari tahun ke tahun, biasanya ada beberapa kategori yang membuat nama anak akan selalu melekat dalam ingatan gurunya : paling pintar, paling nakal, paling malas, paling bodoh dan paling lainnya yang pada intinya terlihat sekali perbedaannya dengan teman - teman lainnya.
Berbicara mengenai anak bodoh, apakah benar ada? Pernah mendengar nama Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Charles Darwin, Aristotles Onassis, Abraham Lincoln, Bill Gates, Adam Khoo, Mark Zuckerberg? Meski tidak kenal langsung karena berbeda generasi dan negara akan tetapi setidaknya bagi orang awam nama tokoh - tokoh besar tersebut tidak asing di indera pendengaran. Saya tidak akan menuliskan kembali apa yang membuat mereka mendapat label bodoh karena mesin google dan buku - buku telah banyak menginformasikan tentang biografi mereka. Namun yang membuat saya tertarik adalah bagaimana mereka dapat bersabar dan menemukan jalan mereka masing - masing.
Terkait dengan pendidikan formal, guru sebagai tenaga pengajar yang bertugas memberi pelajaran (teaching) dan murid sebagai pelajar yang berkewajiban belajar (learning). Namun, benarkah learning hanya khusus diberlakukan pada kaum murid dengan pakaian seragam sekolah atau mahasiswa saja?
Erich Fromm dalam buku filsafatnya yang berjudul "Modus Memiliki dan Menjadi" menjelaskan bahwa Teaching mempunyai unsur modus "memiliki" lebih kuat sedangkan Learning bermaksud "menjadi" lebih kuat. Hal senada juga ditulis oleh Poulo Freire dalam karyanya yang berjudul "Pendidikan Kaum Tertindas", bahwasanya Teaching berpengaruh kuat bagi proses dehumanisasi sedangkan Learning berpengaruh kuat bagi tegaknya proses humanisasi.
Mengajar dan belajar ditinjau dari aspek filosofi itu berbeda. Mengajar (teaching) bermakna bahwa pusat ilmu adalah guru, guru tahu segalanya dan guru berperan sebagai subjek penentu atau penghakim yang mendapat otoritas menilai kepintaran seseorang, khususnya murid - muridnya. Sementara proses belajar (learning) menilai bahwasanya ilmu dapat ditangkap dari proses belajar dengan tujuan bersama dimana guru, siswa dan semua pihak terlibat aktif di dalam kegiatan pembelajaran tersebut.
"Hakekat pembelajar sejati adalah senantiasa peduli pada upaya secara terus - menerus untuk meningkatkan kualitas belajarnya sendiri," (Colin Rose dalam Accelerated Learning). Seyognyanya, guru - murid itu adalah mitra belajar. Guru harus selalu meningkatkan ilmunya dengan giat belajar dan murid juga harus semangat menimba ilmu.
Bagi guru, menempatkan diri pada posisi pembelajar bukanlah menurunkan derajat, sekalipun rentetan gelar panjang akademis sudah berhasil tertulis di belakang namanya. Merasa sudah paling pintar hanya membuat pribadi guru terkesan pongah. Hati - hati dijangkiti penyakit hati!
SISWA BERMASALAH
Siswa pintar, cepat menangkap informasi dan rajin menyelesaikan tugas menjadi idaman bagi sebagian besar guru. Artinya, energi yang dikeluarkan guru dalam mentransfer ilmu tidak besar. Guru tidak harus sampai "memeras" otak mencari cara atau metode yang paling efektif agar muridnya dapat memahami isi pelajaran.
Sayangnya, jika hanya terdiri dari satu warna penyusun, pelangi tidak akan mungkin terlihat begitu memukau. Artinya, akan selalu ada murid - murid yang terkadang membuat guru harus mengurut dada. Eits...sebaiknya tidak perlu tergesa - gesa melabeli mereka dengan label "Anak Bodoh", apalagi jika label tersebut diucapkan langsung di hadapan anak murid, lebih miris lagi kalau di hadapan teman - temannya juga.
Tidak harus melemparkan tugas menangani siswa yang bermasalah ke tangan Guru Bimbingan Konseling. Jika anak tersebut anak didik kita di kelas sebaiknya ajak ia berkomunikasi di luar pelajaran sekolah dengan suasana rileks. Dari hati ke hati, temukanlah permasalahan apa yang dihadapinya hingga ia bermasalah menyerap ilmu. Barangkali penyebabnya karena metode mengajar gurunya monoton, tidak mengasyikkan sehingga membuat anak jemu di kelas atau sedang ada permasalahan di keluarganya maupun dengan teman - temannya. Begitu tahu akar permasalahannya, sebaiknya guru mencari jalan penyelesaian yang terbaik bagi semua pihak.
Guru harus selalu berpegang teguh pada prinsip, "Setiap Anak itu Hebat, di ranahnya masing - masing". Nilai akademis hendaknya tidak dijadikan tolak ukur baku menakar kehebatan masing - masing anak didik. Seperti tokoh - tokoh hebat yang namanya saya tuliskan di atas, mereka hebat di jalannya masing - masing.
Dari anak murid guru bisa belajar banyak hal. Setiap satu orang murid dapat dijadikan sosok guru bagi gurunya. Bayangkan berapa banyak gurunya guru? Sementara itu, berapa banyak guru dalam satu kelas? Umumnya satu. Artinya dalam tiap kelas murid hanya punya satu contoh guru yang dapat ditiru teladannya. Jadi sebenarnya lebih beruntung mana kita para guru ini dengan anak murid kita? Lantas, masih tega menganggap mereka bodoh? Kira - kira siapa saja teman kita dulu bersekolah yang selalu juara kelas? Apakah kehidupan mereka sekarang otomatis lebih mapan dari teman - temannya yang tidak pernah mendapatkan peringkat kelas, juru kunci atau bahkan pernah tidak naik kelas? Mari, kita ingat bersama!
Mungkin anak didik kita yang dianggap bodoh memang tidak menorehkan prestasi berarti dalam bidang akademis akan tetapi itu tidak menutup kemungkinan mereka bersinar di bidang lain, misalnya olahraga, kesenian, keterampilan dan lain - lainnya. Keranjang yang berisi beragam jenis dan warna buah tentunya akan lebih memikat daripada keranjang dengan satu jenis dan satu warna buah saja. Demikian pula dengan kondisi akademis anak didik, dengan adanya anak didik kategori pembelajar cepat dengan kategori cenderung lamban akan memberikan banyak pengalaman berharga dengan kesan mendalam. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik?
Pendidikan bukan bertujuan untuk mencetak angka setinggi - tingginya. Pendidikan berfungsi menjadikan manusia mulia, survive, mandiri, mempunyai skill (keahlian atau kemampuan), bermanfaat bagi makhuk Allah SWT. lainnya dan siap menjadi khalifah fil ardhi yang rahmatan lil alamin. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help