Home »

Opini

Opini

Belajar Menjadi Orangtua

tidak semua perempuan pantas disebut ibu, tidak semua pria pantas disebut ayah, dan tidak semua yang bernama ibu dan ayah selalu dirindukan anak.

Belajar Menjadi Orangtua
INTERNET
Ilustrasi

Mulyanto
Penggiat Literasi, Penulis buku Mimpi Ayah Muda, dan Staf SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya

Aa Gym pernah menyarankan, orangtua dalam mendidik anak harus terlebih dahulu mendidik diri sendiri. Anak akan mengimitasi apapun yang menjadi tutur dan tindak tanduk dari ayah-ibunya. Anak adalah perekam dan pengaplikasi tercanggih dari apa yang dia lihat, dengar, dan rasa sehari-harinya.
Sungguh orangtua harus selalu tampil sehat badan dan sehati dalam keseharian, agar anak pun demikian dan dapat cemerlang di masa depannya. Jika ada sekolahnya orangtua maka seyogianya orangtua bersekolah, ini saking tidak mudahnya mengemban amanah menjadi orangtua.
Senada dengan Aa Gym, konsultan pendidikan Ustadz Suhadi Fadjaray mengingatkan, orangtua harus juga belajar menjadi orangtua. Katanya, tidak semua perempuan pantas disebut ibu, tidak semua pria pantas disebut ayah, dan tidak semua yang bernama ibu dan ayah selalu dirindukan anak.
Itu disampaikan dalam seminar parenting bertema Tantangan Mendidik Anak di Tengah Maraknya Sosmed yang digelar IKWAM SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya di Aula The Millennium Building Surabaya, Sabtu (29/10/2016).
Kemudian, orangtua jangan mudah mengeluh karena sesungguhnya orangtua ini melahirkan anak karena dipercaya Allah SWT. Oleh karena itu anak-anak harus dididik dengan kasih cinta yang memanusiakan, penuh kesyukuran, dan anak-anak selalu dibela bukan dicela.
"Anak-anak sesungguhnya lahir dalam keadaan fitrah. Orangtuanya lah yang membentuknya. Kalau anak rusak, orangtuanya yang salah besar," terang Suhadi di hadapan 430 orangtua siswa Mudipat kelas 3 dan 4.
Orangtua memang harus ekstra hati-hati mendidik anak. Kunci mendidik anak lewat keteladan sudah sangat tepat. Orangtua menjadi eksemplari moral yang gentayangan di lingkungan rumah dan masyarakat, senantiasa bertaqwa dan selalu berkata perkataan yang benar, tidak mbujuk, tidak bohong.
Suhadi menyarankan, orangtua harus berhati-hati agar anak-anak jangan sampai lemah dalam lima hal, yakni lemah fisik, lemah emosi, lemah intelektual, lemah spiritual, lemah finansial. Paling parah kalau anak lemah spiritual.
Silahkan direnungi, buat apa orangtua bekerja keras urusan finansial, kalau urusan keagamaan tidak mampu menyentuh dasar nurasi anak. Menurut Nabi Muhammad SAW, hanya tiga hal yang dibawa mati, yaitu, amal jariah, ilmu bermanfaat, dan anak yang sholeh.
Urutan tiga hal ini penting, jangan diacak. Inspirsi Rasulullah adalah anak sholeh tidak akan didapatkan kalau orangtuanya tidak suka beramal jariah dan tak gemar menabur ilmu yang manfaat. Orangtua yang tidak dermawan dan berilmu mustahil anaknya akan shaleh.
Muhammad Sholihin, pengajar Pendidikan Al Islam, mengatakan, soal surga di telapak kaki ibu, itu maknanya adalah karena kaki ibu senantiasa menggiring dan mengajak anak-anaknya untuk diikuti dalam hal kebaikan. Ibu menggiring anak ke masjid dan ke (masa) di mana Rasulullah Muhammad SAW hidup. Ayah ibu harus mengenal Nabi Muhammad SAW, karena dia adalah kekasih Allah sebagai uswatun hasanah di muka bumi ini. Kemudian mengenalkan kepada anak-anaknya.
Hemat saya, tidak usah pusing dengan kurikulum pendidikan kita yang tidak menentu, jika anak-anak sudah kenal Rasulullah, mengenal bagaimana cara Rasulullah salat, makan, minum, berbicara, membantu orang lain, tidur, dan meneladani Rasulullah, maka kita dan anak-anak akan selamat fid dun yaw al akhirat. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help