TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Menekan Amoral Anak

orang tua mesti ekstra waspada mununtun perkembangan kepribadian anak. Apalagi yang berkaitan dengan lingkungan di luar rumah.

Menekan Amoral Anak
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Ilustrasi 

Oleh: Ahmad Rifandi, SE
Guru MTs Nurul Hikmah Sangatta
rifandi_88@yahoo.com

Sebagai seorang pendidik, juga sebagai imam keluarga, saya merasa miris tatkala membaca reportase yang dihimpun secara investigasi oleh wartawan grup Tribun di Banjarmasin,pada 21 Februari lalu. Isi liputan tersebut menggambarkan betapa kelamnya kehidupan sebagai anak jalanan. Sebegitu kelamnya, seorang anak jalanan yang "liar" sejak usia 17 tahun sudah berjibaku dalam seks bebas hingga menggilir 15 wanita.
Tindakan tak beradab seperti berjudi, meneguk miras, sampai mengonsumsi narkoba adalah kebiasaan rutin remaja yang jauh dari jamahan orang tua tersebut. Mereka berkumpul dan menghabiskan waktu di jalanan bukan karena tidak memiliki keluarga. Menurut keterangan yang dihimpun wartawan, mereka adalah kumpulan remaja yang didominasi dari keluarga yang bermasalah dan broken home.
Tidak jauh-jauh, tepatnya di daerah saya, Sangatta, salah satu sekolah berstatus negeri, baru saja memberikan sanksi berat kepada puluhan siswanya lantaran tersandung kasus miras oplosan. Kejadian tersebut tentu mencoreng cita-cita lembaga pendidikan sebagai wadah pencetak generasi berbudi luhur. Penyelesaian berupa surat pernyataan pun nyatanya tak mempan mengurung amoral mereka.
Kasus di atas barangkali terjadi pada kalangan remaja di daerah lainnya. Yang tak kalah mengkhawatirkan, perdagangan sabu-sabu mulai semakin marak beredar di bumi Kaltim. Pada dua pekan yang lalu, santer diberitakan pengiriman sabu 11 Kg yang dibawa dari Tarakan ke Balikpapan. Menurut Kepala BNNP Kaltim, Brigjen Pol Sufyan Syarif, Jumlah itu jika tersebar bisa meracuni 100.000 orang. Kita tentu tak menginginkan gencarnya perdagangan narkoba berdampak pada tingginya tingkat konsumsi narkoba di kalangan remaja.
Kini, orang tua mesti ekstra waspada mununtun perkembangan kepribadian anak. Apalagi yang berkaitan dengan lingkungan di luar rumah. Semakin bertambah usia anak, semakin antusias mereka melibatkan diri dalam bermasyarakat. Semakin mengarah ke usia dewasa, semakin gencar mereka menentukan jati diri. Persoalannya, apakah keterlibatan mereka dalam bermasyarakat mengarah ke hal positif ataukah terjerumus ke hal yang negatif?
Seorang anak kecil yang berproses dengan belajar menjadi bagian dalam masyarakat, menurut sosiolog, Berger, dikaitkan sebagai proses sosialisasi. Tak terbantahkan, proses inilah yang membentuk perangai seseorang dalam bermasyarakat. Dampak akan baik buruknya kepribadian tergantung bagaimana dan dimana proses sosialisasi itu dibentuk.
Menurut Tischler dalam bukunya, Introduction to Sociology, bahwa ada empat agen sosialisasi pembentuk karakter seorang anak. Dan orang tua harus memahami hal ini. Empat agen tersebut antara lain; keluarga, teman bermain, sekolah, dan media massa.
Bila orang tua bersinergi kepada keempat agen tersebut, maka membimbing kepekertian anak tidak lagi menjadi pekerjaan sulit.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, yang juga sebagai wadah bimbingan secara primer. Dari keluargalah, kepribadian anak berkembang. Dari keluarga pulalah, seorang anak melampiaskan keresahannya di luar rumah. Dalam artian, jika orang tua tak mau anaknya bergeser pada prilaku biadab, maka pandai-pandailah membuat anak betah dan nyaman dalam didikan keluarga.

Orang tua tak mungkin memagari perilaku anak hanya sebatas lingkungan rumah saja. Orang tua juga tak kuasa menutup mata akan kepekaan anak dalam menerjunkan diri di dunia luar rumah.
Di luar rumah, anak secara spontanitas belajar menjadi insan sosial. yang mana seseorang tidak akan berdiri sendiri tanpa melibatkan orang lain dalam kehidupannya. Akan tetapi bimbingan orang tua akan pemilahan teman bergaul yang baik bagi si anak juga sangat penting.
Jika lalai, orang tua akan membayar mahal atas perubahan sikap negatif anak karena pengaruh pergaulan bebas. Sepertinya sikap protektif orang tua juga tak salah untuk dikedepankan. Asal pada takaran yang wajar.
Berikutnya, menempatkan anak di sekolah yang bagus pun juga tak menjamin kepribadiannya bisa terkawal dengan baik. Sekali lagi, di sekolah, anak tidak hanya berinteraksi dengan guru, namun juga teman kelas. Jangan sampai perilaku buruk teman kelas tertular pada si anak. Maka, membangun komunikasi intens dengan pihak sekolah akan membantu sikap anak dalam kegiatan belajar mengajar.
Kedekatan anak kepada orang tua, pengarahan anak dalam memilah lingkungan pergaulan, pembimbingan keluhuran anak dalam mengikuti proses belajar mengajar di sekolah, dan penuntunan kebijaksanan anak dalam berinteraksi dengan media massa adalah sederet upaya yang kudu diarahkan agar tindakan amoral generasi bangsa bisa ditekan seminim-minimnya. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help