TribunKaltim/

Kesehatan

Cara Ibu Ini Atasi Anaknya yang Kecanduan Gula Ini Viral, Simak Keberhasilannya

"Dia menjadi lebih mudah ditenangkan, gampang tidur, dan tidak selalu nonton televisi. Ia mulai senang melakukan banyak hal," katanya.

Cara Ibu Ini Atasi Anaknya yang Kecanduan Gula Ini Viral, Simak Keberhasilannya
SHUTTERSTOCK
Berbagai jenis gula 

TRIBUNKALTIM.CO -- Keberhasilan seorang ibu dalam mengatasi kecanduan gula pada balitanya menjadi viral dan kontroversi.

Anna Larsson (38) seorang ibu asal Swedia memutuskan untuk mengurangi gula pada buah hatinya yang berusia 4 tahun setelah ia menyadari betapa parahnya efek ketagihan gula.

Hasilnya mengejutkan Larsson: setelah beberapa hari cukup sulit, gadis cilik itu kini tak lagi merengek minta yogurt dan es krim, dan lahap mengonsumsi makanan sehat yang semula ditolaknya.

Bukan hanya itu, balita itu juga kini tidur lebih nyenyak dan lebih jarang rewel.

Terpesona dengan efek positif dari pembatasan gula itu, Larsson lalu membagi pengalamannya di Facebook. Ia pun mendapat banyak respon, termasuk "disukai" lebih dari 2.400 kali.

"Saya tahu bahwa membiarkan anak banyak makan gula tidak baik, bukan saja ke anak tapi semua orang, jadi itu bukan hal baru. Rasanya cerita saya mendapat banyak respon karena saya orang biasa, bukan dokter atau ahli nutrisi," katanya.

Larsson memutuskan mulai membatasi gula setelah putrinya, yang namanya dirahasiakan, sering mengalami tantrum jika dilarang mengonsumsi sesuatu yang manis. Ia curiga balitanya itu sudah kecanduan gula.

"Dia tak mau makan makanan yang dimasak di rumah, yang diinginkannya hanya sesuatu yang manis-manis," katanya.

Sejak asupan gula mulai dibatasi, perbedaannya sangat nyata. Larrson juga merasa indera perasa anaknya lebih baik karena jadi lebih gampang diberi makanan lain.

"Dia menjadi lebih mudah ditenangkan, gampang tidur, dan tidak selalu nonton televisi. Ia mulai senang melakukan banyak hal," katanya.

Pengalaman Larsson itu kemudian menjadi viral, bahkan juga dimuat di koran lokal dan televisi Swedia. Tetapi, tidak semua orang setuju dengan Larsson.

"Sebagian orang menganggap saya ekstrem, tapi saya tak pernah berkata kita tak boleh mengasup gula. Kami tetap makan gula, tapi tidak setiap hari," katanya.

Ia juga mengajak orangtua lain untuk mengikuti jejaknya. "Jika anak Anda mengalami gejala ketagihan gula, mereka perlu dibantu. Anak-anak tak bisa melakukannya sendiri, semua tergantung kita orangtuanya," ujarnya.

Meski banyak orang meyakini bahwa asupan gula memengaruhi perilaku, namun bukti-bukti dari penelitian ilmiah sangat sedikit.

Di lain pihak, beberapa studi menunjukkan gula termasuk dalam makanan yang dapat menciptakan pola kecanduan bagi mereka yang mengonsumsinya. (*)

Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help