TribunKaltim/

Tolak Pungutan Liar

Saber Pungli OTT Dua Pegawai PT Pelni Nunukan

Petugas penindakan Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) Kabupaten Nunukan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Saber Pungli OTT Dua Pegawai PT Pelni Nunukan
TRIBUN KALTIM/NIKO RURU
Para buruh menunggu angkutan barang penumpang di Pelabuhan Tunon Taka, Kecamatan Nunukan. 

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Petugas penindakan Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) Kabupaten Nunukan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap dua pegawai harian lepas PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) Nunukan yaitu  SB (65) dan M bin Atmo (47).

“Saat ini keduanya masih di Mapolres Nunukan. Sementara masih dilakukan penyidikan intensif,” kata Kasubag Humas Polres Nunukan Iptu M Karyadi, Senin (13/3/2017).

Kepala Satuan Reskrim Polres Nunukan, AKP Suparno yang membidangi penindakan Satgas Saber Pungli Kabupaten Nunukan menyebutkan, keduanya diamankan pada Minggu (12/3/2017) sekitar pukul 07.10 di terminal barang Pelabuhan Tunon Taka, Kecamatan Nunukan.

“Kami melakukan operasi tangkap tangan terhadap pungutan liar over bagasi dan muatan palksa KM Lambelu yang dilakukan tersangka SB dan M bin Atmo,” ujarnya.

Dijelaskannya, dari tersangka SB disita uang tunai Rp 9.400.000, boking muatan palka sebanyak tujuh lembar terpakai dan 151 belum dipakai, tiga lembar tiket bagasi lebih, stiker PT Pelni Nunukan OB lunas sebanyak 109 lembar dan sepasang seragam PT Pelni.

Sedangkan dari tersangka M bin Atmo disita uang tunai sebesar Rp 6.400.000, lima lembar boking muatan palka kosong, 28 tiket bagasi lebih yang belum terpakai, 12 lembar audit coupon bukti pembayaran bagasi lebih, 154 lembar stiker OB lunas, sebuah tas selempang berwarna hitam dan sepasang seragam PT Pelni.

Modus operandi para pelaku dalam melakukan aksinya, yaitu pengurus barang penumpang datang ke Pelabuhan Tunon Taka, Kecamatan Nunukan untuk melapor kepada SB dan M bin Atmo.

“Bahwa ada barang muatan bagasi dan palka. Lalu saudara SB dan M bin Atmo melihat barang muatan bagasi dan palka tersebut,” ujarnya.

Setelah itu keduanya menentukan harga biaya over bagasi yang harus dibayar berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 1.000.000. Sedangkan untuk biaya barang di palka berkisar Rp 1.500.000 hingga Rp  2.000.000.

“Pembayaran tanpa diberikan bukti pembayaran atau kwitansi,” ujarnya.

Suparno mengatakan, pihaknya telah melakukan klarifikasi dan konfirmasi kepada kedua tersangka.

Penyidik juga telah meminta keterangan para saksi terutama para penumpang yang telah melakukan pembayaran tanpa tanda terima. Termasuk dari pimpinan cabang PT Pelni Persero Nunukan.

“Dua orang ini tugasnya mengawasi barang penumpang. Tetapi pada praktiknya mereka memungut biaya dari pada barang yang dinyatakan over bagasi. Dia lihat, dia perkirakan, kemudian SB ini kalau ada yang over dia pungut, dia setorkan ke M,” ujarnya.

Selanjutnya dari M uang mengalir ke bendahara PT Pelni. “Kita akan panggil juga nanti bendaharanya.  Kami masih dalami,” ujarnya.

Terhadap kedua pelaku, Polisi menyangkakan dengan Pasal 12 huruf e Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Junto pasal 55 ayat 1 ke -1e KUHP. (*)
 

Penulis: Niko Ruru
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help