Warga Diminta Waspadai DBD, Kenali Gejala Dengue Shock Syndrome

"Untuk menghindari shock tersebut sebaiknya jika demam tidak kunjung menurun setelah dua hari, segera periksakan diri ke rumah sakit," ujarnya.

Warga Diminta Waspadai DBD, Kenali Gejala Dengue Shock Syndrome
ISTIMEWA
Nyamuk Aedes Aegypti 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Niko Ruru

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Warga Kabupaten Nunukan diimbau untuk mewaspadai demam berdarah dengue (DBD).

Meskipun angka penderita menurun tajam dibandingkan tahun lalu, DBD harus tetap diwaspadai karena telah menyebabkan korban meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Rustam, mengatakan, awal tahun ini salah seorang anak di Kelurahan Nunukan Timur, Kecamatan Nunukan meninggal dunia akibat Dengue Shock Syndrome (DSS).

Demam tinggi yang tidak kunjung turun selama dua hari dan tidak segera ditindaklanjuti orang tua untuk memeriksakan anaknya ke dokter, menjadi penyebab kematian anak tersebut.

Rustam mengatakan, belajar dari pengalaman dimaksud, tentu orang tua harus segera mengambil tindakan jika anak mengalami demam tinggi.

‘’Saat pasien positif DBD, tidak jarang dia mengalami dengue shock syndrome. Makanya ketika demam tinggi tidak turun, segera dibawa ke dokter. Karena kalau tidak ditangani secara dini, DSS bisa berakibat pada kematian,’’ ujarnya.

Dijelaskannya, DSS merupakan sebuah syndrome syok yang terjadi tiba-tiba pada penderita DBD. Beberapa penyebabnya karena trombosit rendah dan kurangnya rehidrasi cairan.

Hal ini berakibat pada naiknya suhu panas penderita sehingga mengalami demam tinggi dan harus selalu diperiksa struktur darahnya sampai melewati 12 jam masa kritis.

‘’Untuk menghindari shock tersebut sebaiknya jika demam tidak kunjung menurun setelah dua hari, segera periksakan diri ke rumah sakit,’’ ujarnya.

Tahun 2016 lalu, kasus DBD di Kabupaten Nunukan pada Januari mencapai 17 kasus dan meningkat pada Februari dengan ditemukannya 19 kasus baru.

Sedangkan pada tahun ini, Januari ditemukan tiga kasus dan dua kasus pada Februari.

Rustam mengatakan, penurunan jumlah kasus DBD ini tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai bahayanya DBD.

“Yang penting tetap pemberantasan sarang nyamuk. Kabupaten Nunukan ini wilayah endemik yang tidak kenal musim. Jadi rajin saja melakukan 3 M dan taburkan abate di tempat penampungan air,’’ ujarnya. (*)

Penulis: Niko Ruru
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help