TribunKaltim/

Darurat Narkoba

Antisipasi Narkoba, Polisi Disiagakan saat Tol Laut Beroperasi

Selama ini, kata dia, jaringan peredaran narkoba memanfaatkan kapal penumpang milik swasta dan pemerintah untuk menyelundupkan narkoba.

Antisipasi Narkoba, Polisi Disiagakan saat Tol Laut Beroperasi
Ilustrasi - Rancangan arsitektur tol laut Indonesia 

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Beroperasinya tol laut sejak 14 Maret menjadi angin segar bagi warga di perbatasan Republik Indonesia - Malaysia.

Namun di sisi lainnya, menjadi daerah yang dilalui tol laut tentu bisa berdampak kurang baik. Karena bukan tidak mungkin, ada yang memanfaatkan kemudahan dimaksud untuk mengirimkan narkoba dari Malaysia.

‘’Kita tidak bisa menutup mata. Selain menguntungkan dari sisi kesejahteraan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pokok, tol laut rawan dengan narkoba,’’ ujar Kapolres Nunukan AKBP Pasma Royce, Rabu (15/3/2017).

Selama ini, kata dia, jaringan peredaran narkoba memanfaatkan kapal penumpang milik swasta dan pemerintah untuk menyelundupkan narkoba.

Dengan beroperasinya tol laut, bukan tidak mungkin akan menjadi sarana baru untuk melakukan penyelundupan. Apalagi kapal tol laut yang dicanangkan Presiden Joko Widodo ini melintasi kawasan-kawasan strategis seperti Surabaya, Belang Belang, Mamuju, Sangatta, Sebatik dan beberapa wilayah lain selama 15 hari perjalanan.

Ironisnya, di Palau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia tidak dilengkapi dengan peralatan pendeteksi narkoba.

“Sehingga tentunya Polisi memiliki tugas ekstra untuk itu,” ujarnya.

Dia menyebutkan, selain mengandalkan kerja Polisi di lapangan tentu diharapkan kerjasama semua elemen untuk menekan kejahatan kriminal di perbatasan.

Butuh peran semua elemen untuk mengantisipasi penyalahgunaan tol laut, yang seharusnya terealisasi sesuai harapan sebagai solusi bagi keterisoliran perbatasan.

Pihaknya sendiri segera mempelajari mekanisme penanggulan narkoba menggunakan kapal tol laut.

‘’Kalau melihat 15 hari perjalanan, berarti dua minggu sekali kapal KML 3 ini datang ke Sebatik. Kami tempatkan personel, kami buat pos dan menambah anggota. Kami juga kirimkan anjing pelacak rutin ke sana,’’ ujarnya.

Dia kembali mengulas, pada 2016 ada sekitar 438 kasus narkoba yang berhasil diungkap di Kabupaten Nunukan. Dari jumlah tersebut, 255 diantaranya kasus konvensional dan 183 merupakan kasus narkoba dengan barang bukti mencapai 26 kilogram sabu.

Masih tingginya kasus narkoba ini selain Kabupaten Nunukan bersentuhan langsung dengan Malaysia, juga ada kemudahan akses dan tempat lalu lalang bagi tenaga kerja Indonesia. Selain itu, harga narkoba di Tawau jauh lebih murah dibandingkan narkoba dari Jawa atau Sumatera.

‘’Kalau orang kembali dari Malaysia bisa mengantongi 1 ons, 1 kilogram, dibawa dengan mudah. Bilamana bisa dijual di Indonesia keuntungannya sampai 300 persen. Otomatis ini satu ketertarikan. Dengan membawa satu kali lolos untungnya sangat besar,’’ katanya. (*)

Penulis: Niko Ruru
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help