TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Pendidikan Seks Islami untuk Anak

lebih dari 60 persen anak dan remaja di Indonesia pernah melakukan hubungan layaknya suami istri di masa duduk di bangku SD maupun SMP

Pendidikan Seks Islami untuk Anak
net

Oleh
Mulyanto
Penulis Buku Istighfar Cinta: Novel Pewaras Hati dan Staf SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya

Peran orangtua dalam pendidikan anak harus sepenuh hati. Mendidik anak tidak boleh disambi. Terlebih tentang pendidikan etika pergaulan secara Islami, orangtua harus turun sendiri, bukan menyuruh orang lain yang mendidik anak kita, misal asisten, pesuruh, dan semacamnya. Sebab penguatan pendidikan seks Islami ini adalah utama sebagai jimat selamat anak dalam berkehidupan di masa depannya, karenanya harus orangtua yang secara emosional lebih dekat dan lekat dengan anak.
Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada 2015 menunjukkan angka mengejutkan, yaitu lebih dari 60 persen anak dan remaja di Indonesia pernah melakukan hubungan layaknya suami istri di masa duduk di bangku SD maupun SMP. Sungguh ironi, di negara mayoritas penduduknya muslim yang menjunjung tinggi syariat Islam justru terjerembab dalam lumpur nista yang kelam. Penelitian BKKBN menuliskan alasan kenapa anak dan remaja ini sudah melakukan hubungan seks bebas, yaitu karena disebabkan kurangnya pendidikan seks kepada anak dan remaja oleh orangtua dan juga guru di sekolah.
Ustad Muhammad Sholihin, MPSDM, Guru Senior Al Islam Kemuhammadiyahan pada pengajian tafsir Quran di Masjid SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, Jumat (3/3/) mengatakan, anak-anak harus sudah matang etika pergaulan Islaminya di rumah sebagai imun agar di luar rumah, di lingkungan dan di sekolah mereka terjaga dari hal-hal yang tidak baik.
Pendidikan yang harus ditanamkan adalah bagaimana anak berperilaku jujur, sopan, menghormati orang lain, tidak menghasut, tidak membuka aib orang lain, tidak sombong, tidak mendekati zina, dan lain-lain. Di rumah orangtua harus menjadi teladan dalam berkata lembut, tegas, penyayang, dan suka memberi.
Sehingga dengan mendapati panutan di rumah anak dengan sendirinya akan menduplikasi orangtua. Di lingkungan dan di sekolah akan hormat pada guru, sayang pada kakak atau adik kelas, dan suka memberi. Yang tak kalah pentingnya yaitu tentang pergaulan laki-laki dan perempuan. Ini harus dijaga betul. Bagaimana anak bersentuhan dengan lawan jenis. Ini bagian dari larangan jangan mendekti zina.
Orangtua secara khusus, menurut Ustad Sholihin, wajib mengajarkan etika pergaulan Islam yang utuh. Bahwa laki-laki dan perempuan hanya boleh bersentuhan dan halal kalau sudah menikah. Ajari untuk menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, dan larang berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis.
Dan pendidikan utama itu, lanjut ustad Sholihin, harus tuntas dienyam anak di rumah. Kepala sekolahnya ayah dan gurunya adalah ibu. Maka sekolah harus sejuk agar pelajaran mudah ditangkap dan dipahami muridnya: anak. Kalau orangtua berselisih harus bijak menyelesaikan perselisihan, sebab cara orangtua menyelesaikan masalah akan menjadi cara anak dalam menyelesaikan masalah.
Fimas M. Al-Jufri, Psikolog SD Muhammadiyah 4 Surabaya mengatakan, pentingnya penanaman wawasan pendidikan seks Islami bagi anak sejak dini. Caranya, orangtua harus memberi tahu anak tentang siapa saja yang boleh menyentuh tubuh anak, siapa saja yang boleh menyentuh, mencium, dan memeluk si anak.
Ajarkan kepada bagian apa saja yang tidak boleh dipegang. Dan kalau dipegang harus segera menghindar, berteriak, atau minta tolong orang lain. Anak sejak dini harus paham tentang barang pribadinya yang sensitif dan membedakan tentang mahrom atau hal yang dilarang dan yang diharamkan oleh Allah SWT.
Selain itu, mengajak anak selalu ke masjid untuk shalat berjamaah juga sangat penting. Gunanya, di masjid sana ada pendidikan berbusana yang patut bagi pria dan wanita dan tentang pembedaan jenis kelamin menurut Islam.
Di level remaja, pendidikan seks Islami harus diberikan orangtua yang sejenis kelamin. Jika anak perempuan yang mengajari adalah ibu, jika laki-laki maka yang mengajari adalah ayah. Bukan dicampur karena akan ada kegaduhan di antara mereka. Semoga berguna. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help