TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Ekspresi Politik Generasi Millennial

Keunikkan lain generasi ini adalah kesadaran untuk membangun citra dirinya termasuk komunitasnya. Sebagian kalangan menyebutnya sebagai sikap narsis

Ekspresi Politik Generasi Millennial
TRIBUN KALTIM/JINO PRAYUDI KARTONO
Ilustrasi Generasi Millennials 

Oleh: Aldy Artrian, MPA
(Staf Pengajar Fisip Unmul)

Istilah generasi millennial atau biasa disingkat Gen Y, mulai populer pada tahun 1990-an oleh dua sejarawan Amerika, yakni William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa publikasinya. Sederhananya teori ini mengklasifikasi batasan generasi menurut tahun kelahiran sebagai landasan asumsi untuk memprediksi perilaku generasi tertentu dalam menyikapi tantangan dan keadaan zaman kedepan. Sebagai batasannya, Generasi X (Gen X) adalah generasi yang lahir dalam bentang tahun 1961-1981, setelahnya adalah Generasi Millinneal adalah generasi yang lahir dalam bentang tahun 1982-2004. Dengan kata lain Millennials saat ini adalah anak-anak muda yang berada pada kisaran usia 13-35 tahun. Millennials kerap mendapat perhatian khusus untuk berbagai kepentingannya, dengan ditinjau dari berbagai aspek perilakunya, seperti dalam pendidikan, hubungan sosial, pandangan politik, etos kerja, hingga penguasaan teknologi.
Seperti generasi lainnya, generasi ini memiliki cara tersendiri dalam mengaktualisasikan kebebasan dan keberpihakannya dalam kehidupan demokrasi hari ini. Dari berbagai literatur yang telah dihimpun, penulis mencoba mengulas karakteristik Millennials melalui pendekatan psikis dan empiris dalam mengekspresikan sikap politik mereka. Pandangan ini juga berguna memotret berbagai fenomena sosial yang dialami generasi ini disekitar kita, setidaknya ada lima karakteristik sebagai berikut:
Pertama, Menguasai Media Sosial. Generasi ini cepat merespon khususnya perkembangan teknologi digital dan secara optimal menguasai berbagai fitur aplikasinya secara bersamaan. Dengan prinsip praktis dan efektif, maka menurut mereka smartphone lebih menarik daripada televisi, karena merasa berhak memilih dan menentukan sendiri hiburan serta informasi yang diinginkan. Disisi lain, ketergantungan terhadap media sosial merupakan indikasi tingginya interaksi komunikasi mereka. Fungsi media sosial tidak lagi sebagai saluran pertemanan, tetapi telah merangkap sebagai media edukasi, transaksi ekonomi bahkan ekspresi diri. Artinya dalam pandangan pola komunikasi politik, mereka akan cenderung kurang tertarik dengan model komunikasi konvensional yang searah. Sehingga perlu dikemas model komunikasi politik yang dinamis, hal ini juga dapat berwujud dialogis, testimoni maupun visual kreatif. Sosialisasi (kampanye) politik dengan gaya formal dan normatif mulai dihindari oleh generasi ini.
Kedua, Aktif Beropini. Hal lain yang juga menonjol dari generasi ini adalah keberanian dan kemampuan mereka mengelola isu dan opini di ruang publik dengan berbagai metodenya, baik dari persoalan pribadi, isu-isu sosial dan politik, hingga terhadap proses pengambilan kebijakan publik. Generasi ini cukup jeli menggunakan berbagai saluran aspirasi yang tersedia, bahkan dapat menciptakan sendiri media alternatif. Nilai dan gagasan idealis menjadikan generasi ini lebih kritis menilai berbagai fenomena disekitarnya, sikap ini kerap diterjemahkan sebagai oposisi bahkan mungkin skeptis kepada para pejabat publik. Sejatinya kondisi ini sangat menguntungkan partai politik (parpol), politisi serta para pemangku kebijakan dengan memposisikan mereka untuk membantu menyerap aspirasi dengan jangkauan lebih luas dan lebih dalam. Mereka dapat difasilitasi dengan diberi ruang serta akses tertentu, dan secara bersamaan diberi tugas dan tanggungjawab konstruktif di tengah-tengah masyarakat.
Ketiga, Personal Branding. Keunikkan lain generasi ini adalah kesadaran untuk membangun citra dirinya termasuk komunitasnya. Sebagian kalangan menyebutnya sebagai sikap narsis, tetapi ada juga yang menganggap sebagai cara menjaga eksistensi diri. Konon, banyaknya followers akan meningkatkan status tertentu dalam pergaulan mereka. Personal branding adalah kebutuhan, menjadi beralasan sebagai upaya merawat reputasi dan menjalin relasi. Cepatnya pergerakan informasi telah menembus batas-batas teritori hingga berbagai rupa manipulasi. Media sosial dan ruang publik kerap dijadikan saluran dalam memperoleh respon positif dari khalayak, disisi lain generasi ini cenderung memiliki rujukan atau idola dalam hal tertentu yang dianggap mampu mewakili passion mereka. Mengagumi selebriti maupun politisi akan mempengaruhi cara pandang mereka terhadap suatu hal, maka negara termasuk pasar turut bertanggungjawab menyajikan public figure yang dapat diteladani.
Keempat, Challenge Seeker. Menyukai tantangan baru dan cepat bosan menjadikan generasi ini dianggap tidak loyal. Disadari atau tidak, ini menggambarkan jiwa anak muda yang cenderung dinamis dan energik. Ketika melihat ada kesempatan, mereka akan berusaha untuk mencoba hal baru dengan berbagai motivasinya. Generasi ini dianggap memiliki kreatifitas tinggi, cepat belajar dan mudah beradaptasi tetapi kerap dianggap tergesa-gesa. Dalam berbagai agenda sosial, mereka tak segan menawarkan sesuatu yang anti-mainstream. Mengingat perkembangan zaman begitu dinamis dan tuntutan publik yang tidak terbatas, maka pendampingan dan pembinaan yang tepat pada generasi ini adalah modal investasi sosial dan politik jangka panjang. Penyediaan saluran untuk ide-ide dan energi positif mereka adalah cara bijak mendampingi dan berjalan beriringan.
Kelima, Gerakan Kerelawanan. Dalam beberapa kasus yang menarik perhatian publik, generasi ini telah berhasil mempelopori gerakan kerelawanan dibidang sosial maupun politik. Adapun sebagian contoh seperti, penggalangan biaya berobat pasien kurang mampu, mengawal proses penenggakkan hukum, advokasi masyarakat sekitar pertambangan hingga menjadi relawan pengajar di daerah pelosok dan sebagainya. Mereka bergerak tidak menggunakan kelembagaan formil tetapi lebih pada ikatan kolektivitas yang lebih fleksibel, viral, dan bermotif pada isu khusus. Gerakan ini adalah kepekaan mereka pada isu-masalah yang dianggap peran negara kurang -bahkan abai-terlibat didalamnya. Dalam ranah politik pun mereka aktif menyuarakan sikap politik etis, memantau penyelenggaraan pemilu yang jurdil, bahkan sanggup menawarkan kepemimpinan alternatif sebagai perlawanan kepada elit politik yang kerap mempraktekkan status quo dalam kehidupan demokrasi.
Dari uraian diatas, generasi ini memiliki caranya sendiri mengekspresikan politik dan kepedulian sosial dalam bermasyarakat dan bernegara. Semakin tinggi kesadaran partisipatif politik akan menghasilkan kebijakan publik yang reponsif. Diakui, walaupun ada sebagian dalam generasi ini yang masih bertindak destruktif, tetapi bukan nilai itu yang ingin kita apresiasi dan tularkan. Kedepan kiprah generasi ini akan mempengaruhi berbagai lini, termasuk akan menciptakan budaya politik baru dan kepemimpinan masa depan. Tulisan ini berusaha mengisi kekosongan ulasan tentang sikap dan pandangan politik para Millennials, walaupun belum disajikan secara komprehensif tetapi sangat terbuka untuk dapat didiskusikan lebih lanjut. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help