Angkat Cerita Pendidikan di Pemukiman Dayak Wahea, Sedeng Sang Tembus Festival Film Internasional

Harapannya, film tersebut menjadi sarana perekat hubungan antara manusia yang satu dengan lainnya dalam memajukan identitas daerah.

Angkat Cerita Pendidikan di Pemukiman Dayak Wahea, Sedeng Sang Tembus Festival Film Internasional
HO_HUMAS SETKAB KUTIM
Karya film Sedeng Sang besutan Allan Ramadhan mendaoatkan respon positif dari Bupati Ismunandar dalam penayangan perdana di Rumah Makan Diponegoro 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Masyarakat Kutai Timur (Kutim) patut berbangga hati, pasalnya seorang putra asli daerah bernama Rakhmad Maulana Ramadhan, berhasil mengharumkan nama daerah dengan karya film berjudul Sedeng Sang di Los Angeles Indonesian Film Festival, sebuah ajang kontes short movie international dan masuk dalam seleksi 10 film pilihan.

Sedeng Sang yang dalam bahasa Dayak Wahea berarti keinginan dari hati diputar dalam gala premier nonton bareng di Rumah Makan Diponegoro, Jalan Poros Sangatta-Bontang Km 4, Minggu (13/3).

Acara dihadiri langsung oleh Bupati Kutim Ismunandar, Wakil Ketua II DPRD Kutim Encek Firgasih, Sekretaris Kabupaten (Seskab) Irawansyah, pejabat Esselon III dan IV Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan beberapa undangan lainnya. Seperti pelajar, komunitas, serta masyarakat.

Film ini mengangkat cerita tentang konflik bapak dan anak berlatar perjuangan pendidikan, keluarga dan sosial di Desa Nehes Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau.

Berdurasi 19 menit 20 detik, film difokuskan pada karakter Khairul Adha sebagai anak dan Pak Be Get sang ayah. Sutradara Rakhmad Maulana Ramadhan atau akrab dipanggil Allan mencoba memberikan sajian jalinan cerita utuh dan ringan lewat pesan singkat ketika orang yang menonton punya persepsi masing-masing.

Setelah menonton Bupati Ismunandar mengapresiasi tinggi “Sedeng Sang” menjadi sebuah karya original putra asal Sangatta. Ismu mengaku cukup berbangga dengan lahirnya generasi emas anak-anak muda yang kreatif khususnya dalam bidang sinematografi (perfilman) mampu berbicara di ajang festival film luar negeri.

Ini menjadi contoh menularkan prestasi tak berhenti sampai disini, terus melahirkan ide-ide segar mengangkat nama daerah lewat sajian audio visual.

“Atas nama Pemkab Kutim, film ini mampu menghasilkan gambaran cerita kehidupan warga asli Dayak Wahea di pedalaman Kutim. Ketika berladang untuk survive (bertahan hidup) di tengah musim cuaca yang tak menentu. Serta hubungan dengan anak dalam memperjuangkan cita-citanya ingin bersekolah. Karya film ini juga bisa menjadi pelecut branding promosi (potensi) Kutim,”” ujarnya.

Ismu berharap, setelah ini lahir lagi karya-karya lain yang mengangkat kemajuan daerah kabupaten Kutai Timur. Salah satunya, bisa tentang karst Sangkulirang-Mangkalihat. Pemkab Kutim membuka pintu lebar-lebat untuk ruang kreatif bagi gagasan perfilman tentang Kutim.

“Saya minta Pak Irawan (Seskab Kutim) bisa menjembatani karya-karya film anak-anak lokal, mulai dari jenjang pelajar ataupun mahasiswa. Sehingga punya semangat baru dengan perhatian Pemkab memberikan bantuan pendidikan. Contohnya para pemain dalam film Sedeng Sang yaitu Khoirul yang kini duduk di kelas 1 SMK di Muara Wahau melanjutkan ke jenjang sarjana sesuai bakatnya,” kata Ismunandar.

Film ini pun menjadi menjadi kado istimewa dari Allan, sineas jebolan Institut Seni Indonesias (ISI) Yogjakarta Fakultas Media Rekam jurusan Televisi dan Film.

Dia ingin memberikan sumbangsih ilmunya untuk Pemkab Kutim. Harapannya, film tersebut menjadi sarana perekat hubungan antara manusia yang satu dengan lainnya dalam memajukan identitas daerah.

“Semua media, tidak hanya film, bisa menjadi alat penyampaian bahasa komunikasi verbal yang bisa ditangkap dapat memberikan pandangan luas tentang Kutim. Banyak cerita-cerita yang bisa diangkat. Kutim, yang memiliki 18 kecamatan, belum tergarap maksimal. Nah kisah pendidikan di Muara Wahau ini menjadi benang merah permulaan karya anak bangsa dalam mengenalkan tanah kelahirannya,” ujar Allan yang merupakan putra dari pemilik Rumah Makan Diponegoro Ahmad Subadi. (advertorial/hms13)

Editor: Kholish Chered
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help