Home »

Opini

Opini

Peran Serta Sekolah terhadap Pelestarian Bumi

Peringatan Hari Bumi sejatinya sebagai moment refleksi, penyadaran diri, sejauh mana kita telah merusak bumi dan sejauh mana pula kita telah menjaga

Peran Serta Sekolah terhadap Pelestarian Bumi
Ilustrasi 

Oleh Fransiska, S.Si
(Fasilitator Jurnalistik Sekolah Alam Balikpapan)
mimisiska84@gmail.com

SENATOR sekaligus pengajar lingkungan hidup berkebangsaan Amerika Serikat, Gaylord Nelson, pada tahun 1970 mencanangkan tanggal 22 April sebagai hari bumi. Pemikiran tersebut lahir karena ia beropini isu - isu lingkungan hidup perlu dimasukkan dalam kurikulum tingkat perguruan tinggi. Dukungan memuncak pada tanggal tersebut yang ditandai dengan demonstrasi besar - besaran mengecam kalangan perusak bumi di Fith Avenue (New York).
Peringatan Hari Bumi sejatinya sebagai moment refleksi, penyadaran diri, sejauh mana kita telah merusak bumi dan sejauh mana pula kita telah menjaga alam ini. Sekecil apapun perubahan alam pasti berdampak bagi kehidupan semua makhluk hidup di dalamnya. Kembali ke tujuan asal penciptaan manusia, "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (Q.S. Al-Baqarah: 30)"
Sebagai Khalifah di muka bumi manusia mengemban tugas menjaga bumi sebaik - baiknya. Jika penulis boleh menganalogikan seperti, "Bumi tanpa B". Kata Bumi disusun oleh huruf B, U, M dan I. Jika tanpa huruf B maka sudah dapat dipastikan hanya akan tersisa tiga huruf yaitu, U, M dan I. Secara pelafalan Umi dan Ummi mirip (meski tidak sama persis) mengandung makna ibu atau bersifat keibuan. Alam atau bumi (lingkungan) sebagai ibu dan manusia sebagai anak. Seorang ibu pasti akan memberikan semua yang terbaik dari yang paling baik kepada anaknya. Untuk membalas kebaikan dan kasih sayang ibunya, anak akan memberikan pula penghormatan dan segala bentuk apresiasi kasih pada ibunya.
Perubahan iklim, akibat faktor - faktor gangguan keseimbangan alam disadari atau tidak telah banyak kita cetuskan. Dikutip dari Buku Science (Elex Media, 2014), dalam waktu 100 tahun terakhir, bumi mengalami kenaikan suhu rata - rata 0,60C dan diperkirakan pada tahun 2030 suhu akan naik 30. Dengan angka nominal kenaikan suhu tersebut dapat mengakibatkan ketebalan es di kutub semakin menipis.
Bumi tidak hampa udara seperti planet - planet lainnya. Pada udara terdapat komponen penyusun gas rumah kaca seperti uap air, karbondioksida dan metan yang berfungsi untuk menyimpan energi surya ( matahari) agar bumi tetap hangat. Dengan aktivitas para oknum penjahat bumi, lapisan ozon yang menjadi tameng (pelindung) bumi dari sinar ultraviolet berbahaya menjadi menipis. Mau rutinitas kita berubah waktu saat matahari telah "tidur"? Sekolah, bekerja, ke pasar, dan semua yang biasanya kita lakukan di siang hari harus diganti ke malam hari akibat kondisi masuknya sinar UV yang tidak terkendali lagi.
Sinar UV dalam kuantitas berlebih dapat mengganggu proses fotosintesis tanaman yang berakibat pada menurunnya hasil produksi tanaman. Selain itu berbagai macam penyakit pun akan merajalela, seperti banyaknya orang yang mengalami gangguan daya penglihatan, bertambahnya penderita kanker kulit, imunitas semakin menurun, gangguan pernapasan dan terjadinya hujan asam. Dapat dipastikan akan sangat sulit mempertahankan hidup normal dalam kondisi tersebut.
Daerah yang kita tinggali atau kunjungi akan berada pada suatu keadaan yang tidak sama. Sektor Pendidikan
Sekolah tidak hanya bertugas mencetak generasi unggul dari sudut pandang akademis saja tetapi juga berkewajiban melahirkan generasi peduli lingkungan. Seperti yang diungkapkan oleh drh. Nyoman Sakyarsih yang membawa Max, putranya mendaki 16 gunung sejak anak kecil tersebut berusia 5 bulan di tahun 2013:
"Jangan sampai dia hanya menjadi anak cerdas, tangguh tapi egois pada lingkungannya".
Laksana mata tombak yang tajam, kata - kata tersebut mempunyai makna yang dalam. Benar, sejatinya kita berkewajiban melahirkan generasi yang tidak egois atau berempati pada lingkungan. Jika drh. Nyoman Sakyarsih berjuang dalam perannya sebagai seorang ibu beranak satu, bagaimana pula dengan sekolah yang memiliki ratusan anak? Bisa dibayangkan berapa kekuatan kita dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan jika para siswa tersebut diberikan pemahaman tentang etika berlingkungan yang benar.
Salah satu cara yang dapat ditempuh melalui jalur pendidikan formal sekolah ialah melalui program Adiwiyata. Program ini merupakan program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Tujuannya untuk menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaan dan penyadaran warga sekolah sehingga di kemudian hari warga sekolah tersebut dapat bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah di Indonesia.
Peran serta sekolah dalam pelestarian bumi (lingkungan) dapat ditempuh dengan berbagai cara. Diantaranya :
1) Green Lab
Tidak hanya sebatas kegiatan bercocok tanam. Hasil panen tanaman tersebut akan dijadikan bahan bekal wirausaha oleh para siswa melalui penjualan antar siswa, wali murid dan guru. Diharapkan akan tumbuh jiwa cinta lingkungan dan kemandirian di setiap anak didiknya.
2) KBM berbasis lingkungan
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah 3R (Reduce, Reuse dan Recycle). Salah satu aksi siswa/i SAMBA (Sekolah Alam Balikpapan) untuk mendukung program 3R ialah memoles roda kendaraan yang sudah tidak layak pakai menjadi pot tanaman.
3) Menjaring kemitraan lingkungan
Pihak sekolah menjaring kemitraan dengan pihak - pihak yang berkaitan dengan lingkungan, misalnya dengan Dinas Pertanian untuk pengadaan bibit tanaman.

4) Transfer informasi peduli lingkungan
Pentingnya pendidikan berwawasan lingkungan semestinya ditransferkan ke pihak eksternal dengan harapan lebih banyak lagi masyarakat yang peduli lingkungan. Sekolah dapat menggandeng pihak media cetak maupun elektronik berupa surat kabar, radio dan televisi dan tentu saja media sosial
5) Mengajak wali murid menanam bersama
Setiap Hari Bumi Sekolah Alam Balikpapan mengadakan kegiatan menanam bersama. Wali murid, para guru, karyawan dan pengurus Yayasan Hijau Borneoku yang menaungi sekolah pada tahun lalu (22 April 2016) terlihat antusias menanam sejak pukul setengah delapan. Tanaman yang ditanam terdiri dari rosella, tomat, terung, cabe, honje dan aneka jenis rimpangan. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help