TribunKaltim/

Ternyata Primata Ini yang Justru Dianggap Mempercepat Musnahnya Bekantan Balikpapan

Ditambahkan, Koordinator Forum Peduli Teluk Balikpapan, Husain Suwarno, keberadaan kawasan hutan di Teluk Balikpapan menghadapi tantangan berat.

Ternyata Primata Ini yang Justru Dianggap Mempercepat Musnahnya Bekantan Balikpapan
tribunkaltim.co/budi susilo
Monyet berhidung panjang atau Bekantan bergelantungan di pohon bakau yang rindang di alam mangrove Giri Indah Balikpapan Utara, Kalimantan Timur. Foto diambil Jumat (2/1/2015) sore. 

TRIBUNKALTIM.CO BALIKPAPAN - Satu hal yang paling mendasar faktor yang sangat berperan dalam membabat habis eksistensi primata bekantan (Nasalis larvatus) tidak semata dari serangan binatang predator seperti buaya dan macan.

Namun yang dianggap paling berperan besar jumlah bekantan cepat habis adalah karena faktor primata yang bernama manusia.

Ini dikatakan oleh Stanislav Lhota M.Sc Ph.D, peneliti primata Bekantan Balikpapan, kepada Tribunkaltim.co pada Minggu (19/3/2017).

"Manusia datang ke mangrove, datang ke pesisir pantai membangun rumah, industri. Bekantan terusir.

Mencari tempat lain yang ternyata tidak banyak sumber makanan, akhirnya mati hilang dari bumi," ujar pria lulusan ilmu biologi dari Universitas Charles, Praha Republik Ceko.

Baca: Jangan Menangkap dan Pelihara Bekantan, Begini Dampaknya

Kata, Stanis, eksistensi bekantan terancam punah mengingat habitat bekantan telah tergusur oleh banyaknya pembangunan kawasan industri yang banyak dibangun dekat pesisir dan hutan mangrove.

Melihat RTRW Kota Balikpapan 2012 telah mengalami perubahan, sangat berbeda dengan yang tahun 2015.

Di dalam RTRW tahun 2012, lahan kawasan industri tambah meluas, memakan area habitat hutan yang ditempati satwa liar. "Mengalami kemunduran. Kelestarian alam kita mulai terancam," tegasnya.

Padahal di RTRW tahun 2005 telah mengakomodir luasan lahan bagi industri. Sampai sekarang tidak dimanfaatkan secara maksimal, lahan sudah banyak yang berstatus kritis tetapi menambah lagi kawasan industri.

"Yang diuntungkan bukan kelestarian alam dan masyarakat Balikpapan secara umum. RTRW yang ada sekarang ini lebih menguntungkan mereka para spekulan tanah," ujar Stanis.

Baca: Inilah Akhir Petualangan Bekantan si Kera Hidung Panjang di Kawasan Perkotaan

Ditambahkan, Koordinator Forum Peduli Teluk Balikpapan, Husain Suwarno, keberadaan kawasan hutan di Teluk Balikpapan menghadapi tantangan berat. Hutan dengan nilai konservasi tinggi di Teluk Balikpapan telah rusak.

Kata dia, pemerintah kota mengejar pertembuhan ekonomi daerah dengan membangun kawasan industri di tempat tersebut namun programnya tidak tepat, dianggap mengancam kelestarian alam setempat.

Sebaiknya, tegas dia, program pengadaan industri di kawasan Teluk Balikpapan dihentikan, dilakukan lagi reboisasi.

Menurutnya, daerah Kota Balikpapan yang dianggap sebagai kota pesisir bisa memanfaatkan hasil maksimal ekonomi dari sektor perikanan dan kelautan serta wisata ekoturisme. (*)

Penulis: Budi Susilo
Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help