TribunKaltim/

Banjir di Kukar

Tiga Desa di Marangkayu Terendam, Suasana Desa seperti Kota Mati

Akibat banjir tersebut, suasana desa seperti kota mati. Jalan semen yang biasanya digunakan berlalu lalang, terpaksa ditutup dengan menggunakan kayu.

Tiga Desa di Marangkayu Terendam, Suasana Desa seperti Kota Mati
TRIBUN KALTIM/ANJAS PRATAMA
Sejak Jumat lalu (31/3/2017), tiga desa di Marangkayu, Kutai Kartanegara, yakni Santan Ilir, Santan Ulu serta Santan Tengah harus bersabar menghadapi air akibat banjir. 

TRIBUNKALTIM.CO, MARANGKAYU -  Terhitung lebih tiga hari sejak Jumat lalu, tiga desa di Marangkayu, Kutai Kartanegara, yakni Santan Ilir, Santan Ulu, serta Santan Tengah harus bersabar menghadapi air akibat banjir yang masih belum surut hingga kini.

Jam masih menunjukkan pukul 12.45 Wita, saat Tribun bersama Taufik, warga Desa Santan Tengah tiba di lokasi banjir, Senin (3/4/2017).

Panas matahari masih terik, namun jalanan, halaman serta beberapa lantai rumah warga basah, bahkan sebagian terendam.

"Ini banjir terparah yang pernah saya alami. Sebelumnya tak pernah seperti ini. Ketinggian air di halaman rumah sudah setinggi dada orang dewasa," ujar Nasrullah, Kades Santan Tengah, saat ditemui di rumahnya.

Nasrullah tak bohong. Tribun melihat sendiri kondisi banjir yang dialami warga Desa Santan, khususnya Santan Tengah, daerah paling parah terkena musibah.

Banjir berbeda seperti yang terjadi di Samarinda/Balikpapan. Air terlihat tak mau surut. Sejak tiba hingga berangkat pulang sekitar pukul 16. 00 Wita, ketinggian air masih tak mau turun.

"Apalagi jika kondisi hujan. Kami takut jika tambah naik kembali. Sekarang saja sudah setinggi ini," ujarnya lagi.

Akibat banjir tersebut, suasana desa seperti kota mati. Jalan semen yang biasanya digunakan berlalu lalang, terpaksa ditutup dengan menggunakan kayu dan bambu.

Pertimbangan jalan yang tak terlihat ketika dilewati menjadi alasan warga menutup jalan. Terendamnya jalan ini pun tak terjadi hanya disekitaran rumah warga, tetapi jauh hingga ke ujung jalan berkilo‑kilo meter jauhnya.

"Semuanya terendam. Jalan yang kita lewati ini bahkan tak sampai setengahnya. Masuk ke dalam, kondisi banjir masih sama. Beruntung, rumah‑rumah warga sebagian besar rumah panggung. Jadi, memang sengaja ditinggikan. Tetapi tetap saja, karena halaman terendam, warga sulit aktivitas. Bahkan, untuk daerah banjir dalam, warga gunakan perahu jika keluar rumah," kata Taufik.

Halaman
123
Penulis: Anjas Pratama
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help