Plesiran ke Yogyakarta, Enak Mana Becak atau Angkutan Online?

Sampai di Yogyakarta, saya langsung manggil becak. Cuma dari hostel tempat saya tinggal di Jalan Tukangan ke Malioboro.

Plesiran ke Yogyakarta, Enak Mana Becak atau Angkutan Online?
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Wisatawan asing menaiki becak di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Jumat (15/4/2016). 

TRIBUNKALTIM.CO, YOGYAKARTA - Yogyakarta selalu di rindu. Liburan ke Yogya rasanya seperti pulang kampung. Belum sampai saja sudah membayangkan gudeknya, batiknya, dan becak.

Sampai di Yogyakarta, saya langsung manggil becak. Cuma dari hostel tempat saya tinggal di Jalan Tukangan ke Malioboro. Kalau jalan kaki sebenarnya bisa cuma 15 menitan. Tapi saya mau becak.

“Malioboro Pakde, berapa?” tanya saya.

"30 ribu saja," jawab abang becak yang hampir paruh baya dengan logat medoknya.

"Hah!" dalam hati. Rp 30.000. Kadung kangen ya sudahlah. Saya akhirnya mikir, kalau setiap pindah tempat saya harus mengeluarkan Rp 30.000. Sehari, bisa Rp 100.000 sampai Rp 150.000. Tiga hari, bisa Rp 300.000 sampai Rp 500.000.

Saya ingat teman saya pernah cerita di Yogyakarta sudah ada taksi dan ojek online. Sambil ngopi saya menerawang. Haruskah saya mengalahkan kekayaan lokal dengan online? Lagi?

Apa bedanya dengan Jakarta? Hampir setiap hari saya menggunakan online. Kebutuhan, mau bagaimana lagi. Akhirnya saya buka aplikasi. Ketiganya benar ada.

Bedanya, tiap aplikasi menyediakan jasa berbeda. Grab hanya ada mobil. Gojek bisa motor bisa mobil. Uber hanya ada motor. Belum lagi ditambah promo.

Saya berhitung. Waduh, kalau saya pakai online, saya bisa menghemat 3-5 kali lipat harga becak idealisme saya untuk mengangkat kekayaan lokal bangsa sendiri.

Sedikit sakit di awal tapi lama-lama pasrah. Selama 3 hari jalan-jalan di Yogyakarta ke mana-mana berkendara online. Murah dan simpel.

Mau dikata apalagi kalau kata orang. Bagaimanapun becak akan selalu dirindukan. Bagaimana jadinya Yogyakarta tanpa becak. Ibarat Jakarta tanpa busway.

Zaman memang berubah menuju era milenial. Perlu dipikirkan bagaimana caranya becak tetap bisa hidup di tengah gempuran aplikasi.

Kalau tidak maka becak hanya onggokan sejarah di museum. Hal yang dirindukan bukan lagi dinikmati.

Seperti lirik lagu KLA Project: Pulang kekota mu, ada setangkup haru dalam rindu... Rindu Yogyakarta ya rindu becaknya.  (Kompas.com/Fira Abdurachman)

Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help