TribunKaltim/

Berau Coal dan PDGI Berau Kembali Adakan Operasi Bibir Sumbing dan Celah Langit-langit. Gratis Lho

Kali ini mendatangkan tim dokter gigi spesialis bedah mulut maksilofasial yang tergabung dalam Celebes Cleft Center (CCC) dari Makassar dan Belanda

Berau Coal dan PDGI Berau Kembali Adakan Operasi Bibir Sumbing dan Celah Langit-langit. Gratis Lho
HO
Ilustrasi pelaksanaan operasi bibir sumbing. Berau Coal bersama PDGI Berau akan melaksanakan operasi gratis bibir sumbing di Tanjung Redeb, Berau, 12-16 April 2017. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - PT Berau Coal (BC) melalui Yayasan Dharma Bakti Berau Coal (YDBBC) bekerja sama dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) cabang Berau menggelar bakti sosial.

Bakti sosial berupa operasi bibir sumbing dan celah langit-langit gratis bertajuk Berau Dentistry Social Care (BDSC) III “International Collaboration Care” di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Rivai, Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur, pada 12-16 April 2017.

BDSC sudah ketiga kalinya dilaksanakan. Kali ini dengan mendatangkan tim dokter gigi spesialis bedah mulut maksilofasial yang tergabung dalam Celebes Cleft Center (CCC) dari Makassar dan Belanda.

Tujuannya untuk membantu dan membangkitkan semangat hidup serta kepercayaan diri penderita bibir sumbing dan celah langit-langit, khususnya yang tidak mampu di Kabupaten Berau.

Proses pengumpulan pasien dan screening medical checkup dilaksanakan pada tanggal 10-12 April 2017 dan dilanjutkan pelaksanaan operasi pada 13-15 April. Sampai saat ini sudah tercatat 28 orang yang siap dioperasi.

Ketua PDGI Berau drg Rustan Ambo Asse menegaskan bahwa BDSC adalah sebuah program kemanusiaan. Khususnya dalam membantu dan membangkitkan semangat hidup serta kepercayaan diri para penderita bibir sumbing dan celah langit-langit.

“Tujuan dari kegiatan ini untuk membantu saudara kita yang mengalami kelainan. Kegiatan operasi ini juga merupakan jalan satu-satunya bagi mereka untuk lebih baik ke depannya dan terus memberikan semangat bagi peserta agar menjalani hidup dengan baik,” ungkapnya.

Menurutnya, penderita bibir sumbing dan celah langit-langit bukan hanya suatu kelainan bagi penderitanya, tapi jauh daripada itu sudah menjadi masalah sosial.

Dia menambahkan, saat penjaringan pasien, sebagian besar pasien hidup dalam kondisi ekonomi lemah dan terpinggirkan dari pergaulan sosial. Bahkan, beberapa di antara mereka putus sekolah karena malu dengan kondisinya.

Bibir sumbing dan celah langit-langit adalah kelainan bawaan yang kasusnya masih cukup tinggi di Indonesia. Di Kabupaten Berau sendiri setiap tahun kelahiran anak dengan kelainan bawaan bibir sumbing atau celah langit-langit masih ditemukan.

Kedepannya diharapkan akan ada BDSC IV dan seterusnya, sebagai program peningkatan derajat kesehatan gigi dan mulut di Kabupaten Berau.

Hal ini juga menjadi salah satu upaya mengupayakan Jabupaten Berau sebagai pusat penanganan kelainan bibir sumbing dan celah langit-langit se-Kalimantan Tim(ur.(*)

Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help