TribunKaltim/

Bayi Hidrosefalus

Di Rumah Berdinding Koran, Bayi Hidrosefalus Tergolek Tanpa Perawatan Medis

Meski usianya baru memasuki tiga bulan, namun kondisi kepalanya terus membesar. Sementara badannya tampak kurus kering.

Di Rumah Berdinding Koran, Bayi Hidrosefalus Tergolek Tanpa Perawatan Medis
(Kontributor Polewali Mandar, Junaedi)
Nelayan tradisonal penghuni rumah berdinding koran dan terpal tak mampu biayai operasi bayinya yang terkena hidrosefalus. 

TRIBUNKALTIM.CO - Haisa, seorang bayi perempuan berusia 3 bulan yang tinggal di rumah panggung berdinding koran dan terpal plastik di Pulau Tangnga (Salama), Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Polman, Sulawesi Barat, tak mampu berobat ke rumah sakit.

Penyakit pembesaran kepala (hidrosefalus) yang diderita sejak lahir kini terus membesar. Kedua orangtuanya, Sahar dan Nursia yang berprofesi sebagai nelayan tradisional dan ibu rumah tangga ini mengaku tak mapu membawa anaknya ke rumah sakit karena alasan tak punya biaya.

Rumah milik Sahar dan Nursia terletak di Pulau Tangnga (Salama), Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar. Untuk menjangkau rumahnya, sejumlah jurnalis yang mendatangi rumahnya Selasa (11/4) kemarin harus menumpang perahu tradisional yang akrab disebut warga dengan sebutan "taksi".

Tiba di rumah panggung berukuran 4x5 meter ini, rombonga jurnalis mendapati Haisa kecil sedang diayun ibunya. Haisa sendiri diketahui mengidap penyakit pembesaran kepala sejak seminggu setelah dilahirkan.

Meski usianya baru memasuki tiga bulan, namun kondisi kepalanya terus membesar. Sementara badannya tampak kurus kering.

Kepada wartawan yang mengunjunginya, Nursia, ibu sang bayi ini menuturkan, bayinya lahir prematur melalui operasi caesar di RSUD Polman. Karena lahir prematur, bayinya harus menjalani perawatan di mesin inkubator.

Dengan modal kartu layanan BPJS, persalinan Nursia pun tak ada kendala. Sejak menjalani perawatan di rumah sakit itulah, perawat dan dokter mengetahui bahwa bayi Haisa mengalami penyakit hidrosefalus.

Tak punya biaya

Dokter meyarankan Haisa agar segera dirujuk ke Makassar untuk menjalani operasi, namun ketua orangtuanya menolak karena alasan tidak mempunyai biaya. Biaya operasi mungkin ditanggung BPJS, namun biaya hidup keluarga di rumah sakit, apalagi tidak punya sanak famili di Makasar, diakui Sahar dan Nursia bukanlah biaya ringan bagi dirinya yang hanya berprofesi sebagai nelayan tradisonal dan ibu rumah tangga.

"Kami sendiri yang meminta keluar dari RSUD. Mungkin kalau biaya pengobatan anak saya masih ditanggung oleh BPJS, tapi untuk biaya hidup dan nginap keluarga selama di Makassar kami tidak punya," kata Sahar diamini Nursia.

Halaman
12
Editor: Maturidi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help