TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Penguatan Keluarga Dengan Tali Literasi

saat ini tidak dapat dipungkiri generasi millennials cenderung tumbuh sebagai digital native daripada kutu buku sejalan dengan perkembangan tekhnologi

Penguatan Keluarga Dengan Tali Literasi
HO-Fransiska
Ilustrasi 

Oleh Fransiska, S. Si
(Pegiat Pendidikan dan Literasi)
mimisiska84@gmail.com

HARI Buku Internasional jatuh setiap tanggal 23 April yang diselenggarakan oleh UNESCO untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta. Sedangkan di Indonesia setiap tahunnya Hari Buku Nasional diperingati setiap tanggal 17 Mei. Penetapan tanggal 17 Mei sendiri merupakan ide yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dari Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar sejak 2002. Di hari tersebut (17 Mei 1980) juga bertepatan dengan peringatan pendirian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) di Jakarta.
Buku dan literasi memiliki hubungan yang sangat erat. Grabe dan Kaplan (1992) dan Graff (2006) mengartikan literasi sebagai sebuah kemampuan untuk membaca dan menulis. Kemudian Cooper (1993), Baynham (1995) dalam Bipayana (2004) mengidentifikasi ruang lingkup literasi yang juga meliputi kemampuan berbicara, menyimak dan berpikir sebagai elemen di dalam proses membaca dan menulis itu sendiri.
Di dalam kitab suci umat islam yakni Al - Quran pun telah diterangkan mengenai literasi yakni, "Iqra" yang berarti "Bacalah" dalam surat Al - 'Alaq ayat 1 - 5. Surat tersebut diterima Rasulullah SAW. ketika beliau berusia 41 tahun di Gua Hira pada malam hari senin 17 Ramadhan. Membaca disini dalam artian yang luas tidak hanya sebatas tulisan akan tetapi juga membaca alam beserta isinya. Kandungan ayat yang mengarah pada literasi tersebut sangat memegang andil dalam pembangunan peradaban islam berlandaskan ketauhidan dan prinsip - prinsip keislaman.
Hal tersebut yang melatarbelakangi lahirnya tokoh - tokoh literasi islam pada awal pembangunan peradaban islam yang mencapai zaman keemasan. Sebut saja nama sekretaris Nabi Muhammad SAW, Zayd bin Tsabit yang menuliskan ayat - ayat Al - Quran selama masa kenabian beliau sehingga membuat Umar Bin Khattab menghimbau bagi siapa saja yang hendak mengetahui tentang Al - Quran musti bertanya kepada Zayd Bin Tsabit sebagai rujukan. Ada pula Hafsah Binti Sereen, seorang budak yang dimerdekakan oleh Anas Bin Malik dan menjadi hafidzah di usia 12 tahun. Selain hafidzah, Hafsah Binti Sereen juga merupakan periwayat sejumlah hadis, muhadits dan fuqaha yaitu orang yang ahli dalam bidang hukum islam. Tokoh lainnya yaitu Abu Ad - Dardaa' yang giat menimba ilmu pengetahuan dan agama. Selain itu ada tokoh wanita muslim, Fatima Al - Fihri yang mendirikan Universitas Al - Qarawiyyin yang merupakan universitas pertama di dunia yang menjadi salah satu pusat pendidikan dan spiritual islam. Kemudian pada tahun 1963, tergabung dalam sistem pendidikan universitas modern di Maroko dengan program - program pembelajaran di luar studi islam.
Dari informasi tersebut kita dapat mengetahui bagaimana mereka terlibat aktif dengan semangat menggebu - gebu memajukan literasi. Sayangnya saat ini tidak dapat dipungkiri generasi millennials cenderung tumbuh sebagai digital native daripada kutu buku sejalan dengan perkembangan tekhnologi komunikasi. Hampir di setiap rumah masing - masing anggota memiliki gawai, bahkan ada yang lebih dari satu per individunya. Bagaimana dengan keberadaan perpustakaan di rumah, mini sekalipun? Tidak semua rumah menyediakan buku - buku bacaan untuk dikonsumsi selain buku pelajaran anak sekolah atau buku penunjang pekerjaan di kantor. Bagi sebagian besar pengguna gawai hanya memanfaatkan gawainya untuk berselancar di media sosial tanpa ada kaitannya dengan up - grade literasi. Sangat disayangkan apabila orangtua menganggap hal ini sebagai suatu kewajaran sebagai pengaruh perkembangan tekhnologi.
Sejatinya, dari lingkungan terkecil yakni keluarga, literasi dapat ditumbuhsuburkan. Bukhori (1995) menyebutkan bahwasanya keluarga sangat dominan dalam perkembangan literasi anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Kwedju (1997) yang menyatakan bahwa sesungguhnya sejak awal perkembangan kebahasaan seorang anak, berarti anak telah berbahasa dan berinteraksi dan membangun makna dengan orangtua atau orang lain di sekitarnya. Artinya, apa yang anak lihat akan mereka tiru. Bila orangtua atau orang - orang sering bersamanya sering membaca maka akan kuat pula dorongan dalam diri anak untuk membaca pula. Mula - mula mereka hanya akan membuka lembar demi lembar halaman dan melihat - lihat gambar atau ilustrasinya. Setelah itu anak akan berusaha mengartikan sendiri gambar atau ilustrasi tersebut sesuai dengan kata - katanya sendiri. Hingga ke tahap selanjutnya dimana anak bisa mandiri membaca. Jika telah mandiri, bukan berarti suatu kesalahan apabila orangtua memberikan waktunya untuk membacakan anak buku - buku.
Untuk mendukung penguatan keluarga melalui literasi, orangtua perlu mengkondisikan anak siap literasi. Misalnya dengan menyediakan buku - buku bacaan bermutu yang sesuai dengan usia anak, bersedia membacakan buku - buku tersebut, sabar menjawab serentetan pertanyaan anak mengenai isi buku dan tidak memotong atau merendahkan anak saat anak salah membaca huruf atau kata dan meminta anak menuliskan ulang apa yang mereka baca mulai dari kata yang sederhana dulu.
Mengapa literasi dapat menjadi salah satu cara penguatan keluarga?
1.Banyak baca banyak ilmu
Tidak ada sekolah dperuntukkan khusus orangtua agar orangtua bisa belajarasah, asih dan asuh anak dengan baik. Sementara anak bukanlah robot tanpa akal dan hati sehingga terkadang menimbulkan "masalah" yang membutuhkan penanganan spesial orangtua. Sudah banyak buku - buku parenting yang ditulis oleh pakar - pakar parenting yang dapat dijadikan modul pembelajaran oleh orangtua. Hanya saja tetap perlu diingat bahwa anak - anak itu berbeda meski mereka sekandung sekalipun. Acapkali solusi "A" dari sebuah buku tidak bisa diterapkan untuk anak lain kendati permasalahan mereka sama, akan banyak faktor yang memengaruhi. Untuk itu orangtua hendaknya selektif memilih buku dan mengubahsuai atau memodifikasi sesuai kondisi di rumah sendiri. Dari sekian banyak ilmu dari buku akan menjadikan orangtua kreatif dan inovatif.
2.Pola pikir kritis dan kreatif
Tidak hanya orangtua, anak yang sering membaca buku juga akan memiliki pola pikir kritis dalam menanggapi dan menyelesaikan suatu permasalahan dan menjadikan anak merancang sesuatu sesuai imajinasinya setelah mendapatkan informasi dari buku bacaan.
3.Menguatkan bonding orangtua - anak
Dengan memiliki hobi yang sama, yakni membaca akan menambah ikatan keharomonisan antara orangtua dan anak. Misalkan dengan membacakan buku saat anak - anak akan tidur. Kegiatan ini juga sebagai pelepas lelah orangtua setelah seharian beraktifitas.
4.Kesetiakawanan sosial
"Buat apa beli koran atau buku? 'Toh sekarang ada internet. Tinggal "Klik" keluar semua informasi," kata salah seorang orangtua.
"Rugi beli buku, selesai dibaca diapakan? Ditumpuk aja 'kan?" kata salah seorang anak.
Sementara itu, "Susah sekarang, sepi pembeli koran. Semoga masih ada yang mau beli supaya tidak tutup lapak," kata salah seorang penjual koran.
" Sudah sering begadang nulis, lama nunggu cetak dan terbitnya. Paling senang itu kalau lagi butuh terus ada royalti masuk," kata salah seorang penulis.
Ayah dan bunda, seringkali kita memandang sesuatu hanya berdasarkan penilaian subyektif. Mungkin kita sering meremehkan buku atau koran karena mengandalkan internet. Sejatinya koran dan buku atau media cetak lainnya membutuhkan ayah dan bunda untuk tetap "hidup". Banyak elemen yang bisa ayah dan bunda tolong dari buku atau suratkabar yang anda beli. Itulah kesetiakawanan sosial.
5.Perbedaharaan kata.
Dari buku atau media cetak lainnya kita dan anak - anak bisa menambah kosakata baru. Apabila di sebuah tulisan yang kita baca tertulis kata yang belum familiar di telinga secara otomatis kita akan berusaha mencari artinya agar memahami tulsian tersebut secara utuh. Tentu saja semakin banyak membaca, semakin banyak menemukan kosakata baru maka akan semakin kaya pula perbendaharaan kita. Kemampuan menulis anak pun semakin terasah dengan literasi yang diterapkan di rumah. Mari kita kuatkan keluarga dengan tali literasi. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help