TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Belajar Mengelola Alam dari Hawaii

binatang-binatang tersebut adalah bio indikator. Artinya mereka menjadi indikator atas baiknya kualitas lingkungan di Hawaii.

Belajar Mengelola Alam dari Hawaii
net
Ilustrasi Pantai Hawaii 

Oleh : Praja Rachman Putra
Peserta Young South East Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellows 2017 USA, Ketua HAKLI Kaltim bidang Riset dan Pengembangan SDM.

"If you take care the land, the land will take care of you"
"Jika kamu peduli pada alam/ tanah, maka alam akan peduli padamu"
-Petuah Hawai'i-
Saat ini saya sedang di California. Tiga minggu lalu saya menghabiskan waktu di Hawaii. Saya sedang mengikuti YSEALI Academic Fellows, sebuah leadership training bagi pemuda dan pemudi se ASEAN.
Saat ini ada sembilan negara yang terlibat, minus Brunei Darussalam. Tema yang kami ambil adalah tentang lingkungan dan pengelolaan alam.
Hawaii disebut-sebut sebagai surga dunia. Tempat wisata yang tak hanya terkenal di Amerika tetapi juga dunia. Bagaimana Hawaii bisa menjadi sepopuler itu? Itulah yang sempat saya pikirkan sebelum menempuh 14 jam perjalanan ke Hawaii.
Dan ketika mendarat di Hawaii lalu masuk ke area universitas Hawaii, kita tak akan merasa seperti berada di kampus. Di sini pohon-pohon dan taman dirawat setiap hari. Akan ada mesin penyiram tanaman otomatis yang akan berfungsi saat pagi hari dan malam hari. Cuitan-cuitan burung berkicau dengan indahnya. Dan binatang-binatang kecil itu tak takut berada di dekat manusia. Seolah-olah mereka amat akrab dengan manusia.
Di hari kedua kami pergi ke pantai Wakiki untuk berlayar menggunakan sebuah perahu. Di pinggir pantai, berderet hotel-hotel yang tinggi dan besar. Pantai Wakiki menjadi area wisata yang cukup popular. Selain hotel terdapat toko- toko souvenir di sepanjang jalan.
Ketika kami berlayar, tak lama kami melihat lumba-lumba. Segerombolan lumba-lumba. Padahal areanya sangat dekat dengan pantai. Sekitar 30 meter. Lalu kami melihat penyu dan ikan paus. Banyak yang kemudian bertanya. Apa yang membuat binatang-binatang ini berada di area yang sangat dekat dengan manusia.
Salah satu rekan dari Indonesia menceritakan bahwa binatang-binatang tersebut adalah bio indikator. Artinya mereka menjadi indikator atas baiknya kualitas lingkungan di Hawaii. Kedekatan mereka dengan manusia juga karena manusia tak menjadi ancaman sama sekali untuk mereka.
Kamipun berkunjung ke salah satu wisata teluk yang bernama Hanauma Bay. Yang merupakan area konservasi. Di sini karang-karang dijaga dengan istimewa tetapi juga tetap dapat dinikmati turis. Disinilah saya mendapatkan pepatah Hawaii tersebut. Kemudian mengetahui kuatnya keterikatan penduduk Hawaii terhadap pulaunya. Mereka memahami sistem ketergantungan antara manusia dan pulaunya. Bagaimana alam akan menghargai manusia jika kita berlaku yang sama atas alam.
Hal ini bisa saja menjadi sesuatu yang sederhana untuk diucapkan tetapi cukup rumit untuk dikerjakan. Mengapa begitu? Karena sebagai negara berkembang kita memang menghadapi tantangan-tantangan kebutuhan mendasar seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kemiskinan. Sementara tantangan-tantangan kerusakan lingkungan dan perubahan iklim terus mengejar-mengejar kita.
Namun kita juga tak bisa meyalahkan hal tersebut begitu saja. Kita kemudian perlu memikirkan dan merencanakan secama matang bagaimana cara mengolaborasikan kebutuhan mendasar itu dengan usaha menjaga dan memperbaiki lingkungan. Tantangan tidak akan pernah selesai, karena itu kita harus tetap berusaha mengatasi semua tantangan.
Banjir beberapa hari di Samarinda mungkin menjadi tanda bagi kita untuk mulai menghargai alam. Bagaimana caranya? Yang paling sederhana adalah dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat. Seperti di sungai maupun di jalanan. Pada level yang lebih tinggi, advokasi pada regulasi mengenai pengelolaan ruang terbuka hijau dan eksplorasi sumber daya alam mestilah menjadi perhatian. Karena hal tersebut akan berimplikasi terhadap kualitas kesehatan lingkungan. Satu-satunya bumi yang kita tinggali.
Sudah banyak analisis mengenai masalah banjir dan persoalan lingkungan lainnya di Samarinda. Tinggal bagaimana semua elemen; pemerintah, ormas, OKP, institusi pendidikan bersama-sama saling berkolaborasi untuk menyelesaikan semua masalah yang ada.
Para politisi harus mulai berpikir bijak memikirkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Samarinda sebagai kota dengan populasi terpadat di Kalimantan Timur. Saat ini semuanya persoalan niat dan bagaimana kita menghargai alam. Sekali kita menghargai alam maka alam akan berkali-kali lipat menghargai kita. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help