TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Antara Riba dan Ekonomi Masyarakat

Sadar atau tidak riba telah menjakiti dan merasuki hampir seluruh sendi-sendi perekonomian Indonesia.

Antara Riba dan Ekonomi Masyarakat
Net/Google
Ilustrasi 

Fahmi Syam Hafid B.Irkh (Hons)
Pegiat Ekonomi Islam Kota Tarakan
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Indonesia
fahmisyam@gmail.com

Sadar atau tidak riba telah menjakiti dan merasuki hampir seluruh sendi-sendi perekonomian Indonesia. Tak terlepas di masyarakat, bahkan praktek riba seperti pinjam meminjam kemudian ditambahi bunga pun seolah telah menjadi hal biasa dan wajar.
Padahal kalau melihat dampak yang akan ditimbulkan itu sangat luar biasa, gara-gara bunga betapa banyak orang yang semula hidup bahagia pada akhirnya menderita tercekik utang karena besaran bunga yang ada, kemudian tak sedikit juga kasus bunuh diri, perampokan yang semua bermula dari pinjaman yang berbunga. Pinjaman yang memilii tambahan ini lah kemudian yang dikenal sebagai Riba Qard dalam istilah Fiqh Muamalah.
Banyak faktor dalam analisisnya yang dapat mempengaruhi seseorang terjerumus kedalam praktek riba yang membahayakan tersebut. Misalnya praktek perilaku konsumtif masyrakat yang sangat hedonisme, dimana mengukur kebahagian dengan materi dan kebendaan. Sehingga memaksa diri untuk memiliki sesuatu tersebut melalui pinjaman yang berbunga.
alasan selanjutnya karena ketidaktauan masyarakat akan bahaya riba dan ancaman para pelaku riba tersebut, sehingga masyarakat tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sehingga tulisan ini menfokuskan kepada praktek riba pinjam-meminjam (Qard), serta implikasinya terhadap ekonomi masyarakat, serta pandangan Islam terhadap prilaku riba tersebut.
Tak sedikit dalam bisnis yang dilakukan oleh masyarkat saat ini masuk dalam riba qard baik yang dilakukan oleh individu maupun lembaga keuangan konvensial. Sebagai contoh, misalnya si A meminjamkan uang Rp 1 juta kepada si B, dengan kesepakatan si B akan membayar Rp 1,5 juta. Uang Rp 500 ribu rupiah yang dibayarkan ini yang disebut dengan Riba Qardh, karena terjadi transaksi pinjam meminjam.
Begitu juga praktek riba biasa juga terdapat pada lembaga-lembaga finance konvensional, seperti pengadaan kredit pembiayaan kendaraan bermotor. Riba ini muncul karena kepakatan nominal rupiah yang harus dicicil tiap bulannya, tanpa memperhitungkan kondisi ekonomi pihak nasabah, Bahkkan memberikan denda bagi mereka ketika mengalami keterlambatan dalam pembayarannya.
Dalam beberapa contoh diatas, terlihat bahwa baik indiividu maupun lembaga pemberi kredit selalu mensyaratkan bunga yang besarnya tetap dan ditentukan terlebih dahulu di awal transaksi (Fixed and predetermind rate). Padahal nasabah yang mendapatkan pinjaman itu tidak mendapatkan keuntungan yang fixed and predetermind juga, karena dalam bisnis selalu ada kemungkinan rugi, impas atau untung, yang besarannya tidak dapat ditentukan diawal.
Contoh-contoh yang disebutkan diatas merupakan substansi dari riba Qardh, secara umum riba Qardh sebagaimana yang dijelaskan adiwarman karim dalam bukunya Bank Islam menyatakan bahwa riba qardh merupakan riba yang terjadi pada transaksi utang-piutang yang tidak memenuhi kriteria untung muncul bersama risiko (al-ghunmu bil hurmi) dan hasil usaha muncul bersama biaya (al-kharaj bidh dhaman).
Sehingga terlihat dalam prakteknya, pihak peminjam terkesan mengabaikan unsur kemanusian dimana tidak memperhatikan kondisi perekonomian seseorang yang dalam keadaan susah kemudian diwajibkan untuk membayar pinjaman beserta dengan bunganya. Misalnya kaum dhuafa, dimana melakukan pinjaman untuk memenuhi kebutuhanya sehari-hari, akan tetapi diberatkan lagi dengan bayaran cicilan bunga. Dan ini dapat menimbulkan tindakan zalim terhadap salah satu pihak.
Secara hukum Islam, riba Qardh diharamkan berdasarkan Al-Qur'an dan Ijma ulama. Sebagaimana dalam surah Al-Baqarah : 275 ..Allah SWT telah menghalalkan Jual beli dan mengharamkan riba. Kemudian diperkuat oleh konsensus para ulama yang mengatakan bahwa riba qardh itu diharamkan sesuai dengan kaidah fikih "setiap pinjaman yang memberikan tambahan manfaat (kepada kreditor) itu termasuk riba.
Bahkan tidak sedikit ancaman keras bagi mereka yang melakukan riba dalam aktivitas ekonominya. Sebagaimana dijelaskan dalam surah al-baqarah ayat 279 yang mengatakan bahwa riba termasuk dalam dosa besar, dan Allah SWT dan Rasul-Nya akan memerangi mereka pelaku riba.
Berikut beberapa dampak negatif bagi mereka yang melaksanakan praktek riba, Pertama, Dampak Ekonomi, akibat Bunga sebagai biaya utang, maka semakin tinggi suku bunga, maka semakin tinggi juga harga yang akan ditetapkan pada suatu barang. Misalnya seorang pedagang yang terjerat riba, karena berfikir untuk membayar utang ditambah bunga, maka secara otomatis harga barang yang dijual pun turut dinaikkan. Kemudian, dengan rendahnya tingkat penerimaan peminjam dan tingginya biaya bunga, dapat menyebabkan peminjam tidak akan pernah keluar dari ketergantungan, terlebih lagi bila bunga atas utang tersebut terus dibungakan. Contoh paling nyata adalah utang negara-negara berkembang kepada negara maju, yang pada akhirnya negara-negara pengutang harus terus berutang lagi untuk membayar bunga dan pokoknya.
Kedua, dampak sosial kemasyarakatan. Riba yang terjadi menyebabkan pendapatan yang didapat secara tidak adil. Para pengambil riba dituntun untuk selalu untung ketika mengelola duit pinjaman tersebut, sehingga seolah memaksa untuk berusaha dan mengembalikannya dengan bunga. Padahal, siapapun tidak bisa memastikan apabila berusaha selalu mendapatkan keuntungan karena adakalanya juga mendapatkan kerugian. Dan menetapkan takaran riba, seorang peminjam tersebut sudah harus memastikan bahwa usaha yang dikelola tersebut pasti untung. ini termasuk kezhaliman.
Ada beberapa manfaat dari adanya larangan riba bagi masyarakat, Pertama, uang tidak boleh menjadikan komoditas, artinya bahwa uang tidak boleh melahirkan uang akan tetapi uang hanya sebagai alat tukar dalam perdagangan barang dan jasa. Kedua, Islam tidak mengenal suatu keuntungan tanpa ikut merasakan kerugikan (al-ghunmu bil ghurmi) akan tetapi juga harus menanggu rugi, ada untung. Ketiga, riba jahiliah melanggar kaidah fikih kullu qardhin jarra manfa'atan fahuwa riba' bahwa setiap pinjaman yang memberikan manfaat -kepada kreditor- adalah riba. Keempat, mencegah para rentenir berbuat zhalim kepada penerima pinjaman karena praktek riba berarti pemberi pinjaman mengeksploitasi penerima pinjaman dengan meminta Bunga atas pinjaman yang diberikan.
Berdasarkan paparan sebelumnya, dapat ditegaskan kembali, bahwa riba qardh dilarang karena bertentangan dengan prinsip al-gunmu bil ghurmi. Dimana mengharapkan keuntungan tanpa mau menerima resiko kerugian. Disisi lain prilaku riba tersebut dapat menimbulkan tindakan kezhaliman disatu pihak. Sehingga solusi dari semua praktek riba tersebut adalah kembali kedalam pemahaman ekonomi Islam yang menjadi solusi bukan sekedar opsi terhadap permasalahan ekonomi yang terjadi. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help