1.000 Tanda Tangan Akan Dikumpulkan di Deklarasi Antihoax Kaltim

Dengan beragam agenda politik tersebut, Gerakan Antihoax mutlak diperlukan sebagai garda terdepan.

1.000 Tanda Tangan Akan Dikumpulkan di Deklarasi Antihoax Kaltim
TRIBUN KALTIM / RAFAN DWINANTO
Ketua Gerakan Antihoax Kaltim Charles Siahaan dan Ketua IJTI Kaltim Suriyatman, saat talkshow beberapa waktu lalu 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Rafan A Dwinanto

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pengumpulan 1.000 tanda tangan tokoh Kaltim akan menandai deklarasi antihoax yang bakal dihelat di Plenary Convention Hall, Sempaja, Samarinda, Sabtu (22/4/2017), ini.

1.000 tanda tangan ini akan memecahkan rekor di Museum Rekor Indonesia (MURI).

Selain para tokoh provinsi, deklarasi antihoax yang dimotori jurnalis di Kaltim ini akan dihadiri Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkoinfo), Rudiantara.

Sebagai penunjang sosialisasi gerakan ini, nantinya juga akan didukung siaran langsung radio dan talkshow di sejumlah televisi lokal Kaltim. 

Ketua Gerakan Antihoax Kaltim, Charles Siahaan, mengatakan, beragam persiapan menuju deklarasi sudah rampung. Sejumlah media cetak dan elektronik lokal dan nasional, juga dipastikan akan ikut ambil bagian dalam deklarasi ini.

"Ini wujud komitmen bersama para jurnalis dan pemerintah dalam memerangi hoax," katanya, Kamis (20/4/2017).

"Mengapa gerakan ini perlu dideklarasikan? Karena tahun depan hingga 2019 merupakan tahun politik. Di Kaltim ada pemilihan gubernur dan pemilihan legislatif, sementara di tingkat nasional akan ada pemilihan presiden," ujarnya.

Dengan beragam agenda politik tersebut, Gerakan Antihoax mutlak diperlukan sebagai garda terdepan.

Senada, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kaltim, Suriyatman menegaskan, gerakan ini akan mengambil peran penting dalam tahun politik di Kaltim dan nasional.

 Berdasarkan survei Masyarakat Telematika Indonesia, kata Suriyatman, jenis hoax yang sering  diterima masyarakat adalah sosial-politik-pilkada dengan presentase 91.80 persen. 

Sedangkan diurutan kedua, isu sara sebesar 88.60 persen. Terakhir, yakni jenis hoax terkait  kesehatan, makanan dan minuman, penipuan keuangan, dan sebagainya.

"Intinya, gerakan ini terbentukdari rasa kepedulian para jurnalis di Kaltim akan maraknya informasi dan berita bohong," jelas Suriyatman. (*)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help