Jangan Sampai Kasus Gizi Buruk Terulang, Perlu Lintas Sektor Tangani Masalah Ini

Setelah lebih dari seminggu dirawat, berat badannya sudah bertambah dari 4,3 kilogram menjadi 4,8 kilogram.

Jangan Sampai Kasus Gizi Buruk Terulang, Perlu Lintas Sektor Tangani Masalah Ini
TRIBUN KALTIM/DOAN PARDEDE
dr Nur Hamidah 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Kondisi Anas Faisal Alfath, bayi penderita gizi buruk yang kini dirawat di kamar Jerry, Ruang Perawatan Anak Flamboyan RSUD Soemarno Sosroatmotjo, Jalan Cendrawasih, Tanjung Selor, Kamis (20/4/2017) kian membaik.

Setelah lebih dari seminggu dirawat, berat badannya sudah bertambah dari 4,3 kilogram menjadi 4,8 kilogram.

Sesak napas, demam dan infeksi paru-paru yang sebelumnya diderita juga sudah berangsur-angsur hilang. Saat ini, dokter yang merawat fokus untuk memberikan asupan gizi.

Awalnya kata dr Nur Hamidah, dokter spesialis anak di RSUD Soemarno Sosroatmotjo menjelaskan, sesuai tata laksana penanganan gizi buruk, yang pertama-tama dilakukan adalah menstabilkan kondisi tubuh dan menghilangkan infeksi.

Baca: Keluarga Balita Penderita Gizi Buruk: Jangankan Bayar Iuran BPJS Kesehatan, Untuk Makan Saja Susah


Setelah itu, barulah dilakukan penanganan terkait asupan gizi. Targetnya, berat badan Anas harus bisa mencapai 7 kilogram.

"Infeksi sudah teratasi dan berat badan sendiri sudah mencapai 4,8 kg," kata Hamidah.

Perlu dipahami kata Hamidah, pihaknya tidak bisa menjamin bahwa kasus gizi buruk ini tidak bakal terulang.

Dimana seperti diketahui, terjadinya gizi buruk diakibatkan banyak hal, khususnya yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Jika penanganan yang dilakukan tidak menyentuh akar permasalahan yang ada, bukan tidak mungkin kasus gizi buruk terus berulang.

Di sinilah menurutnya diperlukan kerjasama lintas sektor mulai dari Kepala Desa, Camat hingga instansi terkait untuk bersama-sama menyelesaikan masalah tersebut.

"Kita dari kesehatan yang memantau dari bidang kesehatannya. Berarti yang lain, dari lintas sektor," ujarnya.

Hamidah juga menggarisbawahi bahwa gizi buruk juga juga bisa diakibatkan kurang pengetahuan dan adanya kesalahpahaman di tengah-tengah masyarakat.

Makanan sehat, menurutnya tidak selalu identik dengan mahal. Sepanjang kaum ibu khususnya yang tengah menyusui anak makan makanan dengan gizi berimbang, kasus gizi buruk ini bisa teratasi.

"Ibu itu yang makan yang sehat-sehat, dari yang ada di sekitar. Ada tempe, tahun, ikan bisa mancing. Rajin menyusui anaknya, nggak akan terjadi gizi buruk," jelasnya.

Khusus untuk kasus Anas yang ditinggal pergi sang ibu, menurutnya juga masih ada solusi.

Pemberian susu kaleng oleh sang nenek untuk menggantikan Air Susu Ibu (ASI), menurutnya adalah sebuah kesalahan.

Tentu saja kata Hamidah, kandungan yang ada di susu kaleng tidak sebanding dengan ASI.

Bahkan susu formula sangat tidak direkomendasikan untuk memberikan susu formula kepada bayi.

Untuk kondisi Anas ini, sebenarnya bisa dilakukan relaktasi.

Relaktasi ini jelas Hamidah, sudah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Dalam relaktasi ini, ASI diberikan oleh orang lain.

Memang menurutnya, melakukan relaktasi ini cukup sulit dan butuh waktu. Namun beberapa tenaga medis di Kabupaten Bulungan sudah pernah mengikuti pelatihan terkait relaktasi tersebut.

"Jadi misalnya dia punya tante, tantenya ini bisa dibuat jadi menghasilkan ASI," jelasnya.

Dia juga menjelaskan bahwa anak yang masa kecilnya pernah menderita gizi buruk tetap bisa hidup normal seperti anak-anak lainnya.

"Gizi buruk itu hanya akan berdampak pada saat dia menderita gizi buruk. Biasanya itu memang infeksi paru," jelasnya. (*)



Penulis: Doan E Pardede
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help