TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Membaca ‘Lagi’ Kartini

Memang perjuangan Kartini "hanya" berkutat pada bahan bacaan dan tiada hari yang dia lalu tanpa membaca dan tidak seheroik berperang memanggul senjata

Membaca ‘Lagi’ Kartini
TribunKaltim/net
Selamat Hari Kartini 

Oleh : Suparmanto
Guru di SMKN 2 Penajam Paser Utara
artikel_suparmanto@yahoo.com

April. Sejenak mari kita bersama-sama mengingat Kartini. Bukan dari sudut pandang "dapur" dan "rumahan" namun lebih pada pemikiran-pemikiran besar dari perempuan yang dipingit diusia muda tersebut. Perempuan yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara Jawa Tengah itu merupakan tokoh sentral bagi perjuangan emansipasi wanita Indonesia. Banyak seremonial dilaksanakan untuk mengenang perjuangan dan peran besar Kartini bagi kemajuan peradaban bangsa ini. Namun yang menjadi catatan penulis adalah perayaan yang kita helat bersama itu seringkali masih berkutat pada praksis seremonial dan gebyar pesta namun (kadang) kering dari ide-ide besar Kartini. Bahkan generasi perempuan yang menjadi pokok perhatian pemikiran Kartini, tidak sepenuhnya mengenal sosok pejuang emansipasi wanita ini. Sosok Kartini tidaklah cukup hanya diwakili dengan kontes pakaian kebaya, sanggul, dan kecantikan serta demo memasak pada peringatan tanggal 21 April semata, namun mengenal dan meneladani pemikiran Kartini sebagai titik tolak memajukan peradaban bangsa jauh lebih penting.
Memang perjuangan Kartini "hanya" berkutat pada bahan bacaan dan tiada hari yang dia lalu tanpa membaca dan tidak seheroik berperang memanggul senjata di medan pertempuran semacam Srikandi Indonesia sebut saja Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, atau Martha Christina Tiahahu. Namun seorang Pramoedya Ananta Toer (2003: 113) menyatakan bahwa "ia telah sampai pada suatu sikap, suatu pemihakan dan sikap ini bukanlah hasil suatu sovinisme emosional, tetapi hasil pengetahuan dan pengamatan sosial yang lebih terperinci sehingga dijaman modern nilainya lebih baik daripada pemberontakan fisik yang hanya didorong oleh sovinisme emosional atau kebencian terhadap bangsa asing semata".
Ide-ide besar Kartini diakui oleh banyak kalangan telah mampu menginspirasi dan menggerakkan perjuangan kaum perempuan untuk lepas dari jerat kebodohan dan ketertinggalan terutama pada dunia pendidikan. Dan patut untuk dicatat bahwa konsen perempuan kelahiran Jepara itu ternyata tidak hanya berkutat pada persoalan kaum perempuan saja, tapi juga pendidikan bagi bangsanya secara keseluruhan. Di mata Kartini, pendidikan memiliki peran yang signifikan mengangkat derajat dan martabat bangsa. Bahkan Kartini konsisten mengemukakan pentingnya pendidikan yang mengasah budi pekerti atau pada saat kekinian lebih populer dengan istilah "pendidikan karakter".
Membaca dan mengkaji pemikiran Kartini terkait pendidikan, terlebih yang berkaitan dengan pendidikan watak (karakter) masih relevan untuk dijadikan bahan referensi bagi dunia pendidikan kita saat ini. Apalagi pada era modern dimana arus informasi dan budaya telah mencerabut watak dan karakter bangsa Indonesia dari akar kulturalnya. Jika kita bermufakat bahwa pendidikan merupakan proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi beradab serta pendidikan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan (baca: enkulturasi) dan penyaluran nilai (baca: sosialisasi) (Adnan, 2010). Maka pendidikan harus mampu berperan mempertahankan nilai-nilai moral (karakter) yang berpijak dari budaya bangsa (nation culture) dari bias-bias negatif kemajuan teknologi informasi dewasa ini. Karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang dimiliki warga negara Indonesia yang mencerminkan sikap dan tindakan-tindakan yang melahirkan suatu kebajikan berdasarkan nilai yang berlaku di masyarakat dan bangsa Indonesia. Bukan karakter impor yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesantunan dan kepatutan "timur".
Arti Penting Pendidikan Watak
Degradasi moral saat ini sedikit banyak telah ikut andil berperan merusak berbagai sendi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka mengoptimalkan peran pendidikan dalam pembentukan karakter peserta didik urgen untuk dilakukan. Pendidikan karakter merupakan suatu proses penanaman nilai karakter (watak) bangsa kepada peserta didik yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
Pendidikan karakter secara terperinci dapat dipilah menjadi empat bagian utama yaitu karakter berbasis nilai religius, yang merupakan kebenaran wahyu Tuhan; karakter berbasis nilai-nilai budaya, antara lain yang berupa budi pekerti, Pancasila, apresiasi sastra, keteladanan tokoh-tokoh sejarah dan para pemimpin bangsa; karakter berbasis lingkungan; dan karakter yang berbasis pada potensi diri, yaitu sikap pribadi, hasil proses kesadaran pemberdayaan potensi diri yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Bagi Kartini "kewajiban seorang pendidik belumlah selesai jika ia hanya baru mencerdaskan pikiran saja; bahwa tahu adat dan bahasa serta cerdas pikiran belumlah lagi jaminan orang hidup susila ada mempunyai budi pekerti" (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon 21-01-1901). Maka pendidikan bagaimana yang diimpikan Kartini? "Pendidikan yang bukan semata-mata didasarkan atas kecerdasan otak, melainkan yang sungguh-sungguh memperhatikan akhlak pula" demikian ungkapan lebih lanjut dari Kartini akan arti penting sebuah pendidikan karakter.
Mengapa Kartini memiliki perhatian yang serius tentang arti pentingnya pendidikan watak? Sehingga dia pernah mengadu "Duh, karena itu aku inginkan, hendaknya di lapangan pendidikan itu pembentukan watak diperhatikan dengan tidak kurang baiknya" (Ananta Toer, 2003:103). Apakah dia telah memperkirakan akan terjadinya penyimpangan moral yang begitu dahsyat dikalangan anak-anak bangsanya kelak dikemudian hari? Pertunjukkan degradasi moral seperti penyalahgunaan narkoba, radikalisme pelajar, pornografi dan pornoaksi, plagiarisme, dan menurunnya nilai kebanggaan berbangsa dan bernegara yang semakin meningkat merupakan fenomena kekinian yang terjadi. Maka tidak berlebihan bila Kartini pernah mengungkapkan bahwa "kecerdasan otak saja tidak berarti segala-galanya. Harus ada kecerdasan lain yang lebih tinggi, yang erat hubungan dengan yang lain untuk mengantarkan ke arah yang ditujunya. Di samping otak, juga hati harus dibimbing, kalau tidak demikian peradaban hanya tinggal permukaan".
Dalam konteks pendidikan formal kekinian pendidikan karakter terintegrasi kedalam setiap mata pelajaran. Sehingga pada akhir proses pembelajaran setiap mata pelajaran peserta didik harus mampu mencapai ketuntasan minimum sikap. Kompetensi ini harus dicapai peserta didik sebagai parameter formal bahwa peserta didik memiliki karakter yang baik. Namun fakta dilapangan menunjukkan nilai sikap "baik" peserta didik yang tertulis diraport berbanding terbalik dengan kondisi empirik. Jika didalam raport peserta didik mampu menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya, maka kejadian pesta seks dikalangan pelajar tidak seharusnya terjadi. Demikian pula seandainya peserta didik dianggap mampu mentransformasi diri dalam berperilaku jujur, tangguh mengadapi masalah, kritis dan disiplin dalam melakukan tugas belajar matematika maka seharusnya dalam kehidupan sehari-hari tidak kita jumpai adanya mantan siswa yang mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan hidup.
Pada akhirnya pesan Kartini agar "memberi kesempatan kepada anak bangsa, laki-laki dan perempuan untuk mencari kepandaian agar mereka mampu membawa tanah air dan bangsanya ke arah perkembangan jiwa, ke arah kecerdasan pikiran serta kemakmuran dan kesejahteraan" merupakan tugas bersama agar gagasan besar Kartini tetap (bisa) membumi di Bumi Pertiwi tercinta ini. Selamat Hari Kartini. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help