TribunKaltim/

Duh, WNI Deportan Kabur dari Penampungan, Kepincut Kembali ke Malaysia?

Mereka harus melengkapi diri dengan surat rekomendasi dari Konsulat Republik Indonesia agar bisa dibuatkan dokumen legal.

Duh, WNI Deportan Kabur dari Penampungan, Kepincut Kembali ke Malaysia?
HO/Penerangan Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN)
Ratusan TKI tiba di Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, usai di deportasi dari Tawau, Malaysia, karena terlibat sejumlah permasalahan, Senin (27/3/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Niko Ruru

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang dideportasi dari Negara Bagian Sabah, Malaysia, kabur dari penampungan di rumah susun sewa sederhana (rusunawa) Sedadap, Kecamatan Nunukan Selatan.

Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kabupaten Nunukan, Edi Sujarwo mengakui sejumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dideportasi setelah menjalani hukuman di Malaysia itu kabur dari tempat penampungan.

Dia menduga, para deportan tersebut kabur karena mendapat iming-iming dari calo TKI. Hal tersebut didukung dengan kondisi rusunawa yang begitu terbuka.

‘’Meskipun dijaga, apa mereka bisa melarang kalau TKI mau beli rokok ke warung atau pergi ke pantai? Mereka bukan tahanan. Jadi faktor itu yang membuat mereka mudah kabur,’’katanya, Minggu (23/4/2017).

Edi belum tahu persis jumlah deportan yang kabur. Namun dia memastikan, orang-orang yang melarikan diri dari penumpangan dimaksud merupakan TKI deportan dari Malaysia. Bukan calon TKI yang baru-baru ini ditangkap di Pulau Sebatik.

Saat ini tempat penampungan rusunawa dihuni 515 TKI. Mereka terdiri dari 470 deportan asal Malaysia dan 45 calon TKI yang sedang menunggu persidangan.

Edi mengakui, penanganan TKI ilegal memang cukup rumit. Sistem yang diterapkan saat ini belum bisa menjadi solusi yang diandalkan untuk penanganan TKI ilegal.

“Masih banyak PR yang belum terpecahkan, di antaranya kasus WNI yang memiliki dokumen lengkap dan resmi sebagai TKI, namun ternyata keberadaannya di Malaysia hanya sebagai pendamping suami,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, masih ada WNI kelahiran Malaysia yang tidak memiliki dokumen legal sehingga ikut dideportasi melalui Kabupaten Nunukan.

Mereka harus melengkapi diri dengan surat rekomendasi dari Konsulat Republik Indonesia agar bisa dibuatkan dokumen legal.

“Kami membuat berdasar rekomendasi tersebut,’’ jelasnya.

Sementara itu pekerjaan rumah yang paling besar sulitnya mengubah mindset para TKI yang selalu ingin kembali ke Malaysia. Padahal mereka menyadari sejumlah resiko seperti akan ditahan karena masuk secara ilegal.

Dia mengatakan, TKI ilegal terpaksa merasakan kurungan dan terkadang cambuk rotan sesuai kesalahan mereka. Belum lagi kondisi pusat tahanan yang kotor dan rentan penyakit justru tak membuat mereka kapok.

‘’Punya daya tarik demikian besarnya itu, apa penyebabnya? Kami belum tahu, kok bisa sampai segitunya mereka ingin kembali. Ini yang harus kita cari penyebabnya,” ujarnya. (*)

Penulis: Niko Ruru
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help