TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Bumi Kita Tempat Lahir Hidup dan Mati

Sejatinya, bumi ini tidak membutuhkan manusia, justru manusia lah yang membutuhkan bumi ini

Bumi Kita Tempat Lahir Hidup dan Mati
Ilustrasi 

Winarni, S. Si., M. Si
Dosen Program Studi Matematika, Institut Teknologi Kalimantan (ITK)

Tanggal 22 April sering diperingati sebagai Hari Bumi. Setidaknya hari ini luangkan sedikit waktu untuk merenungi dan sedikit berempati pada bumi ini. Luangkan waktu untuk mendo'akan bumi ini agar tetap mau berputar dengan baik, tetap masih mau kita pijak, udara bersihnya masih masih mau kita hirup, dan air bersihnya masih bisa kita nikmati. Sejatinya, bumi ini tidak membutuhkan manusia, justru manusia lah yang membutuhkan bumi ini. Tak ada manusia, bisa jadi bumi ini baik-baik saja. Tetapi bumi ini makin rusak, masihkan kita bisa beradaptasi dengannya? Mau tinggal di planet mana?
Sekarang, coba kita tilik bersama gambaran kondisi saat ini dan prediksi kondisi bumi kita yang akan datang. Dalam situs national geographic diungkapkan beberapa gambaran kondisi bumi saat ini yang sudah mengkhawatirkan dan keadaan bumi seratus tahun lagi. Disebutkan bahwa konsentrasi karbondioksida dan metana menyentuh rekor terbaru pada 2016. Tahun lalu merupakan tahun terpanas yang pernah ada, dengan suhu yang meningkat 1,3 derajat Celsius di atas rata-rata. Ini sudah makin mendekati angka 1,5 derajat Celsius, ambang batas yang ditentukan pembuat kebijakan international untuk pemanasan global. Cuaca ekstrim akibat El Nino yang terjadi di tahun 2015 dan 2016 adalah indikasi bahwa kita berada dalam bencana alam yang dramatis. Suhu tinggi terkait dengan berbagai bencana cuaca termasuk banjir ekstrim, musim badai yang luar biasa, kebakaran hutan dan kekeringan. Diperkirakan pula gelombang panas ekstrim pada musim panas di daerah tropis akan terjadi setelah tahun 2050. Penyebab pemanasan jangka panjang yang kita alami sekarang, didominasi oleh perubahan gas rumah kaca.
Tahun 2012, 97 persen Greenland yang diselimuti lapisan es mulai mencair saat musim panas. Selain Greenland, peningkatan panas juga menyebabkan lapisan es raksasa Antarktika meleleh lebih cepat. Diperkirakan laut akan mengalami kenaikan level antara 2 hingga 3 kaki pada tahun 2100. Kenaikan ini cukup untuk menenggelamkan beberapa kota di sepanjang pesisir timur Amerika Serikat. Perkiraan yang lebih mengerikan menyebutkan, pemanasan global dan dampaknya, termasuk pencairan seluruh lapisan es Greenland, akan menyebabkan permukaan air laut naik hingga 7 meter, cukup untuk menenggelamkan London. Itu juga merupakan ancaman besar bagi negara kepulauan seperti Indonesia dengan garis pantai terpanjang. Terdapat 42 juta jiwa yang menetap di daerah pesisir pantai dengan radius 5 km dari laut yang terancam, sebagaimana yang dilaporkan Maplecroft's Climate Change Vulnerability Index. Belum lagi, dampaknya bagi lingkungan, binatang dan tanaman di sekitar pesisir. Diperkirakan permukaan Bandara Soekarno-Hatta akan tenggelam pada tahun 2030. Dan sekitar 1.500 pulau terancam tenggelam pada tahun 2050 akibat kenaikan air laut. Sejauh ini, sekitar 24 pulau Indonesia telah tenggelam.
Fakta berikutnya yang diungkap dalam website tersebut adalah ratusan miliar potongan sampah plastik ditemukan mengambang di Lautan Arktik yang selama ini dianggap sebagai perairan paling murni. Area yang paling tercemar adalah di bagian paling utara dan paling timur Laut Barents dan Greenland. Temuan ini mengindikasikan bahwa polusi di bumi telah mencapai tingkat mengkhawatirkan. Dalam sebuah hasil studi di jurnal Science Advanves, tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Dr Andres Cozar dari Candiz University menggambarkan bagaimana mereka berlayar melintasi perairan bebas es di Lingkaran Arktik dan mengais sampah plastik. Dari hasil pengamatan di lapangan, para peneliti menghasilkan perkiraan tentatif dari jumlah total sampah plastik di Arktik. Total muatan plastik terapung di perairan bebas es Samudra Arktik diperkirakan berkisar antara 100 hingga 1.200 ton, dengan perkiraan tiap 400 ton mengandung 300 miliar item plastik.
Kondisi di lautan Arktik, perairan yang terkenal paling murni saja seperti itu. Bagaimana dengan lautan dan pantai-pantai di Indonesia yang sering juga dijumpai banyak sekali sampah-sampah mengapung-ngapung di pantai-pantai tempat rekreasi. Menurut Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton per tahun, setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton per tahun. Sangat tidak mustahil angka tersebut akan terus meningkat jika tidak ada perubahan pola hidup kita sehari-hari dalam kebiasaan menggunakan plastik dan sampahnya tidak didaur ulang.
Sebenarnya semua hal di atas tidak lepas dari akibat ulah manusia. Meskipun memang perubahan iklim adalah sebuah keniscayaan. Mau tidak mau, cepat atau lambat pasti akan terjadi. Tetapi bukan berarti kita hanya berpangku tangan atau bahkan memperparahnya atau mempercepatnya. Paling tidak, kita harus lakukan sedikit usaha yang bisa kita lakukan. Misalnya, hemat energi dalam menggunakan peralatan listrik dan lainnya, karena untuk produksi listrik juga mengeluarkan emisi karbon yang cukup besar. Bagi anda yang masih merokok, berhenti merokok juga mengurangi emisi gas karbondioksida. Bukankah merokok juga mengganggu kesehatan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, kita juga bisa lakukan hal sederhana dengan setiap rumah menanam pohon atau tanaman hijau yang bisa memberi sumbangsih produksi oksigen dan menangkap karbondioksida. Kita bisa juga lakukan kurangi konsumsi air kemasan gelas atau botol sebisa mungkin. Bawalah air dalam botol minum yang bisa dipakai sehari-hari ketika bepergian, ke kantor atau sekolah/kampus. Biasakan membuang sampah pada tempatnya yang benar. Pisahkan sampah anorganik dengan organik. Sebisa mungkin minimalisasi sampah khususnya sampah anorganik seperti plastik. Kurangi penggunaan plastik. Jika menggunakannya, pilih produk plastik yang lebih ramah lingkungan. Daur ulang atau manfaatkan limbah agar menjadi lebih bernilai. Selain dikreasi menjadi kerajinan, di-recycle menjadi produk plastik lainnya lagi, sampah plastik juga bisa dimanfaatkan sebagi bahan aspal. Untuk pengolalaan sampah dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS), dinas terkait harus menerapkan kebijakan pengelolaan sampah yang baik untuk lingkungan. Bisa mengadopsi cara-cara negara maju yang telah mengelola sampah dengan baik. Untuk mengurangi kebakaran hutan dan makin gundulnya hutan, stop pembalakan liar terhadap hutan. Tebang satu pohon, tanamlah lebih dari satu pohon. Semua sektor dan setiap instansi menerapkan konsep-konsep yang lebih ramah lingkungan. Kalau kita ramah terhadap lingkungan, percayalah alam akan lebih ramah pada kita.
Perlu kita ingat, kita sebagai manusia berasal dari saripati tanah. Kita hidup pun berpijak di bumi. Kita menggunakan berbagai sumber daya yang ada di bumi ini. Dan kelak mati pun akan kembali ke perut bumi. Sungguh sangat tidak bijak jika manusia tidak berusaha lebih bersahabat dengan bumi, tidak turut menjaga bumi ini. Jangan sampai menjadi manusia yang durhaka terhadap alam ini. Jangan sampai ketika kita mati nanti bumi enggan menerima jasad kita. Selamat Hari Bumi. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help