TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Simbiosis Anak dan Buku

Bisa dibandingkan dengan zaman sebelum teknologi komunikasi berkembang pesat dimana anak - anak mendapatkan pengetahuan hanya dari buku

Simbiosis Anak dan Buku
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

Oleh : Fransiska, S.Si
(Pegiat Pendidikan dan Literasi)
mimisiska84@gmail.com

DI era serba digital seperti saat ini penggunaan gadget, ipad, notebook dan barang sejenisnya sudah bukan sesuatu yang "wow" lagi. Tidaklah mengherankan bila anak - anak yang masih duduk di bangku sekolah TK atau SD bahkan balita yang belum bersekolah dan belum bisa membaca sekali pun sudah terbiasa memainkannya. Bisa dibandingkan dengan zaman sebelum teknologi komunikasi berkembang pesat dimana anak - anak mendapatkan pengetahuan hanya dari buku. Permainan yang mereka mainkan juga bersifat tradisional seperti petak umpet, egrang dan gundu (kelereng). Dewasa ini semua serba modern dan adanya kemudahan mengakses internet meski hanya dari rumah dan handphone.
Melek terhadap informasi dan teknologi terbaru mau tidak mau menjadi tuntutan agak tidak ketinggalan informasi dan dicap sebagai "manusia gua atau tidak gaul". Permasalahannya terletak pada sejauh mana tingkat kecanduan kita atau anak - anak kita terhadap benda - benda tersebut. Sebagai orang tua, tentu kita tak menginginkan apabila anak - anak keasyikan dengan benda tersebut dan melupakan tugas utamanya sebagai pelajar serta kemampuan berinteraksi sosial dengan teman-temannya.
Selain perangkat elektronik tersebut, pemaparan mata anak terhadap layar monitor televisi juga perlu mendapat pengawasan ketat dari orang tua dan keluarga. Tidak semua tayangan khas anak - anak memiliki efek positif terhadap anak - anak, meski itu tayangan kartun yang memang identik dengan dunia anak. Ada beberapa kartun yang justru memberi contoh buruk kepada anak, misalnya kartun dengan tokoh hewan yang selalu bermusuhan dan melakukan kekerasan ke lawannya.
Setelah cukup sering menonton kartun tersebut, ada salah seorang anak yang berkata, "Kalau aku kenapa - kenapa aku masih bisa hidup seperti kartun itu. Ekornya kartun itu putus aja bisa panjang lagi. Kejatuhan tiang besi saja bisa hidup lagi". Alhasil, disaat orang tuanya mengingatkan posisi bahaya, misalnya bermain pisau ia tidak menggubris nasihat orang tuanya. Dengan contoh buruk yang ia dapat dari tontonan kartun ia sulit membedakan keadaan yang membahayakan dirinya sendiri atau temannya.
Melalui kartun, anak biasanya juga akan terobsesi memiliki benda - benda yang bergambar kartun kesukaannya, mulai dari baju, tas, botol air minum, tempat makan, bahkan sprai dan handuk. Yang lebih membuat miris mereka menginginkan jam tangan yang bisa membuat mereka berubah menjadi robot seperti yang biasa dilakukan oleh tokoh kartun yang ditontonnya.
Sebagai sebuah keluarga, tentu ada waktu dimana semua anggota keluarga bepergian bersama. Sayangnya, kebersamaan tersebut seringkali digiring ke mall. Bangunan mall yang megah dengan AC dan lampu yang terang benderang, butik - butik pakaian yang mahal, resto fast food, arena permainan modern dan tempat perbelanjaan makanan dapat membuat anak betah berlama - lama di mall. Tentu saja frekuensi ke mall yang intens akan berpengaruh ke pola pikir dan perilaku anak.
Berkaca dari hal tersebut, sebagai orang tua kita harus cerdik memilih lokasi tujuan membawa anak - anak keluar rumah. Salah satu tempat yang bisa menjadi alternatif adalah perpustakaan. Hampir di setiap daerah memiliki perpustakaan. Daftarkan anak sebagai anggota dan ajaklah anak rutin mengunjungi perpustakaan! Tempat lainnya adalah toko buku. Milan Kundera, seorang novelis Republik Ceko mempunyai quote bagus tentang buku, "Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku - bukunya! Maka pastilah bangsa itu akan musnah". Setiap anak adalah generasi penerus bangsanya. Sebuah bahan renungan untuk para orangtua, apakah telah mengakrabkan anak pada buku laiknya sahabat sejati?
Nyaman di Perpustakaan
Sulistyo, Basuki (1991 ) mendefinisikan perpustakaan sebagai sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual. Sementara Sugiyanto menjelaskan pengertian perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi. Sedangkan menurut RUU Perpustakaan (Bab I pasal 1) menerangkan bahwasanya perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan. Untuk menarik minat baca anak, penanggungjawab dan pengelola perpustakaan hendaknya menciptakan kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung terutama anak - anak.
Sebagai contoh, perpustakaan yang ada di Kota Balikpapan. Sebelum memasuki ruang baca, anak - anak diminta menyimpan sepatu mereka di rak sepatu yang telah disediakan. Ruang baca khusus anak di perpustakaan Kota Balikpapan sendiri cukup nyaman untuk mereka membaca. Lantai yang dialasi karpet sehingga tidak licin, pilihan buku yang banyak, meja dan tempat duduk yang nyaman menjadi fasilitas di ruang baca khusus anak ini.
Jika anak - anak kita telah bersekolah, kita bisa mengajak kolaborasi para guru sebagai orang tua kedua mereka di sekolah untuk mengadakan program belajar di luar kelas (outing) ke perpustakaan. Mari kita bantu anak - anak menjadikan buku sebagai teman dan menjadikan mereka sebagai anak kutu buku. Dengan banyak membaca buku banyak manfaat yang akan didapatkan anak sebagai bekal mereka mengharungi kehidupan. Bukankah buku adalah jendela dunia?
Seperti halnya Thomas Alva Edison, penemu lampu bohlam. Di masa kecilnya ia dianggap bermasalah dalam perkembangan sosialnya. Dilansir dari www.thomasedison.com, gurunya menganggap masalahnya tersebut karena ia berada di bawah teman - temannya dari segi kemampuan akademis. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Pemikiran Edison justru melampaui usia sebayanya. Edison tumbuh sebagai anak kutu buku dengan berbagai jenis buku bacaan seperti karya William Shakespeare, Charles Dickens, Edward Gibbon dan lain - lainnya. Kecintaannya pada buku mampu mengantarkannya sebagai penemu produktif. Masih dalam situs yang sama, Edison setiap dua minggu sekali selama masa berkaryanya mampu mematenkan penemuan barunya. Satu bukti bahwasanya antara kita dengan buku terjalin simbiosis yang menguntungkan. Penuhi kebutuhan anak - anak akan buku - buku bergizi! (*)

Editor: Januar Alamijaya
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help