TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Baru Akan Berhenti Berkembang pada Hari Kiamat

plastik yang telah banyak membantu kehidupan manusia itu, sampahnya akhir-akhir ini membuat manusia terutama para pemerhati lingkungan menjadi pusing

Baru Akan Berhenti Berkembang pada Hari Kiamat
Google
Animasi Google Doodle peringati Hari Bumi sedunia 

Harihanto
Guru besar Lingkungan, Pembangunan, dan Perubahan Sosial pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman
harihanto@ymail.com

Contoh paling akhir dan cukup menyita perhatian dunia adalah dampak negati dari ditemukan dan digunakannya senyawa kimia bernama chlorofluorocarbons (CFCs) yang dikenal melalui merek dagangnya Freon. Bahan ini pertama kali ditemukan di AS pada tahun 1928 dan banyak kegunaannya, digunakan di dalam mesin-mesin pendingin (AC, kulkas, pembersih chip komputer, aerosol, industri foam (busa), drycleaning, dan sebagainya. Di samping banyak kegunaannya, bahan ini memiliki kelebihan lain - stabil dan tidak mudah terbakar. Bahan-bahan ini dapat lepas ke atmosfer setelah dipakai oleh manusia di dalam berbagai produk, mulai dari AC, kulkas, sampai alat pemadam api; maupun melalui penggantian/pengisian kembali dan kebocoran. Karena kestabilannya bahan ini dapat mencapai stratosfer tempat di mana terkonsentrasinya ozon (O3) alami yang diyakini oleh para ahli melindungi permukaan bumi dari radiasi UV yang berlebihan dari sinar matahari melalui reaksi berantai pembentukannya, sehingga intensitas radiasi UV dari matahari yang sampai ke permukaan bumi sudah sangat berkurang. Padahal paparan radiasi UV yang berlebh dari matahari diyakini oleh para ahli dapat memicu kanker kulit, katarak, dan menurunkan produksi pertanian. Walau dikenal sangat stabil, freon yang lepas ke udara dan mencapai startosfer bahan ini sangat mudah diuraikan oleh sinar UV dari matahari dengan melepasakan satu atom klorin-nya (radikal klorin) yang kemudan bereaksi dan memecah ozon, sehingga dikenal fenomena dengan nama "bolongnya ozon" di strtatosfer. Padahal menurut Dwi Sasanti (1994) hamper 99% freon yang teremisi ke udara akan mencapai stratosfer. Dampak ini baru diketahui pada tahun 1974 (sektar 40 tahun sejak ditemukannya).
Kok jauh-jauh, plastik yang telah banyak membantu kehidupan manusia itu, sampahnya akhir-akhir ini membuat manusia terutama para pemerhati lingkungan menjadi pusing tujuh keliling, karena membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, sehingga kalau dibuang sembarangan akan membuat kotor lingkungan, baik di darat dan akhirnya bermuara ke laut. Di parit dan sungai dapat menghalamgi aliran air, sehingga memperparah banjir, dan itu sudah terjadi di mana-mana. Jika dibakar akan menimbulkan racun dioksin yang dapat mengganggu pernafasan dan memicu kanker.
Oleh karena dampak negatif dari suatu inovasi teknologi biasanya baru diketahui dan dirasakan belakangan setelah inovasi itu direlease ke masyarakat, maka lalu diadakan suatu keharusan untuk menguji kelayakan lingkungan dari suatu inovasi teknologi sebelum direlease ke masyarakat, bahkan termasuk uji kelayakan sosial - apakah masyarakat bersedia menerima inovasi itu? Contoh inovasi teknologi yang sapai sekarang belum diterima oleh masyarakat dan masih menjadi perdebatan adalah teknologi kloning jika hendak diterapkan pada manusia. Ada yang sambl berkelakar nanti kalau teknologi itu diterapkan pada manusia, akan orang yang wajahnya tersenyum-senyum terus seperti pak Harto namun hatinya bengis kayak Hitler. Menanggapi perdebatan ini seorang guru besar dari Univeritas Pakuan di Bogor menulis pada harian Kompas dengan menyimpulkan pada akhir tulisannya bahwa yang jelas kita semua ini (manausia) adalah hasil dari "kelon" (bukan "klon"). Namun demikian apakah keharusan itu selama ini benar-benar diterapkan, karena faktanya inovasi teknologi baru di bidang informasi, yakni mobile phone atau telepon seluler dan internet yang telah direlease dan digunakan oleh masyarakat ternyata akhirnya membawa dampak negatif pula di bidang sosial - banyak rumah tangga pecah gara-gara salah satu pasangan selingkuh melalui sms dan facebook, banyak orang dibui karena mencaci maki orang melalui media sosial. Saya sendiri merupakan korban dari kehadiran telepon seluler itu, namun kasusnya tak perlu saya ungkap di sini.
Hal lain yang perlu diketahui dan luput dari tulisan saudara Er Rahman adalah bahwa di bumi ini kita tidak hidup sendirian, melainkan masih ada makhluk hidup lain yang secara alami mempunyai hak untuk hidup, yakni satwa liar. Kembali ke agama, sebagai orang yang beragama mestinya yakin bahwa semua yang diciptakan oleh Tuhan di bumi ini baik satwa liar tumbuhan pasti mempunyai maksud, tujuan, dan manfaat, termasuk manfaat bagi manusia. Di dalam ekonomi lingkungan dan sumberdaya alam ada konsep "nilai pilihan yang akan datang" (option value). Maksudnya semua sepesies tumbuhan dan hewan yang saat ini belum diketahui manfaatnya bagi manusia tetap mempunyai nilai pada masa yang akan dating, karena untuk mengetahui manfaatnya dibutuhkan penelitian yang memerlukan biaya, waktu, dan keahlian. Jika spesies-spesies itu punah manusia kehilangan kesempatan untuk memanfaatkannya pada masa yang akan datang. Bahkan almarhum Prof. Otto Soemarwoto menulis di dalam salah satu bukunya bahwa "tumbuhan, hewan, dan jasad renik dapat hidup tanpa manusia, tetapi manusia tak dapat hidup tanpa tumbuhan, hewan, dan jasad renik, karena itu tumbuhan, hewan, dan jasad renik harus kita jaga kelangsungan hidupnya demi kelangsungan hidup kita sendiri". Hal ini cukup jelas, bahkan seorang vegetarianpun yang tidak makan hewan juga tidak dapat hidup tanpa tumbuhan, sekalipun tumbuhan yang sudah dibudidaya menjadi tanaman, tapi nenek-moyangnya dulu berasal dari alam juga. Bahwa hewan, harimau misalnya dapat hidup tanpa manusia jua jelas, walaupun sekali-kali alau ada manusia yang mau dimakan ya dimakan juga.
Karena kita hidup bersama makhluk hidup lain, terutama hewan dan tumbuhan maka kita juga harus berbagi ruang dengan mereka. Saat ini habitat satwa liar sudah semakin sempit akibat ekspansi manusia, baik untuk pemukiman, pertanian, dan usaha lainnya. Bulan lalu ketika sedang survei lapangan untuk menyusun Amdal sebuah perusahaan kehutanan, tiba-tiba pikiran saya menyimpulkan bahwa manusia ini makhluk paling serakah - la ini dulu kan hutan belantara habitat sejulah satwa liar. Pikiran saya membayangkan bagaimana "polahnya" para hewan itu ketika habitatnya, hutannya dibabat dengan menggunakan chainsaw dan bulldozer yang suaranya saja memekakkan telinga itu? Sedangkan manusianya sendiri rumahnya terbaar saja bingung, menangis, bisa-bisa "gendeng". Tetapi dia sendiri tidak memilki "perikebinatangan". Celakanya pengusaha-pengusaha seperti itu bukan orang lokal, melainkan orang jauh dari Jakarta misalnya dengan tujuan bukan sekedar mencari makan, melainkan ingin menumpuk kekayaan. La lalu bagaiamana? Apakah manusia yang harus dikalahkan demi keberlangsungan hidup binatang liar? Ya tidak, tapi kendalikanlah jumlah penduduk manusia ini, sehingga sekspansi, deforestasi, konversi lahan hutan seperti itu dapat dikurangi. Teori Deontik menyatakan bahwa seandainya di bumi hanya tersedia cukup sumberdaya untuk sejumlah x orang, maka harus diusahakan agar penduduk bumi tidak lebih dari orang. Manusia tidak wajib melahirkan, tetapi wajib menjamin agar manusia yang telah dilahirkan memiliki taraf hidup yang memadai. Sementara itu teori lingkungan tegas menyatakan bahwa kewajiban manusialah untuk memelihara keserasian hubungan manusia dengan lingkungannya, walaupun dengan konsekwensi adanya pengurangan kebebasan individu; termasuk demi pmerataan dan keadilan yang jelas tak dapat diatasi dengan teknologi.
Sebagai penutup - yang jelas kedua tesis yang saya sebut di atas, baik tesis gemah ripah yang optimis sepertihalnya yang diikuti oleh saudara Arif Er Rachman, maupun tesis titik batas yang saya ikuti, sama-sama belum terbukti, keduanya masih di dalam perjalanan menuju ke pembuktian kebenarannya. Walau tesis gemah ripah didukung oleh fakta bahwa sampai hari ini teknologi memang masih bekembang terus dengan pesatnya, namun itu belum merupakan pembuktian secara final, karena dunia belum kiamat. Sedangkan tesis titik batas yang dipelopori oleh Meadows dan kawan-kawan yang mengklaim bahwa batas pertumbuhan saat itu (tahun 1970-an) sudah dekat sampai saat ini ternyata juga belum terbukti. Yang jelas keduanya akan berhenti berkembang pada hari kiamat. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help