TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Capaian Pendidikan di Kalimantan Timur

Angka Partisipasi Sekolah (APS) yang tinggi menunjukkan terbukanya peluang yang lebih besar dalam mengakses pendidikan secara umum

Capaian Pendidikan di Kalimantan Timur
TRIBUNKALTIM.CO/GEAFRY NECOLSEN
Ilustrasi 

Oleh : Basran
Kasi Statistik Kesra - Bidang Statistik Sosial
BPS Provinsi Kalimantan Timur

basranbps@gmail.com

Menurut UU No. 20 tahun 2003 pengertian Pendidikan adalah sebuah usaha yang di lakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, membangun kepribadian, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Sesuai dengan pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 yang mengatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat dan mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Ini adalah tanggung jawab pemerintah ataupun negara dalam kemajuan bangsa ini.
Dalam pasal ini menegaskan bahwa negara dalam hal ini harus memberikan perhatian khusus pada dunia pendidikan di Indonesia. Bahkan dalam salah satu ayat dalam pasal ini mengatakan bahwa pemerintah harus memberikan anggaran setidaknya 20% dari APBN negara. Memang pemerintah telah membuktikannya dengan menyisihkan anggaran, namun entah mengapa potret pendidikan kita masih jauh dari kata memuaskan. Lebih memprihatinkan lagi bila mengetahui banyak gedung-gedung sekolah yang tidak layak untuk dijadikan tempat belajar.
Untuk melihat pencapaian indikator dasar yang telah dicapai oleh suatu daerah, karena membaca merupakan dasar utama dalam memperluas ilmu pengetahuan. Angka Melek Huruf (AMH) merupakan indikator penting untuk melihat sejauh mana penduduk suatu daerah terbuka terhadap pengetahuan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur pada bulan Maret 2016 yang lalu telah melakukan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) terhadap 5.240 rumah tangga yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Hasil dari survei ini menunjukkan bahwa masih ada 1,18 persen penduduk usia 15 tahun ke atas yang masih buta huruf dan 98,82 persen penduduk usia tersebut sudah dapat membaca dan menulis atau melek huruf. Tingkat melek huruf yang tinggi (atau tingkat buta huruf rendah) menunjukkan adanya sebuah sistem pendidikan dasar yang efektif dan/atau program keaksaraan yang memungkinkan sebagian besar penduduk untuk memperoleh kemampuan menggunakan kata-kata tertulis dalam kehidupan sehari-hari dan melanjutkan pembelajarannya.
Angka Partisipasi Sekolah (APS) yang tinggi menunjukkan terbukanya peluang yang lebih besar dalam mengakses pendidikan secara umum. Pada kelompok umur mana peluang tersebut terjadi dapat dilihat dari besarnya APS setiap kelompok umur. Informasi ini sangat bermanfaat untuk menunjukkan tingkat partisipasi pendidikan menurut kelompok umur tertentu. APS di Kalimantan Timur pada tahun 2016 untuk kelompok usia 7-12 tahun sebesar 99,54 persen, usia 13-15 tahun sebesar 98,18 persen dan usia 16-18 tahun sebesar 80,81 persen.
Sementara itu, Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan sesuai dengan usia pada jenjang pendidikannya. APM tahun 2016 di Kalimantan Timur untuk jenjang pendidikan SD sebesar 97,13 persen, SLTP sebesar 79,20 persen dan SLTA sebesar 67,92 persen. Informasi ini berguna untuk mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat pada waktunya.
Menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan dengan usia penduduk 15 tahun ke atas, tamat SLTA dan tidak melanjutkan pendidikan lagi sebanyak 36,19 persen. Tingkat pendidikan ini yang paling dominan dibanding tingkat pendidikan lainnya, tidak mempunyai ijazah sebesar 10,08 persen, SD/MI sebanyak 26,96 persen, SLTP 16,57 persen dan perguruan tinggi hanya sebesar 10,20 persen (termasuk yang tamat DI/II/III).
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal (sumber: id.wikipedia.org). Informasi mengenai pendidikan pra sekolah untuk anak usia 0 hingga 6 tahun juga dikumpulkan pada saat survei dilakukan.
Keikutsertaan pendidikan pra sekolah untuk anak usia 0-6 tahun yang masih/pernah mengikuti pra sekolah tahun ajaran 2015/2016 sebesar 17,97 persen. Sedangkan yang pernah mengikuti pendidikan pra sekolah pada tahun ajaran 2014/2015 dan sebelum tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 10,35 persen. Sementara yang tidak/belum pernah mengikuti pendidikan pra sekolah sebanyak 71,67 persen. Dari sekian banyak anak usia 0-6 tahun yang pernah/sedang mengikuti pendidikan pra sekolah, sebesar 70,55 persen pendidikan pra sekolah dilakukan di Taman Kanak-Kanak (TK), selebihnya di Bustanul Athfal/Raudatul Athfal, PAUD, Kelompok Bermain dan sejenisnya.
Proses peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang pada gilirannya merupakan modal investasi manusia bagi kepentingan pembangunan daerah, bahkan sampai pada tingkat nasional. Pembangunan pendidikan yang masih menempati posisi penting dalam skala prioritas ini akan terus ditingkatkan, program wajib belajar 9 tahun bagi pendidikan dasar terus digalakkan sehingga diharapkan seluruh anak-anak usia sekolah di Kalimantan Timur minimal dapat memasuki jenjang pendidikan dasar. Selamat Memperingati Hari Pendidikan Nasional Tanggal 2 Mei 2017 (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help