TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Mencintai Indonesia

Para patriot di masa silam memiliki pandangan jauh ke depan. Visi yang melampaui zamannya. Berjuang tidak hanya untuk sebuah kemerdekaan

Mencintai Indonesia
TRIBUNNEWS / DANY PERMANA
Ilustrasi 

Oleh: Muhammad Aufal Fresky
Alumnus Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga)

Jejak langkah pahlawan bangsa meninggalkan banyak hikmah. Di antaranya adalah bagaimana seharusnya kita mencintai bangsa ini dengan sepenuh jiwa. Mencintai dalam artian yang sesungguhnya. Yaitu cinta yang tidak hanya sekedar dalam ucapan verbal. Cinta yang akarnya berasal dari hati. Lihat saja kisah para patriot di masa silam, apa pun mereka pertaruhkan demi terwujudnya sebuah kemerdekaan. Mereka rela berkorban jiwa dan raga demi bangsa yang dicintainya. Tak sedikit dari para pejuang bangsa yang dipenjara, dibuang bahkan diasingkan dari keluarga dan masyarakatnya. Mereka diperlakukan semena mena oleh para penjajah. Namun semangat dan tekad untuk melawan penjajahan tetap bergelora. Kegigihan untuk mewujudkan sebuah bangsa yang merdeka tetap mereka kobarkan. Rasa cinta terhadap bangsa Indonesia telah membuat mereka rela berkorban.
Sungguh sebuah perilaku yang terpuji. Para patriot di masa silam memiliki pandangan jauh ke depan. Visi yang melampaui zamannya. Berjuang tidak hanya untuk sebuah kemerdekaan. Lebih dari itu tindakan yang dilakukan mengacu pada nilai kemanusiaan dan keadilan. Karena mereka menganngap kondisi pada waktu itu menyalahi nilai-nilai universal kemanusiaan. Bagaimana tidak, penjajah bertindak seakan akan wilayah Nusantara merupakan miliknya. Mengabaikan dan tidak peduli dengan resiko dari perbuatannya yang amoral. Bukan hanya merampas kekayaan bangsa, para penjajah menyiksa kaum pribumi yang tidak taat pada perintahnya. Hal itulah yang menggerakkan para pejuang untuk terus bergerak melawan kesewenang-wenangan yang terjadi. Perjuangan yang pada akhirnya membuahkan hasil. Tentunya atas izin Tuhan, bangsa ini bisa meraih kemerdekaannya.
Lantas bagaimana dengan generasi sekarang. Sudahkah kita meniru sifat dan sikap mulai dari para panutan bangsa tersebut. Jangan-jangan kita hanya berhasil menghafal nama pahlawan dalam ingatan, namun tidak pernah meniru kepribadian luhur mereka. Ketahuilah bahwa sejarah perjuangan meraih kemerdekaan tidak hanya berisi waktu dan momentum kapan terjadinya peristiwa tersbut. Lebih dari itu banyak nilai dan ketauladanan yang bisa kita ambil sebagai bekal hidup. Sebagai sebuah wujud rasa terimakasih atas segala dedikasi dan pengabdian yang telah dilakukan oleh para patriot tersebut. Sekali lagi, wajib hukumnya generasi sekarang melanjutkan cita-cita mulai para pahlawan. Karena kemerdekaan hanyalah jembatan emas menuju cita-cita yang sebenarnya. Karena sejauh ini kita masih berjalan menuju cita-cita yang selama ini diidamkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Semisal terwujudnya masyarakat Indonesia yang cerdas, adil dan makmur. Perjuangan mewujudkan cita-cita tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kita berusaha mencintai Indonesia dengan sepenuh jiwa.
Jika ada yang bertanya, benarkah kita mencintai Indonesia? Tentu jawabannya adalah iya. Namun, pertanyaan tersebut berlanjut. Cukupkah mencintah Indonesia dengan ucapan? Dan jawabannnya adalah sangat tidak cukup. Rasa cinta yang sebenarnya adalah melalui perbuatan nyata. Karena jika hanya berkata melalui lisan, semua orang bisa. Kita membutuhkan orang yang konsisten apa yang diucapkan dengan tindakan sehari-harinya. Banyak cara untuk mencintai bangsa ini. Salah satu cara telah saya ungkapkan di atas. Yaitu dengan cara meniru keteladanan para pahlawan dan meneruskan cita-cita luhur mereka. Contoh sederhana lainnya yaitu, kita bisa mencintai Indonesia dengan cara menjaga dan merawat lingkungan sekitar. Hal tersebut bisa dilakukan mulai dari diri sendiri. Semisal membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Aktif bergotong royong bersama warga sekitar dalam melakukan kegiatan bersih-bersih. Hal tersebut akan menjadi salah satu contoh bahwa kita berkomitmen untuk menjaga alam Indonesia. Atau bisa dengan cara mencegah diri sendiri agar tidak menebang hutan dan mencemari lautan. Sekali lagi, ini contoh sederhana sikap kita mencintai Indonesia.
Selain itu, hal lain yang bisa kita perbuat adalah menaati semua peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Sebagai sebuah pembuktian diri bahwa kita merupakan warga negara yang baik. Semisal menaaati tata tertib aturan lalu lintas dan membayar pajak. Meminimalisir atau bahkan mencegah diri sendiri agar tidak melanggar kebijakan dan regulasi yang dibuat oleh pemerintah. Jika ada yang ingin dikritik, maka kita sampaikan pendapat kita sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
Selaku penulis, sering kali saya menjumpai berbagai ulah oknum di media sosial yang gemar menghujat dan mencaci pemerintah. Menjelekkan bangsa dan negaranya sendiri. Mengangap Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara yang kacau. Begitulah yang sering saya dapatkan di media sosial. Orang gemar menyalahkan, memancing perselisihan, dan menyulut permusuhan. Dampaknya adalah semakin dekatnya kita dengan perpecahan. Saya berpandangan orang yang gemar mencaci dan memancing perpecahan merupakan bagian orang yang kurang mencintai Indonesia. Karena hemat saya, orang yang mencintai Indonesia, dia akan bersikap dengan kepala dingin dan pikiran positif terhadap negrinya. Walaupun dia tahu bahwa negerinya diselimuti oleh berbagai permasahan. Orang yang mencintai Indonesia akan berusaha untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help