TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Perubahan dan Esensi Hidup Manusia

Realitas manusia pun tidak ada yang permanen. Semua yang ada di dunia ini senantiasa berubah

Perubahan dan Esensi Hidup Manusia
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

Oleh: Muhammad Aufal Fresky
Alumnus Program Studi Ekonomi Pembangunan Unair

Kehidupan di dunia ini begitu dinamis. Hampir semua aspek senantiasa mengalami perubahan. Mulai dari sektor perekonomian, pemerintahan, budaya, sosial, dan semacamnya. Begitulah kehidupan kita. Seiring perjalanan waktu dan pergeseran zaman, kehidupan manusia selalu berubah. Hal yang perlu disadari oleh kita adalah perubahan itu hendaknya menuju hal yang positif. Jangan sampai perubahan menyebabkan manusia semakin jauh dari Tuhan, semakin menjadi manusia yang tidak bermoral. Sekali lagi, perubahan kita harus menuju perbaikan.
Dalam dunia filsafat, gagasan tentang perubahan pertama kalai dikatakan oleh Heraclitus. Dia menyatakan, panta rei kai uden menei, semuanya mengalir dan tidak sesuatu pun yang tetap tinggal. Analogi ini disamakan dengan api yang tidak putus berganti menghidupi dirinya. Menurut Heraclitus, segala awal adalah permulaan dari akhirnya, semua yang hidup adalah permulaan dari yang mati, dan di dalam dunia ini tidak ada yang tetap.
Manusia adalah subjek perubahan. Bisa kita saksikan berbagai macam revolusi di inisiasi serta dimotori oleh manusia. Seperti revolusi sosial di Perancis, revolusi industri di Inggris, maupun revolusi kemerdekaan yang terjadi di Indonesia. Revolusi adalah perubahan secara cepat terkait bidang tertentu. Selain itu, manusia juga senantiasa berubah. Hari demi hari akan senantiasa bertambah umurnya. Kita yang sekarang, berbeda dengan kita yang akan datang. Muaranya adalah kematian daripada manusia itu sendiri. Karena mereka juga terbatas dari ruang dan waktu. Perubahan itu semakin cepat, dan kian tidak terasa manakala manusia senantiasa disibukkan oleh hal-hal yang kurang bermanfaat.
Realitas manusia pun tidak ada yang permanen. Semua yang ada di dunia ini senantiasa berubah. Satu-satunya yang tidak berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Alam semesta juga berubah. Seperti yang telah dijelaskan dalam ilmu fisika. Lebih tepatnya yaitu berkaitan dengan sebuah teori yang bernama Dissipative Structure. Menurut teori tersebut alam semesta merupakan sebuah sistem yang terus menerus memperbarui dirinya (Self renewing system). Caranya yaitu bisa dengan goncangan, kemelut, kekacauan, topan, badai dan ketidakteraturan.
Jika membicarakan perubahan maka pastinya berkaitan dengan realitas. Dalam sebuah novel berjudul Tapak Sabda karangan Fauz Noor diterangkan mengenai realitas. Intinya realitas dibagi menjadi dua, yaitu think (pemikiran) dan change (perubahan). Pertama mengenai pemikiran manusia yang senantiasa berubah dan diubah. Seorang arsitek Revolusi Prancis, Mirabeau, pernah berkata,"Ada orang-orang yang tidak pernah mengubah pemikirannya. Itulah orang-orang yang tidak pernah berpikir sama sekali." Kedua, yaitu mengenai perubahan itu sendiri. Perubahan menjadi sebuah realitas tersendiri. Seorang pemikir, sekaligus arsitek hukum Romawi bernama Cicero, pernah berkatat," Yang senantiasa berubah adalah perubahan itu sendiri."
Van Peursen dalam buku Strategi Kebudayaan memberikan ciri perubahan pemikiran manusia secara berjenjang, yaitu tahap mistis, ontologis, dan fungsional. Pada tahap mistis manusia merasakan dirinya seperti terkungkung oleh kekuatan-kekuatan gaib di luar dirinya. Pada tahap ontologis, sikap manusia tidak hidup lagi dalam kungkungan kekuatan mistis, tetapi secara bebasa ingin meneliti segala hal yang ada. Manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dirasakannya sebagai kungkungan. Pada tahap fungsional, sikap dan alam pikiran manusia mungkin tampak pada jati diri manusia modern yang terpesona oleh lingkungan (sikap mistis) maupun bersikap dingin dengan mengambil jarak terhada subyek penyelidikannya (Fauz, 2004:117).
Dari catatan mengenai perubahan di atas, lantas apa relasinya dengan esensi manusia. Di sinilah letak penting catatan ini. Yaitu membangun kesadaran terhadap perubahan dan hakikat kita sebagai makhluk Tuhan. Pertama, manusia mesti memiliki kesadaran untuk senantiasa memperbarui keimanannya. Karena keimanan manusia senantiasa berubah. Nabi Muhammad SAW, bersabad,"Al-imanu yazid wa yanqushu." Iman itu bertambah dan berkurang. Iman kadang-kadang pasang. Kadang-kadang surut. Maka dari itulah, manusia perlu menyadari bahwa keimnannya sendiri bersifat dinamis. Kadang dia begitu rajin melakukan sholat, ngaji, dzikir, dan amalan ibadah lainnya. Lain halnya ketika keimnannya surut, untuk sekedar bangun sholat shubuh terasa sulit. Sekali lagi, perubahan itu harus disadari. Jangan sampai manusia sampai terlarut dalam surutnya keimanan. Sebagai makhluk yang diberikan kewajiban untuk mengabdi kepada Tuhan, manusia mesti memahami hakikat perubahan siklus keimanan. Perlu ada upaya dan komitmen untuk menjaga keimanannya agar tetap kokoh.
Semua itu bukan tanpa maksud. Alasannya adalah karena esensi keberdaan manusia di dunia adalah untuk menyembah. Perubahan apa pun yang terjadi di dunia ini jangan sampai membuat manusia lalai dalam menajalankan tanggung jawabnya sebagai makhluk Tuhan. Sebagai makhluk yang berakal, kita perlu memanfaatkan kegemilangan peradaban manusia era sekarang. Perubahan yang terjadi di segela lini harus dijadikann modal untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena hal itu merupakan esensi dan hakikat penciptaan manusi di dunia. Semoga kita tidak terjebak pada pemikiran dan perubahan yang menyesatkan. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help