TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Meninjau Pengamalan Pancasila

penerapan dan pengamalan Pancasila akan menjadikan kita warga negara yang jauh lebih bijaksana

Meninjau Pengamalan Pancasila
Ilustrasi 

Oleh: Muhammad Aufal Fresky
Alumnus Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga
freskyaufal@gmail.com

Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal Pancasila. Tapi tidak semua orang benar-benar memahami dan mempraktekkan nilai yang terkandung di dalamnya. Sebagian dari kita hanya mengetahui Pancasila dari kulit luarnya saja. Belum menyentuh sisi terdalam sehingga kita benar-benar memahami dan sadar untuk mempraktekkan nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentunya kita sepakat bahawa Pancasila tidak cukup hanya dihafal. Pancasila bukan hanya kumpulan teori yang diendapkan di kepala kita. Pancasila akan bernilai mana kala masyaraka Indonesia memahami dan mengamalkannya. Inilah yang jarang kita lakukan. Bahkan mungkin belum sama sekali kita terapkan. Pancasila seolah menjadi barang antik yang tersimpan di museum.
Kita mengetahui Pancasila sebatas simbolis. Padahal penerapan dan pengamalan Pancasila akan menjadikan kita warga negara yang jauh lebih bijaksana. Menjadikan kita pribadi-pribadi yang memiliki akhlak yang mulia. Karena saya pun percaya bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila mengarahkan kita untuk menjadi manusia yang berbudi luhur dan toleran terhadap sesama. Di sinilah letak kehebatan Pancasila, selain sebagai pemersatu dan perekat bangsa, Pancasila mengarahkan setiap individu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Memang sejak kita sekolah dulu, kita sering kali disuruh menghafal Pancasila, tapi jarang kita diperkenalkan bagaimana mempraktekkan Pancasila itu sendiri. Oleh karena itulah sebagai bagian masyarakat yang tercerahkan, tentunya kita harus sadar diri untuk senantiasa menggali nilai Pancasila dan mencoba untuk menghayati serta mengamalkannya.
Ke depannya bangsa ini akan menghadapi banyak tantangan. Baik tantangan dari dalam maupun dari luar negeri. Gerak zaman yang begitu pesat dan perkembangan teknologi yang semakin maju juga menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa ini. Bagaimana menghadapi arus global yang semakin cepat dan mendekat. Akulturasi budaya asing sudah memasuki pelosok desa. Tradisi-tradisi di berbagai belahan dunia pun mudah untuk kita ketahui dan tiru. Di sinilah peran Pancasila kembali dibutuhkan. Yaitu untuk menyaring mana budaya yang sesuai dengan jati diri dan kepribadian bangsa , dan mana budaya yang justru merusak tananan kehidupan bangsa ini.
Jika ditinjau dari sisi historis, ada beberapa hal yang membuat kenapa Pancasila seolah-oleh semakin kehilangan relevansinya. Mengutip tulisannya Azyumardi Azra yang berjudul Jati Diri Indonesia : Pancasila dan Multikulturalisme, disebutkan di dalamnya bahwa ada tiga faktor yang membuat Pancasila semakin sulit dan marjinal dalam semua perkembangan yang terjadi. Pertama, Pancasila terlanjur tercemar karena kebijakan rezim Soeharto yang menjadikan Pancasila sebagai alat politik untuk pertahanan status quo kekuasaannya. Rezim Soeharto juga mendominasi pemaknaan Pancasila yang selanjutnya diindoktrinisasi secara paksa melalui Penataran P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila). Kedua, Liberalisasi politik dengan penghapusan ketentuan oleh B.J Habibie tentang Pancasila tentang Pancasila sebagai satu-satunya asas setiap organisasi. Penghapusan ini memberikan peluang bagi adopsi asas-asas ideologi lain, khususnya yang berbasiskan agama (religious-based ideology). Pancasila jadinya tidak menjadi kesepakatan bersama (common platform) dalam kehidupan politik. Ketiga, desentralisasi dan otomisasi daerah yang sedikit banyak mendorong penguatan sentimen kedaerahan, yang jika tidak diantisipasi bukan tidak bisa menumbuhkan sentimen local-nationalism yang dapat tumpang tindih dengan ethno-nationalism. Dalam hal inila saya rasa Pancasila mulai kehilangan posisi sentralnya.
Di tengah persoalan bangsa yang semakin kompleks ini kita diajak untuk kembali mengevaluasi diri. Sudahkah Pancasila menyerap dalam setiap jiwa anak bangsa. Karena saya percaya bahwa Pancasila yang digagasa oleh para pendiri bangsa tersebut memiliki nilai yang begitu luar biasa. Nilai yang akan mengantarkan bangsa ini mencapai cita-cita bersama. Pancasila juga sebagai problem solver dari setiap permasalahan yang terjadi. Dengan catatan kita benar mengamalkannya. Bukan sekedar menghafal. Di sinilah peran pemerintah sangat diperlukan untuk kembali mempropagandakan Pancasila sebagai falsafah sekaligus pandang hidup bangsa. Pemerintah bertanggung jawab untuk kembali mensosialisasikan Pancasila sebagai jati diri dan kepribadian bangsa ini. Terutama kepada generasi mudanya yang kian hari semakin lupa sejarah. Karena para generasi muda perlu bimbingan, perlu arahan, dan perlu dijejalkan nilai-nilai luhur agar mereka memiliki orientasi yang jelas dalam hidupnya. Bukan sebaliknya, menjadi pribadi yang labil, dan tak mengenal jati diri bangsanya sendiri. Sekali lagi, ini bukan hanya tugas dari guru di sekolah, dosen di berbagai kampus, atau mereka yang berada di insitusi pemerintahan. Ini juga bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi kita semua yang merasa sadar untuk kembali menggelorakan semangat kembali kepada Pancasila. Kembali dengan artian yang sebenarnya. Kembali memperlajari, menghayati dan mempraktekkannya.
Bagaimanapun juga semua tentu setuju bahwa Pancasila ini adalah ideologi terbuka yang mana kita bisa menafsirkannaya secara kontekstual. Pancasila bukanlah ideologi baku yang statis. Pancasila bukan juga sebuah ideologi yang hanya pemerintah yang berwenang untuk memaknainya. Pemaknaan dan penafsiran nilai Pancasila sesuai dengan perubahan zaman. Semoga segenap masyarakat Indonesia mulai tergerak hatinya, tersadarkan pikirannya, sehingga kita menjadi rakyat Indonesia yang semakin bijaksana serta memiliki kepribadian luhur. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help