TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Secercah Asa Dalam Penyelamatan Sungai Karang Mumus

Sungai Karang Mumus yang mengalir sepanjang 34,7 km merupakan salah satu anak Sungai Mahakam yang membelah Kota Samarinda.

Secercah Asa Dalam Penyelamatan Sungai Karang Mumus
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Aktivitas warga di Bantaran Sungai Karang Mumus (SKM) di kawasan Jalan S Parman Samarinda Ulu, Minggu (7/8/2016). 

Tri Noor Aziza
Peneliti Pada PKP2A III Lembaga Administrasi Negara
iza.aziza@gmail.com

Sungai Karang Mumus yang mengalir sepanjang 34,7 km merupakan salah satu anak Sungai Mahakam yang membelah Kota Samarinda. Sungai Karang Mumus sangat penting artinya dan berpengaruh bagi kehidupan masyarakat di sekitar daerah aliran sungai. sekitar tahun 1970-1980 an banyak hal menarik di sepanjang Sungai Karang Mumus. Air Sungai Karang Mumus kala itu masih jernih dan menyegarkan, bahkan sampai bisa dilihat dasar sungainya. Aktifitas yang sering dilakukan masyarakat cukup beragam, mandi, berenang menangkap ikan dan menciduk anak udang. Beberapa jenis ikan seperti ikan haruan, patin, pipih, biawan, dan pepuyu masih banyak dijumpai. Termasuk Haliling (semacam siput yang bisa dijadikan lauk ) yang biasa menempel di sekitar batang (rakit kayu gelondongan dan diatasnya dibuat jamban).
Sungai Karang Mumus sendiri memiliki beberapa anak sungai seperti Sungai Lubang Putang, Sungai Siring, Sungai Lantung, Sungai Muang, Sungai Selindung, Sungai Bayur, Sungai Lingai, dan Sungai Bengkuring. Bagi masyarakatnya Sungai Karang Mumus merupakan urat nadi dalam menggerakkan sektor ekonomi, sosial dan budaya serta sarana transportasi penting untuk mengakses kota-kota lainnya di Kalimantan Timur.
Tofografi daerah aliran Sungai Karang Mumus sendiri ada yang berbukit-bukit dan ada juga daerah datar/rendah khususnya di alur Sungai Karang Mumus yang berada dalam Kota Samarinda. Umumnya daerah aliran sungai ini dimanfaatkan untuk daerah pemukiman, tempat berbagai jenis usaha, daerah pertanian dan sebagian lagi masih berupa lahan-lahan kosong.
Pemukiman di sepanjang aliran Sungai Karang Mumus adalah pemukiman padat penduduk yang sebagian besar warganya masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Sebut saja MCK alias mandi, cuci dan kakus. Setiap harinya tak terhitung masyarakat yang menunaikan prosesi membuang "limbah perut" ke sungai. Belum lagi limbah rumah tangga berupa limbah sampah (baik padat maupun cair) seperti: bungkus makanan, air sabun, air bekas cucian yang mengandung zat kimia dan lainnya.
Selain itu, daerah aliran sungai dimanfaatkan juga untuk berbagai jenis usaha diantaranya usaha perbengkelan dan berbagai jenis pabrik. Salah satu jenis usaha yang cukup menonjol adalah pengolahan tahu dan tempe. Tak kurang dari 20 pabrik pengolahan tahu dan tempe tersebar di sepanjang aliran sungai yang memanfaatkan air Sungai Karang Mumus untuk kegiatan usahanya. Sayangnya, tak dapat dinafikan bahwa limbah industri juga tak jarang dibuang begitu saja ke Sungai Karang Mumus tanpa melalui proses pengolahan limbah terlebih dahulu.
Bayangkan, berapa banyak limbah yang masuk ke Sungai Karang Mumus setiap harinya, dan berapa banyak pula dalam satu bulan? Satu tahun?
Pencemaran sungai merupakan kondisi dimana air pada sungai terkontaminasi limbah industri, limbah peternakan, limbah rumah tangga, bahan kimia serta unsur yang bisa menimbulkan gangguan klinis bagi manusia. Lihatlah kondisi sungai karang mumus kini yang sedang sakit, sungai yang sakit tentu terlihat "merana" dan tidak enak dipandang. Kondisi sungai kotor, warna air coklat kehitaman, sampah bertebaran. Selain itu, indera penciuman juga akan merasakan dampak dari pencemaran ini, karena sampah yang menumpuk terlalu lama akan mengeluarkan aroma kurang sedap.
Air yang tercemar tentu saja membawa kerugian tidak hanya bagi manusia namun juga bagi makhluk hidup lainnya. Tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme berbahaya dari pembusukan sampah yang dapat menimbulkan penyakit. Air yang beracun, sehingga berbahaya bila digunakan untuk keperluan sehari-hari. Belum lagi terganggunya keseimbangan ekosistem di dalam air dan di bantaran sungai yang bisa berdampak bagi kehidupan manusia, contoh: berkurangnya populasi ikan khas Samarinda bahkan sampai pada kepunahan jenis ikan tertentu dan makin berkembangnya jenis ikan sapu-sapu yang menandakan pencemaran sungai, sampai pada semakin berkurangnya pohon-pohon penyangga di bantaran Sungai Karang Mumus. Dampak-dampak tersebut tentu sangat merugikan kehidupan kita. Lantas bagaimana respon kita terhadap permasalahan ini?
Kebanyakan warga tidak sadar akan dampak dari membuang limbah sembarangan ke sungai. Padahal ini akan sangat berpengaruh pada kualitas air sungai. Tercemarnya aliran sungai tidak dapat dihindari yang kemudian tentu membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia. Mengingat kedudukan air sebagai salah satu elemen terpenting dari kehidupan, maka mulailah dengan menuntut diri untuk sadar akan keharusan menjaga dan merawat sungai dengan mindset Sungai Karang Mumus adalah milik kita bersama, agar kita dapat memanfaatkan kembali aliran sungai tersebut untuk mensejahterakan kehidupan kita secara luas baik untuk sekarang maupun di masa mendatang.
Menurut PP No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai, jika Sungai Karang Mumus berkedalaman antara 3-10 meter, maka paling tidak ada sekitar 15 meter yang merupakan area sempadan yang menunjukkan jika terdapat bangunan dalam sempadan sungai maka bangunan tersebut dinyatakan dalam status quo dan secara bertahap harus ditertibkan untuk mengembalikan fungsi sempadan sungai kecuali fasilitas kepentingan umum yang termaktub dalam peraturan tersebut. Sehingga apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Samarinda merelokasi penduduk bantaran Sungai Karang Mumus adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi sungai.
Bagi aparatur yang berwenang sangat penting membangun sinergitas kemitraan serta kerjasama (kolaborasi) semua pihak pemangku kepentingan, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Pemberdayaan organisasi masyarakat, sosial dan kepemudaan, tokoh masyarakat, tokoh agama, pihak swasta, serta seluruh elemen agar ikut berperan aktif dalam penyelamatan sungai karang mumus. Adalah keniscayaan untuk terwujud jika kita saling bersinergi untuk peduli akan kelestarian Sungai Karang Mumus. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help