TribunKaltim/

Sidang Perdana Kasus Dugaan Penodaan Agama oleh Oknum Dokter Digelar pada Rabu

Untuk diketahui, oknum dokter tersebut tersangkut kasus hukum gara-gara postingan di media sosial yang ia unggah mengkritisi aksi 212

Sidang Perdana Kasus Dugaan Penodaan Agama oleh Oknum Dokter Digelar pada Rabu
TRIBUNKALTIM.CO/MUHAMMAD FACHRI RAMADHANI
Caps : Ketua Pengadilan Negeri Balikpapan Ajidinnor SH MH saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (15/5/2017). 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Muhammad Fachri Ramadhani

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Perkara penodaan agama yang dilakukan oknum dokter di Balikpapan terus bergulir. Saat ini berkas perkara sudah diterima di Pengadilan Negeri Balikpapan, rencananya sidang perdana bakal digelar pada Rabu (17/5/2017) mendatang.

Hal tersebut diungkapkan Ketua PN Balikpapan Ajidinnor SH MH saat ditemui media ini, Senin (15/5/2017).

Lanjut Ajidinor, berdasarkan surat penetapan nomor 291/Pid.Sus/2017/PN Bpp, telah ditunjuk Aminuddin SH MH sebagai Ketua Majelis Hakim, didampingi 2 hakim anggota, Darwis SH, Muhammad Asri SH MH.

Ketiga hakim tersebut bakal menggawangi persidangan Otto Rajasa (40) yang didakwa telah melakukan penodaan agama di Balikpapan.

"Rabu nanti sidang perdana, dengan agenda pembacaan dakwaan," katanya.

Untuk diketahui, oknum dokter tersebut tersangkut kasus hukum gara-gara postingan di media sosial yang ia unggah mengkritisi aksi 212 di Jakarta silam.

Dalam tautannya ia mengatakan ibadah haji tak harus lagi ke Mekkah, cukup di Jakarta saja. Ironisnya Otto Rajasa (40) menyebutnya ibadah haji tersebut merupakan paket hemat.

Masjid Istiqlal menurutnya mewakili Masjidil Haram, Sai Safa Marwa disimbolkan sebagai aksi long march Istana Presiden - Istiqlal, lempar jumroh bisa diwakili melempar lukisan Ahok, hingga mencium hajar aswad disimbolkan dengan mencium mobil Habieb Rizieq.

Tak hanya itu, ia juga mengunggah pandangan keagamaannya yang bersifat kontroversial lainnya di akun Facebook. Unggahan OR yang saat ini sudah dihapus tersebut langsung direspon banyak netizen.

Beberapa kalangan yang merasa tercederai melaporkan hal tersebut kepada pihak berwajib untuk diusut karena dinilai telah melakukan provokasi berbau SARA. (*)

Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help