TribunKaltim/

Berita Pemkab Kutai Timur

41 Unit Bank Sampah sudah Terbentuk, Upaya Kutim Raih Adipura

Heni mengatakan pada prinsipya, pihaknya akan terus berusaha mendorong masyarakat agar semakin sadar terhadap lingkungannya.

41 Unit Bank Sampah sudah Terbentuk, Upaya Kutim Raih Adipura
NET
ILUSTRASI - Piala Adipura 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Sekitar 41 unit bank sampah yang tersebar di dua kecamatan di Kutai Timur (Kutim) yaitu Sangatta Utara dan Sangatta Selatan sudah beroperasi menjadi wadah meningkatkan kesadaran untuk hidup bersih di lingkungan masyarakat setempat.

Dalam agenda rapat coffee morning, tim pembina bank sampah yang diketuai Heni Afriah berkesempatan mempresentasikan laporan tentang kebijakan Nasional tentang Bank Sampah Induk, inventarisasi, dan persentase Bank Sampah di Ruang Meranti Kantor Bupati, Senin (15/5/2017).

41 Unit Bank Sampah yang sudah terbentuk diantaranya di kawasan Bukit Pelangi unit Swakelola, Rumah Sakit Maloy, RSU Medika, Bank Sampah SDN 003, SDN 001, SDN 005, STIPER, Bank Sampah Sangkima, Loa Mali, Singa Geweh, dan Bank Sampah DPRD Kutim.

Heni mengatakan pada prinsipya, pihaknya akan terus berusaha mendorong masyarakat agar semakin sadar terhadap lingkungannya. Ketika sampah yang dihasilkan dapat terkelola secara baik, lingkungan bisa bersih dan sehat.

"Kami di pemerintahan berupaya untuk terus melakukan sosialisasi, edukasi, maupun pembinaan secara rutin, melakukan pembinaan melalui kegiatan bimbingan teknis (bintek) tentang pengelolaan sampah pun telah digelar tiap tahun. Melalui kegiatan itu, kami harapkan mereka bisa semakin paham tentang sampah serta kebersihan lingkungannya,” ungkap Heni.

Bahkan, lanjutnya, dari berbagai kegiatan itu, pemerintah juga mengajak masyarakat melalui pendirian Bank Sampah dapat melakukan inovasi atau kreativitas yang bernilai ekonomis.

Misalnya dengan memilah sampah yang bisa diolah untuk kemudian dijadikan bahan kerajinan tangan. Ketika sudah bisa dipasarkan, hasil yang diperoleh bisa dikelola mereka dan mendapatkan pendapatan.

Manfaatnya, ketika semakin Bank Sampah yang didirikan oleh masyarakat hasilnya dipastikan mempengaruhi beban sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) pun semakin berkurang. 

"Ada dua jenis sampah yaitu sampah organik kering  didaur ulang bisa digunakan menambah penghasilan dan sampah organik basah yang ditabung kedalam bank sampah seperti sisa-sisa sayuran atau buah buahan bisa diolah menjadi kompos. Diluar itu masih ada sampah jenis residu tidak bisa didaur ulang lagi dibuang ke dalam Tempat Pembuangan Akhir (TPA)," ujar Heni.

Dirinya menambahkan, Tahun 2019 Kutim siap menyabet Piala Adipura dengan terbentuknya tim Bank Sampah karena sudah mengadopsi sistem kelola Bank Sampah yang baik.

"Selama ini pengelolaan sampah kita masih kumpul angkut buang ke TPA tidak ada proses daur ulang dan pengomposan. Lewat Bank Sampah semuanya bisa terkelola dan volume sampah yang di buang ke TPA berkurang," katanya. 

Sementara itu, Bupati Ismunandar mengapresiasi penting terbentuknya bank sampah ini menandakan Kutim siap menjalankan hidup bersih. Hal ini menjadi kewajiban setiap daerah mengelola sampah komperhensif dan terpadu agar memberi manfaat secara ekonomi.

"Ini bisa menjadi contoh seluruh warga khususnya menetap di perkotaan memperhatikan kebersihan menuju terciptanya gerakan Nasional Indonesia Bersih Sampah 2017 dan limbah perusahaan-perusahaan bisa dikelola dalam Bank Sampah. Hasilnya tercipta sinergitas pemerintahan dan stakeholder dalam pemeliharaan lingkungan sehat," tegas Ismu. (advertorial/hms13)

Editor: Kholish Chered
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help