TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Menyelamatkan Pemuda Indonesia dari Radikalisme

Mereka begitu sadis melakukan pembunuhan kepada mereka yang belum tentu berdosa di mata Tuhan.

Menyelamatkan Pemuda Indonesia dari Radikalisme
net
Ilustrasi

Muhammad Aufal Fresky
Alumnus Program Studi Ekonomi Pembangunn Unair
freskyaufal@gmail.com

Generasi muda Indonesia harus diselamatkan dari paham radikal. Mereka mesti diperkenalkan dengan nilai-nilai luhur yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Nilai yang mengajarkan kepada mereka tentang bagaimana berucap dan bertindak. Nilai yang nantinya akan menjadikan acuan bagi para pemuda kita dalam melangkah. Generasi muda adalah tulang punggung bangsa di kemudian hari. Maka dari itulah, kita ajari mereka tentang bagaimana tentang pentinganya menghargai kehidupan. Bagaimana memperlakukan sesama dengan baik. Karena sejauh ini dari sekian banyak pemuda, hanya sedikit saja yang memilki kesadaran akan pentingnya mengamalkan akhlak yang baik dalam kehidupan.
Terkait paham radikal, ada kaitannya dengan pemahaman agama yang masih rendah. Karena pemuda yang memiliki pemahaman agama yang cukup mendalam, tidak akan mudah terkecoh dengan ajaran-ajaran yang menjajikan kesenangan surgawi tapi dengan prilaku setan. Para pemuda harus benar-benar waspada kepada mereka yang mengajak mereka berjihad dengan cara kekerasan. Apalagi sampai menghalalkan darah sesamanya. Kita sepakat bahwa Islam adalah agama yang tidak mengajarkan kekerasan. Islam adalah rahmat bagi kita semua. Pun demikian dengan keberadaan Nabi Muhammad yang diutus ke dunia tiada lain tiada bukan yaitu untuk menyempurnakan akhlak manusia itu sendiri.
Sekarang kita bisa mengakses teknologi dari berbagai tempat. Kemudahan berkomunikasi dengan fasilitas media sosial juga menunjang pergaulan antarmanusia. Hal ini juga menjadi wadah bagi penyebar paham radikal untuk menyasar kaum muda melalui media sosial, blog, website, dan jaringan online lainnya. Pemuda menjadi sasaran empuk bagi tersebarnya paham radikal disebabkan karena sifat pemuda yang kadang masih labil dan belum memiliki prinsip yang kokoh dalam hidupnya. Sebagian pemuda juga masih dalam proses pencarian jati diri. Hal itulah yang memberikan peluang bagi para agen paham radikal untuk mengajak mangsanya bergabung menjadi bagian dari kelompok mereka.
Pengawasan media online, website, blog dan sebagainya harus semakin digencarkan oleh pemerientah. Kalau perlu melakukan pemblokiran secara permanen jika memang dirasa hal tersebut mengancam ideologi bangsa dan berpotensi memecah belah bangasa. Indonesia adalah negara yang menganut ideologi Pancasila. Jika ada media online yang hendak mengajak untuk mendirikan negara Islam, maka pemerintah pun harus tegas menindaknya. Karena media semacam itu bisa mempengaruhi mental dan kepribadian pemuda Indonesia yang masih labil. Pelu kiranya pemerintah melakukan pengawasan sekaligus penindakan hukum bagi mereka yang menyebarkan paham radikal. Karena sebagai masyarakat, kita menginginkan negara ini tetap dalam keadaan yang aman dan damai.
Lihat saja apa yang telah dilakukan oleh para teroris terhadap sesamanya. Mereka begitu sadis melakukan pembunuhan kepada mereka yang belum tentu berdosa di mata Tuhan. Para teroris tersebut seakan memvonis mereka adalah kaum yang patut menerima serangan bom. Orang -orang yang telah teracauni paham radikal akan beranggapan bahwa kebenarann hanya ada pada diri dan kelompoknya. Seolah-olah apa yang diinstruksikan oleh pimpinan kelompoknya adalah perintah Tuhan. Padahal itu hanyalah nafsu mereka saja. Para penganut paham radikal seolah mengklaim surga hanya miliki mereka dan kelompoknya. Mereka saja yang berhak memasuki surga atas dasar perjuangan mereka membela agama Tuhan. Seakan-akan surga secara otomatis menjadi hak mereka yang katanya berjuang di jalan Tuhan.
Merampas hak hidup orang dengan cara yang kejam tidak bisa kita benarkan. Bahkan kita mengecam perbuatan semacam itu. Tindakan yang sangat menyalahi norma agama dan norma hukum. Mungki kita masih penasaran, sebenarnya apa yang bisa menggerakkan mereka berbuat sangat keji kepada sesama? Dimana letak hati nurani dan kepekekaan terhadap nasib hidup sesama manusia? Mungin hati mereka telah tertutupi oleh angan-angan kosong untuk menggengam kebahagiaan pasca berjihad dengan cara melancarkan serangan bom bunuh diri misalnya.
Hati dan pikiran para teroris tersebut sudah diselimuti nafsu sesaat, ditambah bisikan setan yang senantias mempengaruhi mereka untuk membunuh atas nama Tuhan. Tindakan mereka berawal dari paham radikal yang selama ini dipegang. Pemahaman agama yang masih dangkal ditambah kondisi ekonomi yang memprihatinkan menjadi salah satu faktor penting mengapa mereka bergabung dengan kelompok radikal. Hal inilah yang kita khawatirkan terjadi pada generasi muda Indonesia. Kita was-was dengan keadaan generasi yang masih labil dengan tingkat pemahaman agama yang belum cukup. Karena merekalah yang nantinya akan dijadikan korban bujuk rayu para propagandis.
Sekali lagi, ini menjadi peringatan bagi segenap komponen masyarakat dan juga penguasa. Dalam hal ini, peran keluarga juga sangat mempengaruhi dalam mencegah anaknya terjebak pada paham-paham yang mengajarkan kekerasan. Keluarga berperan dalam mendidik sang anak untuk lebih mengenal ajaran Islam yang sesungguhnya. Islam yang damai dan toleran. Islam yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Islam yang sangat mengedepankan urusan akhlak dalam setiap aspek kehidupan. Mendidik pemuda dengan pemahaman Islam yang benar juga perlu digiatkan oleh setiap institusi pendidikan yang ada. Selain untuk mencegah mereka terjebak pada paham radikal, dengan pemahaman Islam yang benar, diharapkan mereka bisa menjadi generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Menghargai perbedaan dan menghormati sesama. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help