TribunKaltim/

Berita Pemkab Kutai Timur

Antusias Kelilingi Demplot, Mardjoni: Jangan Hanya Menanam, tapi Prioritaskan Pemasaran

Dinas Pertanian dalam hal ini akan memilih di antara 18 kecamatan mana yang produksi pertaniannya meningkat.

Antusias Kelilingi Demplot, Mardjoni: Jangan Hanya Menanam, tapi Prioritaskan Pemasaran
HO_HUMAS PEMKAB KUTIM
Plt Kadistan Mardjoni bersemangat menyusuri area percontohan sawah maupun tanaman holtikultura di area demplot Penas KTNA Aceh. Tidak hanya itu, ia juga menyempatkan mengunjungi gelaran teknologi peternakan kambing dan mengunjungi Expo Pameran UKM. 

TRIBUNKALTIM.CO, BANDA ACEH - Kunjungan kerja ke Pekan Nasional (Pekan Nasional) Kontak Tani Nelayan Andalan XV/2017 Aceh, dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kutai Timur (Kutim) Mardjoni untuk lebih beriteraksi pada pameran gelar teknologi gawean Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banda Aceh.

Selepas berdialog dengan para petani nelayan kontingen Kutim di sekretariat Jalan Tgk Lampoh Bungoh, pria yang biasa akrab dipanggil Djoni ini langsung mengajak staff Dinas Pertanian yang juga koordinator pelaksana kegiatan Penas KTNA, Anshori mengunjungi lokasi demplot (lahan percontohan) tepat di belakang sebelah barat Stadion Harapan Bangsa Lhoong Raya.

Saat berada di area budidaya tanaman seluas 10 hektare, dirinya cukup terkejut. Pasalnya dalam membuat demplot diperlukan perencanaan matang.

Biasanya sudah jauh-jauh hari proses dimulai dari bertani dalam menyiapkan pengolahan pertanian, pemilihan bibit unggul, pengairan tepat waktu, pemupukan sesuai dosis, dan waktu panen jangan ditunda.

"Panitia sukses menggelar pameran demplot ini, tentunya ini akan kami bawa ke Kutim. Kutim juga bisa menggelar kegiatan seperti ini. Memacu teman-teman berkarya. Bisa saja nanti Dinas Pertanian akan memilih lahan mana yang cocok bisa ditanam berbagai macam tanaman pangan andalan Kutim," kata Djoni.

Demplot tersebut, menurut Djoni, bisa menjadi bahan masukan buat pertanian Kutim. Yakni, mengukur komoditi apa saja yang bisa menjadi input membawa kekuatan Kutim menjadi pusat lumbung pangan nasional terbesar di Kaltim.

Dinas Pertanian dalam hal ini akan memilih di antara 18 kecamatan mana yang produksi pertaniannya meningkat.

"Keterlibatan teman-teman di KTNA dapat mengembangkan cara berpikir dan melihat ilmu apa saja yang mereka dapat. Selepas ini, hasilnya diinventarisir tentang teknologi apa saja yang digunakan, sekaligus sistem model pengolahan budidaya tanaman. Di situlah Dinas Pertanian dan petani connect. Jangan sampai kita berencana, masyarakat tidak siap. Tidak bisa menerima karena tidak tahu dengan adanya keikutsertaan ini," ungkapnya.

Untuk itu juga diperlukan pembenahan petani sehingga memiliki intelektual dalam pengembangan diri, mengolah kemampuan (skill) menggunakan fasilitas alat-alat pertanian mutakhir, mencari bibit-bibit yang cocok dengan kondisi tekstur tanah Kutim, hingga proses membangun pembudidayaan tanaman. Contohnya di Kutim seperti jagung, kedelai, singkong, maupun padi.

Selain itu faktor agribisnisnya perlu direncanakan. Jangan sampai hanya menanam dan memproduksi. Namun harus dilihat pemasarannya. Termasuk harus lebih gencar berpromosi di internet.

Ia mengatakan setiap tahun ada anggaran untuk desa membangun setiap kecamatan dari pemkab untuk mengejar pemanfaatan lahan sawah maupun kering, mulai dari tanaman padi, jagung, dan singkong.

"Ini memang sudah sesuai arahan program duet kepemimpinan Ismunandar bersama Kasmidi Bulang. Sejalan dengan ini Dinas Pertanian sudah memperkuat pemasaran melalui jaringan kerja sama dengan perusahaan alat pertanian yang berasal dari Surabaya dan Yogjakarta guna mendukung operasional produksi pertanian menuju Kutim sebagai pusat swasembada pangan," kata Djoni. (advertorial/hms13)

Editor: Kholish Chered
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help