TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Jadilah Ayah yang Keayahan

Sebagai orangtua kita tidak membesarkan anak untuk menduduki profesi tertentu namun lebih dari itu orangtua bertugas untuk membesarkan anaknya

Jadilah Ayah yang Keayahan
THINKSTOCK.COM
Ilustrasi 

Oleh Fransiska, S.Si
(Fasilitator Jurnalistik Sekolah Alam Balikpapan)
mimisiska84@gmail.com

SABTU (6/5), ratusan wali murid SD dan SMP Alam Balikpapan (Samba) berbondong - bondong memenuhi aula Masjid Istiqomah Kompleks Pertamina dalam rangka kegiatan parenting akbar. Parenting merupakan salah satu agenda wajib Sekolah Alam. Pada parenting kali ini, Samba menghadirkan narasumber pakar keayahan dari Jakarta, Irwan Rinaldi.
Samba merasa sangat perlu menggelar parenting bertema ayah agar anak - anak diharapkan tidak hanya memiliki sosok ayah secara fisik namun tidak memiliki ayah secara psikologis. "Kami sangat mengharapkan semua ayah dari anak didik kami dapat hadir menimba ilmu disini agar anak - anak tidak mengalami krisis figur ayah," kata Ida Kurniawati, Kepala Sekolah SD Alam Balikpapan.
Acara dimulai pukul 08. 30 Wita yang diawali dengan sambutan dari Eko Hendratmo, selaku salah seorang pengurus Yayasan Hijau Borneoku yang menaungi Samba. Setelah pembacaan doa, dilanjutkan dengan pemaparan dari Irwan Rinaldi yang mengusung tema, " Bersama Ayah Aku menjadi Bisa dan Hebat".
Sebagai pembuka, Irwan menjelaskan tentang pentingnya pembentukan karakter anak dengan rentang usia nol hingga lima belas tahun dengan pentingnya sosok ayah yang keayahan bukan ayah yang acuh tak acuh. "Usia tujuh sampai 14 tahun itu anak laki - laki sedang membutuhkan figur laki - laki yaitu ayahnya," kata Irwan. Ia menambahkan bahwa ayah adalah bahan bakar bagi tumbuh kembang anak - anaknya baik secara fisik maupun psikologis.
Untuk menjadi ayah yang keayahan, Irwan merumuskan melalui prinsip, "Jernih di Hulu, Jernih di Hilir". Artinya, ayah perlu bersikap sebagaimana mestinya peran ayah dengan selalu mengingat bahwa anak adalah takdir Allah, amanah dari Allah SWT yang nantinya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. Rumus ayah yang keayahan menurut Irwan yakni "Bersama bukan Dengan"! yang berbeda makna antar keduanya. "Contoh kalau ayah pergi dengan anak maka ayah tidak akan menikmati perjalanan, sebaliknya jika ayah pergi bersama anak maka akan berusaha agar perjalanan tersebut membekas, memberikan kesan mendalam bagi anak," terang Irwan.
Menjadi ayah yang dirindukan oleh anak - anaknya tentunya diharapkan oleh setiap ayah. Agar dapat mencapai tujuan tersebut, Irwan mengingatkan setiap ayah supaya terlebih dahulu menjadi juara. "Masing - masing ayah musti menjadi juara, juara bagi dirinya sendiri, juara bagi istrinya dan juara bagi anak - anaknya," katanya dengan bersemangat.
Meskipun parenting kali ini membahas tentang sosok ayah akan tetapi banyak juga ibu-ibu wali murid yang mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias. Pun demikian dengan Irwan yang tidak hanya dominan memaparkan tentang figur ayah dan anak laki-laki. Irwan juga menyinggung masalah membesarkan anak perempuan. "Sebagai orangtua kita tidak membesarkan anak untuk menduduki profesi tertentu namun lebih dari itu orangtua bertugas untuk membesarkan anaknya menjadi wanita penghuni surga," ungkap Irwan. Lebih lanjut Irwan mengharapkan agar setiap anak perempuan dibekali keterampilan perempuan, seperti menjahit, mengayam dan lain sebagainya.
My Dad My Hero
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar," (QS. Luqman (31) ayat 13).
Di dalam Al-Quran telah banyak pedoman yang dapat digunakan oleh para ayah dalam menjalankan perannya sebagai seorang ayah sehingga dapat menjadi hero bagi anak - anaknya. Seperti teladan dari Luqman, Nabi Ya'kub, dan Nabi Ibrahim yang mendidik langsung anak-anaknya.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, "Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa' di jalan Allah." Nabi pun mencontohkan, bahkan ketika beliau sedang disibukkan dengan urusan menghadap Allah SWT (shalat), beliau tidak menyuruh orang lain (atau kaum perempuan) untuk menjaga kedua cucunya yang masih kanak-kanak, Hasan dan Husain. Bagi Nabi, setiap waktu yang dilalui bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendidik, termasuk ketika beliau sedang shalat.
Abu Bakar Ahmad bin Kamil bin Khalaf bin Syajarah al-Baghdadi selalu memantau pendidikan putrinya, Amat as-Salam di tengah kesibukannya sebagai hakim. Diriwayatkan oleh al-'Atiqi, hafalan hadits Amat as-Salam bahkan selalu dicatat oleh sang ayah. Syaikhul Islam Abu Abbas Ahmad bin Abdillah al-Maghribi al-Fasi (560 H) yang mengajari putrinya tujuh cara membaca al-Qur'an, serta buku-buku hadits seperti Bukhari dan Muslim walaupun sibuk berdakwah.
Para ayah - ayah tersebut tidak melepaskan begitu saja tanggung jawabnya akan pendidikan dan kasih sayang terhadap anak - anaknya kepada istri - istrinya. Janganlah menjadi ayah yang sering mengucapkan, "Sana sama ibumu saja!" Ayah, tentu ayah sangat bangga bukan apabila anak - anak ayah berkata, "My Dad My Hero”. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help