TribunKaltim/

Begini Cara Sekolah Berkebutuhan Khusus Maknai Hari Kebangkitan Nasional

"Tujuan kita agar anak dapat mandiri dan melanjutkan pendidikan tinggi, dan bekerja seperti orang kebanyakan” kata Mulyono.

Begini Cara Sekolah Berkebutuhan Khusus Maknai Hari Kebangkitan Nasional
TRIBUN KALTIM / NALENDRO PRIAMBODO
Alfi (tengah), siswa berkebutuhan khusus asal SLBN Balikpapan, menyanyikan dua buah lagu berjudul I Have a Dream dan Laskar Pelangi di hadapan seluruh undangan, dalam perayaan Hari Kebangkitan Nasional dan Talk Show Hari Peringatan Autisme di SLBN Balikpapan, Sabtu (20/5/2017) 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Ada banyak cara memaknai dan merayakan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh setiap tanggal 20 Mei.

Mulai dari pawai arak-arakan, apelm hingga diskusi. Di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Balikpapan, peringatan agenda nasional ini, Sabtu (20/5/2017), dilangsungkan dengan melakukan bincang dan menampilkan berbagai pertunjukan dari anak berkebutuhan khusus (ABK).

Menurut Ketua Panitia, Endah, tertundanya peringatan Hari Autisme yang seharusnya dilaksanakan di 2 April lalu, karena masih padatnya jadwal ujian.

Lebih dari itu, menurut perempuan yang akrab di sapa Mama Endah ini, Hari Peringatan Autisme dan Hari Kebangkitan Nasional memiliki hubungan erat.

Kata Endah, kebangkitan nasional tidak bisa diartikan kecil hanya soal nasional, karena di dalamnya juga ada anak-anak berkebutuhan khusus dengan segala keterbatasan dan hambatan yang harus d dorong untuk bangkit dan melakukan hal lebih.

“Oleh karena itu, kita ambil tema ‘We Can More’. Dibalik keterbatasannya, mereka pasti memiliki kemampuan. Kalau mereka bisa bangkit, tentu akan jadi kebangkitan nasional juga,” tutur perempuan yang juga Ketua Forum Peduli Anak Balikpapan ini.

Pagi hari seluruh siswa diajak melakukan jalan santai, dilanjutkan dengan berbagai penampilan dari ABK seperti menyanyi, tarian daerah, sampai peragaan busana. Acara hari itu juga dimeriahkan dengan Talk Show Peringatan Hari Autisme.

Mulyono selaku Kepala Sekolah SLBN Balikpapan dan Syahrir selaku Pengawas SD dan Motivator Adiwiyata Balikpapan ditunjuk sebagai pembicara dalam acara hari itu.

Di kesempatan lain, Mulyono mengatakan dalam mendidik ABK orangtua tidak boleh terlalu over protektif. Cara seperti ini kata justru akan membuat si anak merasa dirinya lemah dan berbeda dengan orang lain.

Ia mencontohkan sederhana, sejak anak berangkat sekolah, orang tua harus mengajarkan si anak untuk memakai baju dan sepatu sendiri. Termasuk mengkondisikan agar anak disiplin dan tidak telat masuk sekolah.

Halaman
12
Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help