Opini

Mencemaskan, Jumlah Perokok Terus Meningkat

Sepanjang tahun lalu, konsumsi rokok dunia mencapai 5,8 triliun batang, 240 miliar batang (4,14 persen) di antaranya dikonsumsi oleh perokok Indonesia

Mencemaskan, Jumlah Perokok Terus Meningkat
kontan.co.id
Ilustrasi - rokok 

Rizqi Elviah,S.ST
Statistisi Muda - Bidang Statistik Sosial
BPS Provinsi Kalimantan Timur
email : rizqie@bps.go.id

Rokok merupakan salah satu produk yang cukup unik (terutama cara mengonsumsinya) karena produk ini memberikan kepuasan kepada konsumen melalui asap yang dihasilkan dari pembakaran tembakau dan campuran lainnya, yang dihisap ke mulut. Aktivitas merokok seringkali kita jumpai di tempat umum seperti pasar, terminal, warung makan, bahkan perkantoran. Rokok telah menjadi salah satu produk pemuas kebutuhan konsumennya.
Statistik konsumsi rokok dunia pada 2014 kembali meneguhkan posisi Indonesia sebagai salah satu negara konsumen rokok terbesar sejagat. Sepanjang tahun lalu, konsumsi rokok dunia mencapai 5,8 triliun batang, 240 miliar batang (4,14 persen) di antaranya dikonsumsi oleh perokok Indonesia. Angka konsumsi rokok ini menempatkan Indonesia sebagai negara pengonsumsi rokok terbesar ke empat dunia setelah China (2,57 triliun batang), Rusia (321 miliar batang), dan Amerika Serikat (281 miliar batang) (Koran Tempo, 30 September 2015).
Perilaku merokok menurut penelitian Komasari dan Helmi pada tahun 2006 (Faktor-faktor Penyebab Merokok Pada Remaja) melalui empat tahapan. Pertama, Tahap Prepatory yaitu seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat atau dari hasil bacaan, hal-hal ini dapat menimbulkan minat untuk merokok. Kedua, Tahap Initiation atau tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan atau tidak terhadap perilaku merokok. Ketiga, Tahap Becoming a Smoker yaitu apabila seseorang sudah mengkonsumsi rokok sebanyak empat batang perhari. Keempat, Tahap Maintenance of Smoking pada tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan diri.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada bulan Maret 2016 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Timur didapatkan hasil bahwa perokok di Kalimantan Timur yang berusia 5 tahun keatas mencapai 19,78 persen atau sekitar 628 ribu penduduk. Dapat dikatakan bahwa diantara 100 orang, terdapat 20 perokok. Rokok yang dikonsumsi dalam seminggu rata-rata mencapai 103 batang, atau dengan kata lain berkisar 15 batang per hari. Angka ini hanya sedikit bergeser dibanding tahun sebelumnya. Dari hasil Susenas Maret 2016 juga menunjukkan penduduk usia 5 tahun keatas yang dulu pernah merokok dan sekarang sudah berhenti merokok hanya sebesar 1,92 persen atau sekitar 61 ribu orang.
Menurut WHO tipe perokok dibagi tiga, yaitu perokok ringan yang merokok 1-10 batang perhari. Perokok sedang yang merokok 11-20 batang perhari, dan perokok berat yang merokok lebih dari 20 batang perhari. Secara umum perokok di Kalimantan Timur masuk dalam tipe perokok sedang.
Dikaitkan dengan pengeluaran penduduk, yang juga merupakan salah hasil dari Susenas 2016, pengeluaran untuk rokok mencapai 77 ribu rupiah perkapita sebulan atau sekitar 13,14 persen dari total pengeluaran untuk kelompok makanan. Hal ini menempati urutan kedua setelah pengeluaran untuk konsumsi makanan dan minuman jadi, serta mengalahkan pengeluaran untuk padi-padian yang menempati urutan ketiga. Hal yang cukup menarik, pada struktur pengeluaran penduduk untuk kelompok non makanan, khususnya biaya pendidikan yang meliputi biaya untuk sumbangan sekolah, SPP, iuran POMG, iuran sekolah lainnya, buku pelajaran, fotokopi, alat tulis serta biaya kursus hanya sebesar 37 ribu rupiah perkapita sebulan. Angka ini hanya berkisar separuh dari biaya yang dikeluarkan untuk rokok, atau dengan kata lain biaya yang dikeluarkan untuk rokok sebesar dua kali lipat dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan. Adapun biaya kesehatan yang meliputi biaya rumah sakit, praktek dokter, pengobatan tradisional, penolong persalinan, biaya obat, alat kesehatan, periksa hamil, imunisasi, KB, serta biaya pemeliharaan kesehatan lainnya sebesar 26 ribu rupiah perkapita sebulan. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk rokok mencapai tiga kali lipat dari biaya untuk kesehatan.
Peraturan Pemerintah No. 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan adalah amanat dari Undang-Undang No 36 tahun 2009, tentang Kesehatan. Peraturan ini secara terperinci mewajibkan produsen rokok mencantumkan bahaya merokok dalam kemasan, gambar dampak buruk merokok, kandungan tar dan nikotin, hingga pemasangan iklan rokok dan penetapan kawasan tanpa rokok.
Mengingat bahaya yang ditimbulkan oleh rokok, tidak hanya bagi perokok namun juga bagi orang di sekelilingnya, tentunya menjadi harapan banyak pihak baik masyarakat luas maupun pemerintah bahwa tingkat konsumsi rokok kedepannya akan semakin menurun. Momen Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada tanggal 31 Mei bertujuan menyerukan para perokok agar tidak merokok (menghisap tembakau) selama 24 jam serentak di seluruh dunia serta untuk menarik perhatian dunia mengenai menyebarluasnya kebiasaan merokok dan dampak buruknya bagi kesehatan. Masih banyak keperluan lain yang lebih membutuhkan perhatian guna peningkatan kualitas sumber daya manusia kedepannya, diantaranya adalah pendidikan dan kesehatan. Bagi para perokok, siapkah Anda berhenti merokok demi generasi yang lebih baik. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved