Opini

Konsumsi Rokok Lebih Besar Daripada Biaya Pendidikan

Hasil dari survei ini juga menunjukkan bahwa kelompok umur perokok dominan pada umur 18 tahun ke atas dengan angka 98,1 persen

Konsumsi Rokok Lebih Besar Daripada Biaya Pendidikan
KOMPAS.COM/AMIR SODIKIN
Rokok kretek 

Indah Cahyani,S.ST
Staf Statistik Kesra- Bidang Statistik Sosial
BPS Provinsi Kalimantan Timur
email : indahcmt@bps.go.id

Kebiasaan merokok merupakan kebiasaan buruk yang dapat merugikan tidak hanya perokok aktif namun juga bagi para perokok pasif. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, rokok adalah salah satu produk tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar dan dihisap dan/atau dihirup asapnya, termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotiana tabacum, nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintetisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan tambahan. Dampak dan bahaya rokok sudah banyak dikampanyekan akhir-akhir ini, tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia. Dilansir dari laman Global Youth Tobacco Survey (GYTS) World Health Organization tahun 2014, menyatakan bahwa Indonesia termasuk dalam lima besar produsen daun tembakau serta sebagai negara dengan angka perokok remaja tertinggi di dunia. Hasil dari penelitian tersebut menyebutkan bahwa satu dari lima siswa usia 13 - 15 tahun adalah perokok. Selain itu, WHO dalam situsnya juga menyebutkan bahwa merokok tembakau telah membunuh lebih dari 7 juta orang per tahun.
Fenomena tersebut sangatlah mengkhawatirkan. Merokok menimbulkan gangguan kesehatan serta beban sosial ekonomi tidak hanya bagi perokok tetapi juga bagi orang lain terutama bayi dan anak - anak. Apalagi jika kita melihat keadaan di Indonesia sendiri. Kebiasaan merokok telah berakar dan menjamur. Tidak hanya orang dewasa, belakangan ini kita sering mendapat berita tentang anak - anak yang sudah mulai mencoba - coba merokok bahkan sejak duduk di Sekolah Dasar. Lalu bagaimanakah kebiasaan merokok penduduk di Provinsi Kalimantan Utara saat ini?
Dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2016 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik di Provinsi Kalimantan Utara, sebanyak 21,62 persen penduduk berusia 5 tahun keatas adalah perokok. Angka tersebut naik sebesar 0,3 persen dibandingkan dengan angka pada tahun 2015 yakni sebesar 21,32 persen. Sementara itu 20,11 persen penduduk yang merokok tembakau tersebut mengaku merokok tembakau setiap hari selama sebulan terakhir. Data menunjukkan bahwa perokok tersebut menghabiskan rata - rata 108 batang rokok dalam setiap minggu atau 15 batang per harinya.
Hasil dari survei ini juga menunjukkan bahwa kelompok umur perokok dominan pada umur 18 tahun ke atas dengan angka 98,1 persen. Sementara itu apabila ditinjau lebih lanjut dari sisi pendidikan, sebanyak 54,39 persen perokok berpendidikan tamat SMP ke bawah. Angka tersebut merupakan persentase terbesar apabila dibandingkan dengan lulusan SLTA maupun perguruan tinggi. Sedangkan apabila ditinjau dari pekerjaan, persentase terbesar perokok bekerja pada sektor pertanian yakni sebanyak 37,62 persen.
Dengan melihat kebiasaan merokok tersebut, bagaimana dengan keadaan konsumsi rokok oleh penduduk di Provinsi Kalimantan Utara? Apakah adiksi rokok dapat mengalihkan biaya belanja makanan serta pendidikan untuk membeli rokok?
Jika dilihat lebih lanjut pada tingkat konsumsi perkapita dari hasil SUSENAS 2016, nilai konsumsi rokok menduduki jumlah konsumsi terbanyak ketiga terbesar setelah kelompok makanan/minuman jadi dan kelompok padi-padian yakni 15% dari total rata-rata pengeluaran kelompok makanan per kapita sebulan. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk rokok sebesar Rp 83.650,-. Sedangkan apabila dilihat dari pengeluaran non makanan, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk biaya sekolah/kursus (meliputi biaya untuk sumbangan sekolah/uang pangkal, SPP, iuran BP3/POMG, iuran sekolah lainnya, buku pelajaran, fotocopy bahan pelajaran, alat-alat tulis serta uang kursus) sebesar Rp 27.266,-. Biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pendidikan ternyata jauh lebih kecil dibandingkan biaya untuk konsumsi rokok. Atau dapat dikatakan bahwa orang lebih memilih mengonsumsi rokok daripada membayar biaya pendidikan.
Sebenarnya fenomena tersebut sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Namun apakah tepat apabila fenomena ini tidak ditindaklanjuti? Biaya yang digunakan untuk membeli rokok tersebut bisa digunkan untuk menunjang biaya pendidikan atau menunjang biaya konsumsi makanan lain yang lebih sehat. Pemerintah sudah berkali-kali mencarikan solusi mengenai fenomena ini namun belum berbuah maksimal. Dilansir dari detik.com, pemerintah berencana untuk tidak menanggung penyakit yang ditimbulkan akibat merokok. Dalam Perpers No. 111 tahun 2013 pasal 25 disebutkan bahwa hal-hal yang tidak dijamin dalam program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) adalah gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri sendiri atau akibat melakukan hobi yang membahayakan dan kedepannya merokok akan dimasukkan dalam kelompok "sengaja menyakiti diri sendiri". Untuk itu diharapkan pemerintah daerah bisa lebih giat lagi mengkampanyekan kerugian yang ditimbulkan akibat kebiasaan merokok.(*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved