Opini

Menanti Langkah Berani Partai-Partai Islam di Pilgub Kaltim

Ketiga Partai tersebut di kategorikan sebagai partai Islam dikarenakan beberapa faktor

Menanti Langkah Berani Partai-Partai Islam di Pilgub Kaltim
TRIBUN KALTIM / MARGARET SARITA
Ilustrasi Kotak Suara 

Erlyando Saputra
Ketua Umum Badko HMI Kaltim-Tara
saputra_erlyando@yahoo.com

Mencermati langkah Partai Partai Islam tetaplah menarik, pasca Pilkada DKI semua yang berhubungan dengan Islam politik kian asik diperbincangkan.
Walaupun tidak semuanya memiliki sisi kesamaan tapi sebagai sebuah cerita sukses patutlah diceritakan episode berikutnya.
Setidaknya partai-partai yang relatif sering di labeli dengan partai Islam adalah PPP, PKB dan PKS. Ketiga Partai tersebut di kategorikan sebagai partai Islam dikarenakan beberapa faktor, antara lain isu-isu yang dibawa, ideologi partai, maupun kedekatannya dengan Ormas keagamaan tertentu sebagai basis kultural.
Bagaimana pada konteks Pemilihan Gubernur Kalimantan Timur? Sejauh apa nyali partai-partai Islam di Kalimantan Timur. Jika melihat perkembangan yang terjadi dalam kontestasi pilgub Kaltim, kita melihat belum ada gerak strategis yang di lakukan oleh Partai-Partai Islam di Kalimantan Timur, baik PPP, PKB maupun PKS.
Malah boleh dikatakan terjadinya kekosongan kader sebagai figur yang akan di usung sebagai Calon Gubernur Kaltim.
PPP dan PKB justru membuka pendaftaran Calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Penjaringan tersebut dilakukan untuk menjaring nama-nama yang kemudian akan diolah di partai, kemudian diputuskan akan di dorong sebagai kontestan Pilgub Kaltim dengan pertimbangan pertimbangan khusus. Berbeda dengan PKS, PKS masih bisa dinilai lebih baik dalam memantapkan pilihan politiknya di awal, PKS tidak membuka pendaftaran Calon Gubernur. Sepertinya PKS sudah menyiapkan kandidatnya yang banyak disebut adalah H.Hadi Mulyadi Anggota DPR RI asal PKS dapil Kaltim.
H.Hadi Mulyadi sama sama kita tahu merupakan Calon Wakil Gubernur Kaltim yang sempat mendampingi H,Achmad Amins pada Pilgub Kaltim tahun 2008, cukup signifikan kala itu karena berhasil memasuki putaran kedua Pilgub kaltim tahun 2008.
Jika mencermati jumlah kursi partai partai Islam di DPRD Provinsi Kalimantan Timur, PPP 3 kursi, PKB 4 kursi dan PKS 4 kursi. Kebutuhan kursi untuk melanggengkan Calon Gubernur Kaltim adalah 20 % suara dari total pemilih atau 11 kursi di DPRD. Mengingat prasyarat tersebut tentu semua Partai harus berkoalisi, terhitung hanya Partai Golkar yang bisa meloloskan kandidatnya tanpa koalisi, Partai Golkar adalah pemenang Pileg 2014, di DPRD Prov. Kaltim Partai Golkar menorehkan 13 kursi. Sehingga Partai Golkar secara otomatis bisa mencalonkan seorang diri.kandidatnya.
Walau politik sering dikatakan dinamis, namun membangun kepercayaan diri partai menjadi sangat penting. Beberapa partai politik yang secara terang terangan dan percaya diri telah menyorong kadernya sebagai calon Gubernur Kaltim, antara lain; Partai Golkar dengan yakin mengusung Hj. Rita Widyasari, Ph.D Bupati Kutai Kartanegara, Partai Demokrat dengan percaya diri mengusung H.Syaharie Jaang Walikota Samarinda dan Gerindra dengan mantap mengusung H.Yusran Aspar Bupati Penajam Paser Utara (PPU).
Peta politik tersebut tidak akan banyak berubah, bisa di bilang partai Islam akan kehilangan momennya dan puas sebagai pengusung apabila tidak pandai pandai mengambil sikap politik di awal, sikap politik tersebut menjadi nilai tersendiri yang akan di lihat oleh partai lain, kecuali memang hanya berharap dari keberuntungan politik melalui skema kawin paksa, menunggu kandida- kandidat terjepit soal kebutuhan dukungan kursi sebagi pengusung, baru selanjutnya memaksakan kadernya untuk menjadi pendamping atau wakil gubernur. Sah sah saja pola demikian namun akan jauh dari cerita sukses.
Seperti kata pepatah ‘When The Going Gets Tought the Tough Get Goings” artinya ketika situasi berubah menjadi sulit atau kurang baik, maka mereka yang kuat akan bekerja lebih giat untuk dapat menghadapi tantangan yang ada. Jika di ambil pelajaran dari pepatah bijak tersebut secara sederhana hanya mereka yang menyiapkan diri yang akan siap. Pertarungan Pilgub 2018 akan di isi oleh kandidat-kandidat yang sudah mempersiapkan diri 5-10 tahun kebelakang, maka tidak heran nama nama yang ramai di bincangkan adalah mereka yang sudah berinvestasi politik dan memiliki modal kekuasaan di Kabupaten/Kota sebagai Walikota ataupun Bupati.
Langkah berani sebenarnya pernah ditunjukan PPP pada Pilgub 2013, disaat 10 Partai Politik mengusung Petahana Gubernur H.Awang Faroek Ishak dan Mukmin Faisal, PPP duet PDIP mengusung mengusung H.Farid Wajdjy dan Sofian Alex, langkah berani tersebut PPP berani keluar dari 10 arus Partai Partai besar yang kala itu terkapitalisasi solid mendukung Pak Awang.
Untuk PKB sendiri pada periode kali ini (Pileg 2018) bisa dikatakan adalah era kebangkitan di level Kalimantan Timur, pada Pilgub 2013 yang lalu PKB belum memiliki kursi di karang paci (sebutan kantor DPRD Prov.Kaltim). kondisi tersebut terjadi akibat dinamika di tingkat pusat yang berimbas kedaerah-daerah termasuk Kaltim, yang memaksa berlangsung regenerasi kepemimpinan yang cepat. Pada Pileg 2014 di Kaltim PKB berhasil melakukan bukti konsolidasi organisasi yang jitu terbukti 4 kursi di karang paci berhasil di peroleh partai berlambang bola dunia ini.
PPP dan PKB kita ingat sudah melakukan Manuver di tahun 2016, ketika bersama sama Nasdem dan Partai Demokrat mendeklarasikan H. Syaharie Jaang sebagai Calon Gubernur Kaltim, publik politik cukup dikagetkan dengan keputusan yang masih sangat pagi tersebut, namun tentu ada pertimbangan khusus yang melatarbelakangi sikap tersebut, diperjalanan ternyata deklarasi tersebut belum memiliki masa depan yang manis, mungkin ada kesepakatan-kesepakatan yang belum bisa di penuhi,atau bisa jadi satu bentuk manuuver untuk melihat respon pihak pihak yang berkepentingan.
Jika saja PPP, PKB dan PKS bergabung maka bisa di pastikan kursi cukup untuk mengusung Calon Gubernur Kaltim, maka partai-partai Islam tersebut akan memiliki nilai bargaining tinggi untuk menentukan langkah berikutnya, tinggal apakah calon yang diusung memiliki insentif electoral yang tinggi, kedikenalan yang memadai dan punya sisi sisi yang mampu di jual sesuai harapan publik. Persoalannya kemudian ada di PKS dalam membangun koalisi, karena karakter politik PKS sering kali cukup unik, mereka (PKS) sering hadir dengan tawaran –tawaran tertutup, misalnya sudah membawa kandidat sendiri dan tidak ada alternatif lain sebagai jalan tengah, selain itu PKS sering kali bersikap di akhir dengan melihat besarnya arus dukungan pada kandidat tertentu. Akibatnya agak sulit membangun koalisi dengan model seperti ini, apalagi jika kandidat yang dihadapi punya dukungan politik kuat dan survey elektoralnya sangat tinggi. Seringkali ketinggalan kereta artinya tidak pada barisan inti, kalaupun sebagai pengusung bukan pengusung utama.
Jika koalisi PKS, PPP dan PKB agak susah terbangun, maka masih ada satu kartu hidup dari partai Islam yang hari ini lebih dikesankan sebagai partai nasionalis, yaitu Partai Amanat Nasional. 4 kursi di DPRD Kaltim adalah modal besar yang di miliki PAN Kaltim untuk ikut berbicara lebih lantang. Walaupun PAN Kaltim memiliki masalah yang sama soal siapa kader yang punya peluang untuk di majukan. Pada akhirnya Apakah koalisis-Koalisi partai-partai Islam itu bisa terbangun , hanya waktu dan petinggi-petinggi partai politik yang bisa memastikan. Apakah Islam politik akan hadir pada Pilgub Kaltim, kita tunggu langkah-langkah berani partai- partai Islam. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved