Opini Hari Lingkungan Hidup

Anak-anak Kaltim Berjuang untuk Masa Depan (yang Tidak Pernah Ada?)

Mari kita cegah agar anak-cucu kita tidak mewarisi lingkungan hidup yang porak-poranda, sumber daya alam yang terkuras habis, infrastruktur yang buruk

Anak-anak Kaltim Berjuang untuk Masa Depan (yang Tidak Pernah Ada?)
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Jalan Merdeka Samarinda mengalami banjir. Banjir semacam ini kerap kali timbul ketika hujan mengguyur, meski kadang tidak terlampau lama. Kalimantan Timur kini menghadapi persoalan lingkungan yang serius akibat eksploitasi sumberdaya alam secara masif. 

Memperingati Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2017

Anak-anak Kaltim Berjuang untuk Masa Depan (yang Tidak Pernah Ada ?)

Oleh Bernaulus Saragih

PhD Environmental Economics

Bernaulus Saragih PhD
Bernaulus Saragih PhD 

Saya teringat akan film Hollywood yang berjudul The Day after Tomorrow yang menceritakan tentang terjadinya fenomena anomali cuaca global, dimana bumi mengalami proses pendinginan sehingga fenomena penutupan es terhadap kulit bumi terjadi. Drop suhu udara yang ekstrim tidak saja merusak dan memusnahkan infrastruktur juga menewaskan jutaan manusia dan menenggelamkan peradaban manusia khususnya untuk negara-negara dibelahan Utara bumi.

Film tersebut mengisahkan bagaimana kiamat terjadi karena bumi kembali tertutup oleh lapisan es sebagai konsekwensi dari perubahan iklim akibat ulah manusia yang telah merusak lingkungan. Dalam situasi yang kacau balau tersebut dicuplik kisah sebuah keluarga tengah berjuang untuk membesarkan dan mendidik anak mereka yang sedang duduk dibangku sekolah, yang haus akan kasih sayang orangtua, karena kedua orangtuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing membuat si pemuda tersebut melakukan tindakan yang membuat kedua orangtuanya marah, yaitu dengan tidak mengerjakan soal ujian akhir sekolahnya yang akhirnya dia dinyatakan tidak lulus oleh sekolah.

Ditengah ketakutan akan situasi yang sedang dihadapi karena perubahan cuaca yang sangat menakutkan menjadikan persoalan kelulusan sekolah sipemuda tersebut tidak menjadi penting lagi bagi keluarga karena apalah artinya nilai atau kelulusan jika tidak memiliki masa depan. Mengutip dialog, pemuda tersebut berkata kepada ayahnya, "untuk apa berjuang untuk masa depan yang tidak pernah ada”, karena kita sedang menghadapi kiamat.

Penggundulan hutan di Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur untuk perkebunan kelapa sawit
Penggundulan hutan di Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur untuk perkebunan kelapa sawit (MONGOBAY/TELAPAK)

Cerita di atas saya jadikan sebagai illustrasi pengantar untuk melihat bagaimana pemuda-pemudi kita, khususnya yang berdiam atau akan mengisi masa depannya di bumi Kalimantan. Pertanyaannya nyaris sama saja apakah masih ada masa depan bagi mereka di bumi Kalimantan? Sehingga mereka setiap hari harus kita jejali atau persiapkan dengan berbagai macam kegiatan pendidikan dan kurikulum disekolah dan rumah? Masa depan seperti apa yang sesungguhnya sedang kita (orangtua) janjikan kepada semua anak-anak kita sehingga kita dengan sekuat tenaga membekali mereka dengan pendidikan?

Atau dapatkah kita semua sebagai orangtua menjelaskan kepada anak-anak kita masa depan yang bagaimana sesungguhnya yang akan kita wariskan dan sedang persiapkan untuk mereka? Jangan-jangan kita semua juga tidak tau persis masa depan seperti apa yang hendak kita wariskan dan dengan apa kita wariskan? Apakah dengan kekayaan alam ? Apakah masih ada?, atau dengan kemajuan industri, ekonomi, atau utang yang bejibun?. Kita beri mereka jalan yang mulus untuk berlari menggapai masa depan tanpa kita tau apakah diujung perjalanan mereka adalah jurang, semak berduri, atau lautan api. Jangan-jangan kita sesungguhnya sedang menjanjikan masa depan kosong?

Tak seorangpun tau persis masa depan seperti apa yang akan diwariskan kepada anak-anak kita sekarang, tetapi jika kita bercermin dari sejarah dan proses pembangunan dan bagaimana pembangunan selama kemerdekaan ini dilakukan menjadikan kita sebagai orangtua yang tinggal dibumi Kalimantan wajar sangat khawatir jika anak-anak kita akan menghadapi masa depan yang sulit bahkan mungkin jauh lebih sulit dari orangtua-orangtua mereka sekarang, mengapa demikian?

Halaman
1234
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved